Ke Indonesia Kalau Mau Bebas Alergi!

Bersin-bersin, mata gatal dan berair atau sesak nafas. Itulah beberapa gejala alergi. Menurut dr. Oei H.D. pakar alergi di Den Haag, banyak orang Indonesia di Belanda jadi alergis. Ini kebanyakan terjadi di musim semi sampai akhir musim panas (Mei hingga Agustus).

“Alergi, sebetulnya keturunan, kalau ada orang bakat alergi, di Indonesia dia tidak menderita hay fever tapi di Belanda iya. Sebabnya, di Indonesia tidak ada winter, spring, dan musim panas,“ kata dr Oei.

Gejala hooikoorts atau hay fever terjadi karena banyak serbuk rumput dan serbuk pohon berk yang berterbangan di udara. Karena suhu udara di Belanda yang tiba-tiba meningkat, semua tanaman tumbuh dengan cepat dan mengakibakan banyak serbuk di udara.

Serbuk ini terbawa angin dan dihirup manusia. Dengan menghirup udara, serbuk itu masuk ke tubuh, bereaksi dengan antibody lalu keluarlah apa yang disebut antihistamine. Itulah yang membuat orang bersin-bersin, mata gatal-gatal atau sesak nafas.

Jenis alergi
Kepada Radio Nederland, pakar alergi ini menjelaskan ada 4 tipe alergi. Tipe 1 adalah bersin-bersin akibat rumput atau serbuk lain. Reaksi ini cepat. Dalam 5 sampai 30 menit setelah menghirup serbuk itu. Alergi terhadap shampo, nikel atau parfum itu adalah alergi tipe 4 yang timbul setelah 24 jam, penyebabnya adalah lymphocytes. Tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan.

“Kalau orang sering pakai shampo atau parfum, lama-lama dia bisa alergis. Delapan atau 24 jam setelah pakai itu dia bisa gatal-gatal kepala, muka atau badannya,”jelas dr. Oei HD. Ada juga alergi makanan. Kalau misalnya terlalu sering makan satu jenis buah, kemudian bisa alergis terhadap buah itu.

Di antaranya ada tipe 2. Alergi akibat transfusi darah misalnya. Si penerima darah bisa demam, bisa sakit bila transfusi darah tidak cocok. Tipe 3 misalnya adalah alergi unggas, antara lain terhadap burung dara. Ini bisa dialami oleh pemelihara burung dara.

Bisa sembuh
Menurut Dr. Oei alergi bisa disembuhkan, obat-obatan dewasa ini sangat bagus dan tidak ada efek samping. Selain minum obat bisa juga disembuhkan dengan memberi suntikan ekstrak rumput atau dengan tablet ekstrak rumput.

Ketika ditanya Radio Nederland, bernarkah makin banyak jumlah orang alergis? Ia menjawab: “Pasti, karena alergi itu turunan. Contohnya saya. Saya alergis, istri saya tidak. Kedua anak saya alergis. Orang alergis punya anak dengan orang tidak alergis, anaknya alergis.” Garis ini terus berlanjut.

Gen pembawa alergi lebih dominan ketimbang gen tidak pembawa alergi. Salah satu orang tua alergis, kemungkinan anak alergis 30 – 50%. Kalau keduanya alergis kemungkinannya 50 – 80%. Kalau kedua orang tua tidak alergis, kemungkinan anak alergis 0 -25%.

Gampang menguji alergi
Goreskan berbagai ekstrak dari serbuk sampai kotoran tungau pada kulit di tangan. Dalam 20 -25 menit kelihatan alergis atau tidak. Cara lain adalah dengan tes darah. Alergi makanan juga begitu, misalnya alergi kacang, telur dan susu. Alergi bisa hilang kalau sudah dewasa, tapi harus hati-hati.

Alergi kacang bisa fatal, orang bisa meninggal. “Anak kecil 2 atau 3 tahun yang alergis terhadap telur atau susu, nanti 6 atau 7 tahun alerginya berkurang, beri sedikit demi sedikit susu atau telur. Kalau alergi kacang harus hati-hati betul, bisa sesak nafas, gatal-gatal, bisa syok, tekanan darah tiba-tiba turun. Kalau tidak langsung diberi adrenalin bisa meninggal.”

Waspadai tungau
Banyak juga orang di Indonesia sering gatal-gatal atau sesak nafas. Apakah itu juga alergi? “Di Indonesia tidak ada alergi serbuk rumput atau pohon, tapi banyak sekali alergi terhadap house dust mite [debu halus penuh tungau–red],” jawab dr. Oei. Debu halus dari tungau kecil yang tidak kasat mata telanjang ini ada di tempat tidur.

Tungau-tungau itu makan sisik kulit kepala kita, mereka bersarang di tempat tidur selain juga di bantal. Jika ingin bebas dari gangguan itu, bisa menggunakan sarung bantal dan sarung kasur yang khusus terbuat dari polyurethane. Sarung itu membungkus rapat bantal, kasur dan selimut sehingga kotoran tungau tidak keluar. Allergy free cover, namanya.
Diterbitkan : 6 September 2011 – 4:11pm | Oleh Yanti Mualim (Yanti Mualim)

Kapankah Anak Belajar Bahasa Asing

Ada anggapan, semakin muda usia semakin mudah anak belajar bahasa daripada orang dewasa. Ada pula yang berpendapat, belajar bahasa asing sejak dini bukan jaminan. Sementara yang lain bilang, keberhasilan belajar bahasa asing sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan berkomunikasi dalam lingkungannya. Mana yang benar?

Belakangan ini aneka kursus bahasa asing, terutama Inggris, kian semarak. Tidak hanya untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Lembaga persekolahan pun tak mau ketinggalan zaman. Pengajaran bahasa Inggris yang semula hanya dikenal di tingkat SMTP, kini diberikan kepada siswa SD, bahkan murid Sekolah Taman Kanak-Kanak.

Fenomena seperti itu antara lain terpacu oleh obsesi orang tua yang menghendaki anaknya cepat bisa berbahasa asing. Mereka berpandangan, semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin mudah ia menguasai bahasa itu. Lalu, bagaimana pendapat para pakar bahasa?

Masa emas belajar bahasa
Beberapa pakar bahasa mendukung pandangan “semakin dini anak belajar bahasa asing, semakin mudah anak menguasai bahasa itu”. Misalnya, McLaughlin dan Genesee menyatakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa banyak kesukaran dibandingkan dengan orang dewasa.

Demikian pula Eric H. Lennenberg, ahli neurologi, berpendapat bahwa sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anak lebih lentur. Makanya, ia lebih mudah belajar bahasa. Sedangkan sesudahnya akan makin berkurang dan pencapaiannya pun tidak maksimal.

Dr. Bambang Kaswanti Purwo, ketua Program Studi Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, dalam tulisannya Pangajaran Bahasa Inggris di SD dan SMTP, menyebut bahwa usia 6 – 12 tahun, merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Alasannya, otak anak masih plastis dan lentur, sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagi pula daya penyerapan bahasa pada anak berfungsi secara otomatis.

Cukup dengan pemajanan diri (self-exposure) pada bahasa tertentu, misalnya ia tinggal di suatu lingkungan yang berbahasa lain dari bahasa ibunya, dengan mudah anak akan dapat menguasai bahasa itu. Masa emas itu sudah tidak dimiliki oleh orang dewasa. Namun, bukan berarti orang dewasa tidak mampu menguasai bahasa kedua (bahasa asing).

Lenneberg mengemukakan, orang dewasa dengan inteligensia rata-rata pun mampu mempelajari bahasa kedua selewat usia 20 tahun. Bahkan ada yang mampu belajar berkomunikasi bahasa asing pada usia 40 tahun.

Kenyataan itu tidaklah bertentangan dengan hipotesis mengenai batasan usia untuk penguasaan bahasa karena penataan bahasa pada otak sudah terbentuk pada masa kanak-kanak. Hanya saja lewat masa pubertas terjadi “hambatan pembelajaran bahasa” (language learning blocks). “Jadi, maklum bila belajar bahasa selewat masa pubertas, justru lebih repot daripada ketika usia lima belas atau lima tahun,” ujar Bambang.

Pada penguasaan bahasa pertama dikenal istilah “masa kritis” (critical period). Pada penguasaan bahasa kedua (bahasa asing) terdapat istilah “masa peka” (sensitive period). Berdasarkan penelitian Patkowski, masa peka penguasaan sintaksis bahasa asing adalah masa sampai usia 15 tahun.

Anak yang dihadapkan pada bahasa asing sebelum usia 15 tahun mampu menguasai sintaksis bahasa asing seperti penutur asli. Sebaliknya, pada orang dewasa hampir tak mungkin aksen bahasa asing dapat dikuasai. Lebih detail dipaparkan oleh peneliti lain.

Penelitian Fathman terhadap 200 anak berusia 6 – 15 tahun yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di sekolah di AS, menunjukkan bahwa anak yang lebih muda (usia 6 – 10 tahun) lebih berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) bahasa Inggris. Sedangkan pada anak lebih tua (11 – 15 tahun) lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan bentuk bahasa terkecil) dan sintaksisnya (susunan kata dan kalimat).

Masih tentang penguasaan aspek tertentu dari bahasa asing dalam kaitannya dengan faktor usia, Scovel menyebutkan, kemampuan untuk menguasai aksen bahasa asing berakhir sekitar usia 10 tahun. Sedangkan penguasaan kosa kata dan sintaksis, menurut catatannya, tidak mengenal batasan usia.

Pro-kontra periode kritis Masa ideal anak belajar bahasa bertolak dari apa yang disebut periode kritis bagi penguasaan bahasa ibu. Periode kritis sebenarnya masih berupa hipotesis bahwa dalam perjalanan hidup manusia terdapat jadwal biologis yang menentukan masa-masa kegiatan seseorang (Brown, 1994).

Periode kritis sering dihubung-hubungkan dengan proses pembelahan antara otak kiri dengan otak kanan. Hasil penelitian neurologis menyebutkan, pada usia menjelang dewasa, fungsi-fungsi kemanusiaan terbagi atas dua bagian. Fungsi intelektual, logika, analisis, dan kemampuan berbahasa berada pada otak bagian kiri.

Sedangkan fungsi yang berhubungan dengan emosi dan fungsi lain yang bersifat sosial dikendalikan oleh belahan otak kanan. Ketika memasuki proses pembelahan otak itulah, menurut para pakar anatomi bahasa, masa peka bahasa itu berlangsung. Setelah proses “penyebelahan” (lateralization) otak selesai, menurut hipotesis Lenneberg, perkembangan bahasa cenderung menjadi “beku”. Keterampilan dasar yang belum dapat dicapai pada masa itu (kecuali untuk artikulasi) biasanya akan tetap tidak sempurna.

Kapan tepatnya proses terjadinya masa pembelahan otak, masih terdapat ketidaksepakatan di antara para ahli.

Pandangan-pandangan yang berseberangan antara lain dikemukakan oleh Sorenson dan Jane Hill. Menurut penelitian Sorenson terhadap suku Tukaro di Amerika Selatan, menjelang usia dewasa masyarakat Tukaro paling tidak sudah menguasai dua atau tiga dari 24 bahasa yang biasanya mereka pergunakan.

Yang lebih mengherankan lagi, jumlah penguasaan bahasa itu malahan semakin banyak dan lebih sempurna ketika mereka menjelang usia tua.

Bukti lain.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap masyarakat Barat, Jane Hill berkesimpulan bahwa dalam perkembangan normal seseorang dapat mempelajari bahasa asing dengan sempurna, terlepas dari apakah ia berusia muda atau tua. Proses pembelahan otak, menurut Eric Lenneberg, terjadi sejak anak berusia dua tahun dan berakhir menjelang pubertas.

Sedangkan Norwan Geshwind berpendapat, pembelahan otak (periode kritis) usai jauh sebelum masa pubertas. Lebih ekstrem lagi pendapat Stephen Krashen, yakni proses pembelahan itu berakhir sewaktu anak berusia lima tahun. Dengan demikian, jelas bahwa hipotesis periode kritis tidak bisa dijadikan kriteria keberhasilan pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing.

Keberhasilan seseorang belajar bahasa asing, menurut Gardner dan Lambert, tidak tergantung pada kemampuan intelektual atau kecakapan bawaan berbahasa, tetapi sangat ditentukan oleh motif atau kebutuhan berkomunikasi dalam lingkungannya.

Bukan jaminan
Sejak masuk SD bahkan TK, anak sudah “dituntut” menguasai lebih dari satu bahasa; bahasa daerah dan Indonesia. Keduanya dipakai sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar-mengajar. Betapa beratnya beban mereka, bila kemudian masih ditambah lagi belajar bahasa Inggris. Empat bahasa harus mereka kuasai dalam satu periode, misalnya.

Kenyataan itu bukannya menambah cepat anak menguasai bahasa asing. Di samping akan menimbulkan beban psikologis, tak tertutup kemungkinan laju perkembangan bahasa daerah dan nasional anak pun malahan terhambat, atau justru merusak sistem-sistem bahasa yang terlebih dahulu dia kuasai.

Hal seperti itu tidak jauh berbeda dengan anak yang sedang belajar bola tangan. Sebelum ia mahir bermain bola tangan, lalu ditimpa lagi dengan permainan bola basket dan sepak bola. Pelatih tidak perlu heran apabila kemudian si anak memasukkan bola dengan tangan ketika bertanding sepak bola, atau menyundul dan menendang bola ketika anak bermain bola basket.

Jeperson jauh-jauh sebelumnya memperingatkan bahwa anak yang mempelajari dua bahasa tidak akan dapat menguasai kedua bahasa itu dengan sama baiknya. Juga tak akan sebaik mempelajari satu bahasa. Kerja otak untuk menguasai dua bahasa akan menghambat anak untuk mempelajari hal lain yang harus dia kuasai.

Perkembangan bahasa anak terganggu, baik dalam penggunaan kosa kata, struktur tata bahasa, bentuk kata, dan beberapa penyimpangan bahasa lainnya. Tidak terelakkan, dalam era global penguasaan bahasa Inggris hukumnya wajib. Siapa yang ingin luas pergaulan, sukses berbisnis, maupun menguasai ilmu pengetahuan mau tidak mau harus menguasai bahasa yang satu ini.

Namun, dalam penanaman kita dituntut sikap bijak dan tidak tergesa-gesa. Di samping perlu mempertimbangkan kemampuan anak, para orang tua hendaknya memperhatikan pula kepentingan anak akan penguasaan bahasa daerah dan nasional.

Kedua bahasa itu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari fungsi keseharian dan tanggung jawab sosial anak. Sebab itu, akan lebih baik bila bahasa Inggris atau bahasa asing lain diberikan setelah bahasa daerah dan bahasa nasional terkuasai secara mantap. Pengajaran bahasa asing dalam usia dini toh bukan jaminan mutlak keberhasilan berbahasa pada anak. (E. Kosasih, mahasiswa Pengajaran Bahasa pada Program Pascasarjana IKIP Bandung, dan A. Hery Suyono/ INTISARI)
http://my.opera.com/Boecharyst%20M.Kasim/blog/?startidx=10

Sisi Romantis Sultan Iskandar Muda

Dalam Hikayat Malem Dagang karya Teungku Chik Pante Geulima, ulama besar Aceh di Meureudu pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (16-07-1636 M) dikisahkan tentang sejarah penyerangan Sultab Iskandar Muda ke Semenanjung Tanah Melayu; Malaysia.

Hikayat ini meriwayatkan kisah perjalanan Iskandar Muda dalam ekspansi tersebut. Bermula dari keberangkatan dari Bandar Aceh ke Asahan lalu ke Johor dan Malaka. Deskripsi perjalanan itu digambarkan dengan apik oleh Tgk Chik Pante Geulima.

Menurut Ali Hasimy dalam buku Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah , terbitan Beuna, Jakarta (1983), hikayat itu mulai ditulis pada hari Senin, 27 Rakjab 1055 Hijriah (1645 M) pada masa Kerajaan Aceh dipimpin Ratu Safiatuddin.

Bait-bait hikayat itu ditulis dengan apik dengan bahasa tamsilan yang dalam. Seperti pada percakapan Raja Raden dengan Raja Siujud:

Siujud bungeh ngon amarah
mata mirah ban aneuk saga
tema jimariet Raja Siujud
nariet nyang jeuheut lee dibuka

digata Dalem tadong sinoe
habeeh ngon binoe ka gob tuka
kajok keungon nyan Putroe Phang
gata geupulang ri nyang waba

geutueng keugob nyan sambinoe
teuma keugantoe sang meuruwa
lah na geutem bri Putroe Aceh
tariseh-riseh gata bak raja

teuma seuot Raja Raden
urung gleh baten teungoh seutia
pakon adoe kamariet menuan
kakira kah han binasa

lom jisuot Raja Siujud
kafe laknat tan agama
bek lee kamariet tuha asee
kah tan malee tuha celaka

lom jiseuot Raja Raden
that gleh baten Allah karonya
pakon adoe kee kacarot
han katakot keu neraka?

Pada bagian lainnya digambarkan percakapan yang romantis penuh haru antara Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Phang, permaisurinya.

Meunoe neukheun roh geumeuhei
Po sambinoe ho ka gata
Hoka gata po sambinoe
Ta tren keunoe putroe muda

Laju neusuot tuan putroe
Nyoe pat kamoe po meukuta
Pakon tuanku neumeuhei kamoe
Toh salah proe penube sabda

Nyan ka hantom neuhei kamoe
Bak uroe nyoe peu bicara?
Peuteukeudi bak uroe nyoe
Neuhei kamoe putroe hina

Nyang keumeuhei tuan putroe
Hajat peugah drop ubak gata
Adak na untong ubak Allah
Hajat meulangkat u Djuhoo Lama (Johor-red)

Meungna Allah bri umu lanjut
Kuseutet siujud malee jiba
Kri ci nariet tuan putroe
Sira neumoe neuro ie mata

Ie mata ro that meualon
Ban ujeun tren di udara
Baro uroe nyoe tamupakat
Meusampee that putroe hina

Usai percakapan itu, Putoe Phang menangisi dirinya yang jauh dari orang tua dan sanak saudaranya. Ia menyesali suaminya, Sultan Iskandar Muda yang terlambat bermusyawarah dengannya untuk berangkat ke Semenanjung Melayu mengejar Raja Siujud.

Setelah Sultan Iskandar Muda memberi penjelasan, barulah Putroe Phang merelakannya. Syair berikutnya merupakan klimaks dari sisi romatis tersebut:

Adak tuanku neubeurangkat
Neukubah pat putroe hina
Meung goh meupat long neukubah
Karena Allah han kubri bungka

Pat tuanku long neukubah
Deelat lupah prang Malaka
Ampon tuanku deelat meukatoe
Kumat dijaroe bek tabungka

Meung han mupat neukubah kamoe
Aceh rugoe po meukuta
Teuma neusuot meukuta alam
Raja silahan ade raya

Gata kupujok putroe bak Allah
Sinan kukeubah jeut-jeut masa
Gata kupujok putroe bak tuhan
Roh awai phon judo kueh keu gata

Gata taduek lam meuligoe
Tuhan sidroe nyang peulara
Teuma suot tuan putroe phang
Putro jeunulang ahli bicara

Meunyoe neupeujok long bak Allah
Han kutheun langkah bah le neubungka
Adak neujok bak soe laen
Dilon han kutem po meukuta

Pada babak selanjutnya lebih mengharukan lagi, ketika Sultan Iskandar Muda hendak berangkat, menolak Putroe Phang mengantarnya ke pelabuhan:

Teuma jikheun tuan putroe
That bit raghoe bijaksana
Adak tuanku jadeh berangkat
Putro jak intat oh mieng kuala

Lom neumariet meukuta nanggroe
Bek hai putroe susah gata
Bek taintat po sambinoe
Taduek keudroe lam astana.

Berangkatlah Sultan Iskandar Muda ke Semenanjung Melayu untuk mengejar Raja Siujud. Putroe Phang sangat senang ketika suaminya pulang membawa Raja Siujud sebagai tawanan. Karena senang atas kepulangan Sultan Iskandar Muda, Putroe Phang mengadakan penyambutan yang menyerah. Tgk Chik Pante Kulu menggambarkan hal itu dalam bait berikut ini:

Jitot bude hana macam
Buet Putroe Phang ampeueng raja
Geutot bude geunta bumoe
Su meubunjoe sigala donya

Megah Siujud di dalam taloe
Potueh puwoe nanggroe Guha (Goa-red)
Rakyat jitron jeut-jeut nanggroe
Hana padoe habeh teuka.

Begitulah Tgk Chik Pante Kulu menggambarkan romantisme Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Phang melalui berbagai percakapan bersajak. Salah satu sisi dari beragam sisi hikayat Malem dagang.

Riwayat Kerajaan Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar muda dinobatkan sebagai sultan pada awal bulan april
tahun 1607 kepemimpinannya kerajaan aceh raya Darussalam diperintahkan
dengan sangat ketat, ini terbukti karena pada masa kepemimpinan beliau
seluruh para bangsawan kerajaan dikontrol dengan keras dan mereka
diharuskan ikut berjaga malam diistana setiap tiga hari sekali tanpa
memakai persenjataan alias tangan kosong…..

Setelah semua terkendali iskandar muda juga mengontrol serta memegang
kendali dalam produksi beras, sehingga pada saat kepemimpinan iskandar
muda Negara kerajaan aceh raya Darussalam merupakan pengekpor beras
keluar wilayah, bukan hanya itu ianya juga memperketat pajak kelautan
bagi kapal kapal asing yang berlabuh/singgah di daratan kekuasaan
beliau, serta mengatur kembali pajak perdagangan (pada saat itu
terdapat banyak sekali pedagang yang berasal dari luar asia yaitu
pedagang dari inggris dan belanda) seta pengaturan terhadap harta kapal
yang karam dikawasan perairan Negara kerajaan aceh raya Darussalam..

Dalam hal kemiliteran iskandar muda membangun angkatan perang yang
sangat kuat, Beaulieu (salah seorang peneliti/sodagar yang berada
dikerajaan aceh raya Darussalam pada masa itu ) membuat catatan bahwa
dalam hal kemiliteran terdapat beberapa kelompok pasukan yang dibagi
menjadi:

* pasukan darat (angkatan Darat) memiliki personel 40 ribu bentara(serdadu)

* Armada Laut (angkatan Laut) diperkirakan memiliki 100-200
kapal. Diantaranya:Kapal Yang berdiameter 30 meter dengan kapasitas
awak kapal 300-600 penumpang dengan dilengkapi 3 meriam

Bukan hanya itu saja sultan iskandar muda juga mempekerjakan
seorang yang berasal dari negeri belanda sebagai penasihat perang
kerajaan aceh raya Darussalam yang menggunakan dan mahir dalam taktik
peperangan ala negeri belanda dan perancis

Dengan perhatian beliau terhadap kemiliteran Negara kerajaan aceh raya
Darussalam banyak kemajuan dan keberhasilan yang diperoleh diantaranya:

Benteng deli dijebol oleh sedadu kerajaan aceh raya Darussalam dana beberapa kerajaan berhasil ditaklukkan seperti:

a. Kerajaan Johor (1613)
b. Kerajaan Pahang (1618)
c. Kerajaan Kedah (1619)
d. serta Kerajaan Tuah (1620)

Iskandar Muda wafat pada 27 Desember 1636. Setelah meninggalnya Sultan
Iskandar Muda, Aceh mengalami kemerosotan demi kemerosotan yang
menghasilkan bencana politik yang menyedihkan

Sultan Iskandar Muda

Snouck Hurgronje pernah menyatakan bahwa kisah tentang Sultan Iskandar Muda hanya dongeng belaka. Sayangnya, Horgronje hanya mendasari penelitiannya pada karya-karya klasik Melayu, seperti /Bustan al-Salatin/, /Hikayat Aceh/, dan /Adat Aceh/. Sejarah Aceh rupanya dipahami Horgronje secara keliru. Sebagai perbandingan, kita bisa membaca penelitian Denys Lombard, /Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda/ (1607-1636) yang di samping menggunakan sumber-sumber Melayu setempat (/Bustan al-Salatin/, /Hikayat aceh/, dan /Adat Aceh/), juga menggunakan sumber-sumber Eropa dan Tionghoa. Di samping kedua sumber itu, Lombard juga menggunakan kesaksian para musafir Eropa yang sempat tinggal di Aceh pada saat itu, seperti Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Penelitian Lombard bisa dikatakan mampu menyajikan fakta sejarah sesuai aslinya, dan itu berarti ia justru membalikkan tesis Horgronje. Lombard membuktikan bahwa masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda merupakan masa kejayaan yang sangat gemilang. Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan 1). Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun, mengacu pada /Bustan al-Salatin/, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar awal April 1607. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda tersebut ini dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi dengan tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda pernah menaklukan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias sejak tahun 1612 hingga 1625. Sultan Iskandar Muda juga sangat memperhatikan tatanan dan peraturan perekonomian kerajaan. Dalam wilayah kerajaan terdapat bandar transito (Kutaraja, kini lebih dikenal Banda Aceh) yang letaknya sangat strategis sehingga dapat menghubungkan roda perdagangan kerajaan dengan dunia luar, terutama negeri Barat. Dengan demikian, tentu perekonomian kerajaan sangat terbantu dan meningkat tajam. Dalam bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda menerapakan sistem baitulmal. Ia juga pernah melakukan reformasi perdagangan dengan kebijakan menaikkan cukai eksport untuk memperbaiki nasib rakyatnya. Pada masanya, sempat dibangun juga saluran dari sungai menuju laut yang panjangnya mencapai sebelas kilometer. Pembangunan saluran tersebut dimaksudkan untuk pengairan sawah-sawah penduduk, termasuk juga sebagai pasokan air bagi kehidupan masyarakat dalam kerajaan. Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon, ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu dipegang oleh Ratu Elizabeth 1. Melalui utusannya, Sir James Lancester, Ratu Elizabeth 1 memulai isi surat yang disampaikan kepada Sultan Iskandar Muda dengan kalimat: ?/Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam/?. Sultan kemudian menjawabnya dengan kalimat berikut: ?/I am the mighty ruler of the religions below the wind, who holds way over the land of Aceh and over the land of Sumatera and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset/ (Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam)?. Pada masa pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar. Di antaranya adalah Syiah Kuala sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut diibaratkan: /Adat bak Peutu Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala/ (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar Muda juga sangat mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama ini juga banyak mempengaruhi kebijakan Sultan. Kedua merupakan sastrawan terbesar dalam sejarah nusantara. Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena sudah tidak ada anak laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaanya kemudian dipegang oleh menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Puteri Safiah (1641-1675), yang juga merupakan puteri dari Sultan Iskandar Muda. *2. Pemikiran* Sultan Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti. Pada saat berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh. /Pertama/, bidang hukum yang diserahkan kepada /syaikhul Islam/ atau /Qadhi Malikul Adil/. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat. /Kedua/, bidang adat-istiadat yang diserahkan kepada kebijaksanaan sultan dan penasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan. /Ketiga/, bidang resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong. /Keempat/, bidang qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh. Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira. Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf. Sultan Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan delapan perkara, di antaranya adalah sebagai berikut. /Pertama/, ia berwasiat kepada para wazir, hulubalang, pegawai, dan rakyat agar selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji yang telah diucapkan. /Kedua/, jangan sampai para raja menghina alim ulama dan ahli bijaksana. /Ketiga/, jangan sampai para raja percaya terhadap apa yang datang dari pihak musuh. /Keempat/, para raja diharapkan membeli banyak senjata. Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat. /Kelima/, hendaknya para raja mempunyai sifat pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat memperhatikan nasib rakyatnya. /Keenam/, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan al-Qur?an dan sunnah Rasul. Di samping kedua sumber tersebut, sumber hukum lain yang harus dipegang adalah /qiyas/ dan /ijma?/, baru kemudian berpegangan pada hukum kerajaan, adat, resam, dan qanun. Wasiat-wasiat tersebut mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan agama, rakyat, dan kerajaan. Hamka melihat kepribadian Sultan Iskandar Muda sebagai pemimpin yang saleh dan berpegangan teguh pada prinsip dan syariat Islam. Tentang kepribadian kepemimpinannya, Antony Reid melihat bahwa Sultan Iskandar Muda sangat berhasil menjalankan kekuasaan yang otoriter, sentralistis, dan selalu bersifat ekspansionis. Karakter Sultan Iskandar tersebut memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis. *3. Karya* Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris King James 1 pada tahun 1615 merupakan salah satu karyanya yang sungguh mengagumkan. Surat (manuskrip) tersebut berbahasa Melayu, dipenuhi dengan hiasan yang sangat indah berupa motif-motif kembang, tingginya mencapai satu meter, dan konon katanya surat itu termasuk surat terbesar sepanjang sejarah. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk keinginan kuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional betapa pentingnya Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia. Masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di samping kebijakan reformatifnya, juga ditandai dengan luasnya cakupan kekuasaannya. Pada masanya, wilayah Kerajaan Aceh telah mencapai pesisir barat Minangkabau dan Perak. *4. Penghargaan* Melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993, Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI serta mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana (Kelas II). Sebagai wujud pernghargaan terhadap dirinya, nama Sultan Iskandar Muda diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, misalnya sebagai nama jalan di Banda Aceh. Nama Iskandar Muda telah diabadikan sebagai nama Kodam-1

Sejarah Teuku Umar

1. Riwayat Hidup

Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki peran sangat besar terhadap perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Di tanah ini, banyak muncul pahlawan-pahlawan nasional yang sangat berjasa, tidak hanya untuk rakyat Aceh saja tapi juga untuk rakyat Indonesia pada umumnya. Salah satu pahlawan tersebut adalah Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899.

Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.

Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

2. Pemikiran

Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

3. Karya

Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

4. Penghargaan

Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Sumber:
Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006)

Sejarah Aceh

ACEH
Artinya: Arab, China, Eropa, dan Hindia

Dari judul di atas, setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertanyaan bagi kita yakni pertama, sejarah, perjuangan, dan bangsa Aceh. Tiga hal tersebut memang membutuhkan waktu yang lama untuk mengkaji atau mendiskusikannya. Sebab, sepengetahuan penulis, kajian tentang sejarah Aceh telah banyak ditulis baik itu oleh orang Aceh sendiri maupun orang luar. Misalnya, kajian H.M. Zainuddin,[1] Ibrahim Alfian,[2] Lee Kam Hing,[3] C. Snouck Hurgronje,[4] dan lain sebagainya.[5]

Karya-karya di atas, tentunya sudah pernah dibaca oleh kita semua. Karena itu, untuk menjelaskan sejarah perjuangan Aceh, nampaknya karya yang penulis kemukakan tersebut cukup membantu dalam memahami sejarah perjuangan bangsa Aceh. Apalagi, sekarang kondisi Aceh masih bergejolak. Karenanya, tujuan dari kajian kita pada bab ini adalah mencari titik-titik temu sejarah yang bisa dirakit kembali untuk perjuangan masyarakat Aceh. Dengan tujuan ini, diharapkan setiap rakyat Aceh punya kesadaran tentang sejarah yang tidak hanya untuk dijadikan bahan kebanggaan daerah, tapi juga bisa menciptakan sejarah yang pernah terjadi di tempoe doeloe. Dengan demikian, generasi yang sadar sejarah sangat diharapkan di era masa depan. Sebab, ketika sejarah tidak ditulis atau direduksi, maka sekian banyak kerugian yang diderita oleh suatu bangsa.[6]

Dalam konteks di atas, Taufik Abdullah menyatakan bahwa sejarah memang mempunyai arti ganda. Pertama, sejarah sebagai pengalaman empiris – sebagai sebagai peristiwa penting yang dilalui. Kedua, sejarah sebagai bagian dari kesadaran –ketika pengalaman itu telah diberi makna. Artinya, dari pengalaman empiris itu berbagai pesan dan pelajaran serta kebijaksanaan telah diambil.[7] Karena itu, Asvi Warman Adam berkesimpulan tentang fungsi sosial-politik dari sejarah tidak sama pada seluruh masyarakat di dunia. Ada yang berfungsi untuk mengkonsolidasikan persatuan dan kesatuan bangsa, ada pula yang bertujuan untuk menemukan jati diri suatu bangsa serta mencari “kebenaran” mengenai masa lampau, ada juga yang berperan untuk mencerdaskan warga negara.[8]

Dalam kerangka ini, kajian ini diajak untuk memahami sejarah perjuangan bangsa Aceh.[9] Sejarah sebagai konsolidasi yaitu dimana setiap kita menjadikan peristiwa masa lalu sebagai alat untuk mempersatukan bangsa Aceh. Sejarah sebagai penemuan jati diri adalah sejarah yang menggambarkan bangsa Aceh sebagai salah satu bangsa yang pernah jaya di panggung dunia, yang pada gilirannya aspek ini membentuk jiwa yang mampu menatap ke depan bukan ke belakang sebagai romantisisme yang malah bukan menemukan jati diri akan tetapi lupa diri. Sejarah sebagai alat pencerdasan merupakan sejarah yang menjadikan setiap pembacanya mengerti dan belajar dari peristiwa tersebut bukan untuk mengulangi. Sebab, sejarah hanya berlaku untuk ruang dan waktu tertentu yang karenanya sejarah tidak untuk dikenang-kenang tapi bagaimana sejarah bisa memenangkan perjuangan.

Keberhasilan Bangsa Aceh Tempoe Doeloe

Mengungkapkan keberhasilan suatu bangsa –khususnya Aceh– dalam tinjauan sejarah bukan hal yang sulit. Sebab, Aceh merupakan salah satu kawasan di Nusantara yang beruntung yang sejarahnya banyak ditulis oleh para peneliti. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari karya-karya di atas yang menunjukkan bahwa sejarah Aceh masih dan akan terus ditulis. Namun, mengambil intisari mengapa perjuangan bangsa Aceh dahulu bisa berhasil bukan pekerjaan yang mudah. Sebab, jika sejarah ditulis oleh lawan, maka sejarah tersebut tidak akan terlepas dari bias penulis itu sendiri. Sebaliknya, sejarah yang ditulis oleh pribumi cenderung menonjolkan kelebihan tinimbang kekurangan. Untuk lebih jelasnya, maka pembahasan sub-bagian ini akan dibagi ke dalam tiga aspek yaitu, politik, ilmu pengetahuan, dan agama.

1. Politik

Dalam bagian politik, munculnya kerajaan Islam di Aceh merupakan hal yang tidak dapat diabaikan oleh para generasi muda Aceh.[10] Secara kronologi, setidaknya ada lima kerajaan Islam di Aceh, yaitu Kerajaan Peureulak, Benua Tamiang, Kerajaan Islam Samudera Pasai, Kerajaan Islam Lamuri, dalam Kerajaan Islam Aceh.

Kerajaan Pereulak[11] merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh, bahkan di Indonesia. H. M. Zainuddin mencatat bahwa Kerajaan Peureulak adalah lebih tua dari kerajaan Tumasik (Singapura) dan Bintan, juga jauh lebih tua dari kerajan Pasai dan Melaka, yang mungkin sebaya dengan kerajaan Aru dan Palembang (Sriwijaya), bahkan lebih tua dari kerajaan Majapahit di pulau Jawa.[12] Sistem ketatanegaraan, menurutnya, masih primitif atau rezim bangsa Melayu sekarang, yaitu kepala negerinya disebut Radjo/Radja, bawahannya disebut Kedjuren dan Penghulu, tidak seperti tradisi di Pasai, Pidie, dan Aceh Besar.[13]

Di samping kerajaan di atas, Kerajaan Benua Tamiang yang mula tidak beragama Islam,[14] kemudian setelah takluk ke Samudera dan memeluk agama Islam, maka oleh Sulthan Pasai diangkatlah raja lain yang bernama Radja Muda Sedia, pengganti Radja Dinok yang tewas dalam peperangan melawan tentera Samudra Pasai.[15]

Corak pemerintahan kerajaan ini disebutkan ber “Balai” dengan susunannya sebagai berikut: pertama, Raja dibantu oleh seorang Mangkubumi yang mempunyai tugas sehari-hari mengawasi jalannya pemerintahan dan ia bertanggung jawab kepada raja (pada waktu Raja Muda Sedia, mangkubuminya ialah: Muda Sedinu). Pertama, untuk mengawasi jalannya pelaksanaan hukum oleh pemerintah atau lembaga-lembaga penegak hukum yang dibentuk, diangkat pula seorang Qadhi Besar. Di Tingkat pemerintah daerah terdapat pula; a) Datuk-Datuk Besar yang memimpin daerah-daerah kedatuan; b) Datuk-Datuk Delapan Suku yang memimpin daerah-daerah suku perkauman; c) Raja-Raja Imam yang memimpin di daerah-daerah dan sekaligus juga bertindak sebagai sebagai penegak hukum di daerahnya.[16] Kerajaan ini pernah diserang pada sekitar tahun 1351 M., oleh kerajaan Majapahit.

Lebih lanjut, kerajaan yang ketiga adalah Kerajaan Islam Samudera Pasai. Kerajaan ini berdiri sejak abad ke-XI M. atau tepatnya pada tahun 1042 (433 H). Dan sebagai pendiri serta Sulthan yang pertama dari kerajaan ini adalah Maharaja Mahmud Syah, yang memerintah pada tahun 433-470, atau bertepatan dengan tahun 1042-1078 M.[17] Untuk mengambarkan tentang kerajaan ini, laporan Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi nampaknya layak untuk disebutkan di sini:

Samudra Pasai adalah kerajaan yang bercorak Islam dan sebagai pemimpin tertinggi kerajaan berada di tangan Sulthan yang biasanya memerintah secara turun temurun. … di samping terdapat Sulthan sebagai pimpian kerajaan, terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), Seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Penglima Angkatan Laut yang lebih dikenal dengan gelar Laksamana, seorang sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syanbandar ini juga menjabat sebagai penghubung antara Sulthan dan pedagang-pedagang asing.[18]
Sebagai bukti kemegahan kerajaan ini, kedatangan satu Musafir dari Timur Tengah dapat dijadikan sebagai data sejarah yang tidak dapat diabaikan, yakni Ibn Battutah. Ibnu Bathuthah datang ke Aceh pada 1345. Sedangkan yang menjadi tempat tujuan Ibn Bathuthah adalah Kerajaan Samudera Pasai. Ketika Ibn Bathuthah singgah di Pasai selama lima belas hari dalam tahun 746/1345, menyaksikan Islam aliran Sunni telah berkembang pesat dan madzhab yang dianut Syafi‘i. Kehidupan kerajaan bergaya Persia. Diceritakan pula bahwa di antara orang-orang besar kerajaan yang menjadi anggota majelis sultan termasuk Amir Daulah yang berasal dari Delhi, Qadli Amir Said dari Syiraz dan ahli hukum Tajuddin dari Isfahan. Ibn Bathuthah melaporkan juga bahwa banyak orang besar kerajaan pernah bertemu dengannya di Delhi.[19] Ibnu Di Bathuthah juga melaporkan perjalanannya mengatakan bahwa dalam sebuah pengertian politis, Samudera adalah pos luar yang paling akhir dari Dar al-Islam. Sekalipun kota-kota lainnya di sebelah Selatan sepanjang pantai Sumatra telah mengembangkan dengan suburnya permukiman-permukiman komersial, tidak ada negara Muslim merdeka yang diketahui eksistensinya dimana pun di sebelah Timur Samudera sebelum pertengahan abad keempat belas.[20] Di Samudera Pasai bertemu dengan salah seorang perwira tinggi militer, yang ternyata sudah dikenalnya. Orang itu pernah berpergian ke Delhi beberapa tahun sebelumnya dalam rangka misi diplomatik bagi Samudera.[21]

Setelah Kerajaan Samudera Pasai di Aceh tepatnya di Pidie ditemukan Kerajaan Islam Lamuri. Meski masih simpang siur, kabar tentang kerajaan ini, berdasarkan penulis-penulis luar, kerajaan Lamuri sudah disebut-sebut oleh berita-berita Arab sejak pertengahan abad ke IX M. Seperti juga kerajaan Islam Sumadra Pasai yang berpola maritim dan Islam, maka kerajaan Lamuri yang juga hampir berpola sama tentunya juga mempunyai sistem dan lembaga-lembaga pemerintahan yang tidak jauh berbeda dengan kerajaan Islam Samudra Pasai.[22]
Terakhir, kerajaan Islam yang sampai sekarang masih dikaji adalah Kerajaan Islam Aceh. Pusat Kerajaan Aceh itu di Banda Aceh atau di Kutaraja sekarang ini yang mulai didirikan pada abd ke XV. Pada mulanya pusat pemerintahan Aceh terletak di satu tempat yang dinamakan kampung Ramni dan dipindahkan ke Darul Kamal oleh Sultan Alaudin Inayat Johan Syah (1408-1465) Kemudian memerintah Sulthan Muzaffar Syah (1465-1497. Beliaulah yang membangun kota Aceh Darussalam.[23]

Dari paparan di atas, yang ingin dikatakan bahwa bangsa Aceh telah lama menjadi bagian tersendiri dari kepulauan Nusantara. Walaupun demikian, jika data historis ini ditampilkan lagi sekarang, apakah bangsa Aceh akan bangkit seperti dulu lagi. Atau, sebaliknya justru malah mengalami kemunduran yang lebih parah dari sebelumnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka pada bagian selanjutnya akan diulas tentang perkembangan ilmu pengetahuan di Aceh. Tujuan yang hendak dicapai adalah untuk membandingkan semangat pencarian ilmu tempoe doeloe dengan sekarang.

2. Ilmu Pengetahuan

Sayang memang, daerah Aceh sekarang menjadi propinsi terbelakang dalam bidang pendidikan. Daerah ini dulunya menjadi tempat mencari ilmu pengetahuan, sekarang malah sebaliknya, dari Aceh banyak yang mencari ilmu ke luar daerah yang pada gilirannya mutu pendidikan di daerah semakin menurun drastis. Bagi kita, khsusunya penulis, pendidikan adalah bentuk perjuangan total masa sekarang dan yang akan datang di Aceh.

Bangsa Aceh telah lama menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan, khususnya studi Islam (islamic studies). Hampir setiap Raja di Aceh didampingi oleh para alim ulama. Di samping itu, lembaga pendidikan dayah[24] juga dapat ditemui di hampir seluruh daerah Aceh. Dayah di Aceh berfungsi 1) sebagai pusat belajar agama; (2) benteng terhadap kekuatan melawan penetrasi penjajah; (3) agen pembangunan; (4) sekolah bagi masyarakat.[25]
Oleh karena itu, tidak heran jika lembaga ini di Aceh menjadi pusat penggerak rakyat dalam berbagai bidang. Sebagai pusat belajar agama, dayah telah mendidik para calon ulama yang sampai sekarang masih dapat dilihat ditengah-tengah masyarakat. Menurut sejarah, para ulama yang datang dari Timur Tengah mengajarkan ilmu agama Islam di dayah-dayah. Atau, para teungku dayah pernah belajar pada seorang alim ulama dari Timur Tengah. Sebagai benteng pertahanan, dayah telah menoreh catatan sejarah tersendiri dalam lintasan berbagai peristiwa di Aceh. Bahkan pada waktu Kesultanan Aceh diserang Belanda, para ulama dengan gigih bertahan.[26]

Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dayah memegang peran yang cukup signifikan di Aceh. Jadi, jangan heran, jika sekarang ulama dan dayah di Aceh sering menjadi basis pertahanan Gerakan Acheh Merdeka. Hemat penulis, mereka mencontoh sejarah tempoe doeloe.

Selain dayah, di Aceh juga sangat terkenal dengan ulama yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, khususnya Islam. Nama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdur Rauf Singkeli, Nurdin Al-Raniri merupakan ulama yang sangat produktif menulis.[27] Melalui karya-karya mereka, Aceh dikenal sebagai tempat untuk mencari ilmu pengetahuan. Syekh Burhanuddin dari Ulakan, Pariaman adalah salah seorang ulama yang pernah belajar di Aceh. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pusat pencerahan ilmu pengetahuan di Indonesia di mulai dari Aceh.[28]

Kenyataan sejarah tersebut memang diakui oleh para peneliti sejarah. Namun sayangnya, sejarah tersebut tidak dapat diulangi oleh generasi selanjutnya. Setelah kedatangan Belanda dan diteruskan oleh pergolakan demi pergolakan di Aceh telah menyebabkan pencarian ilmu pengetahuan di Aceh mengalami kemunduran pada titik nol. Hal ini memang sangat berlebihan, tapi jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, kontribusi generasi Aceh terhadap peningkatan ilmu pengetahuan di Aceh sangat lamban. Hal ini disebabkan oleh gejolak di Aceh semenjak pasca kemerdekaan sampai dengan sekarang ini.

3. Agama

Di Aceh, agama (baca: Islam) menjadi sendi pokok dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua lapisan masyarakat selalu melandaskan pada agama Islam. Sehingga, kekuataan agama menjadi salah satu pendorong dalam perjuangan bangsa Aceh. Melalui agama, kerajaan juga bisa berkembang. Lewat agama juga, ilmu pengetahuan bisa mencapai kemajuan yang sangat berarti. Demikian, juga agama menjadi hukum bagi masyarakat Aceh.

Sebagai contoh, dua aspek di atas yaitu politik dan ilmu pengetahuan selalu mengedepankan Islam sebagai landasannya. Undang-undang Kerajaan Aceh hampir semuanya berdasarkan pada agama.[29] Untuk mengambarkan data sejarah yang nyata tentang peran agama di Aceh, dalam manuskrip kitab Tazkirah Thâbaqat Jumû‘ Sultân As-Salâtîn disebutkan bahwa:

“Syahdan ( ) maka ketahui oleh hai talib bahwa pada negeri Islam dalam seluruh dunia ini dari dahulu sampai sekarang hingga akan datang tiap-tiap kerajaan ( ) Islam hendaklah memegang tiga perkara pertama qanun syara‘ Allah kedua qanun syara‘ Rasul Allah ketiga qanun syara‘ kerajaan maka tiga macam ( ) seperti yang tersebut maka hendaklah memegang oleh sulthan-sulthan dengan teguh supaya negeri aman dan rakyat senang hidup dengan makmur ( ) wajib itu dua macam yang pertama wajib fardhu ain yang kedua wajib fardhu kifayah”.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa agama merupakan tiang pokok masyarakat Aceh. Karena itu, dengan semangat agama, semua persoalan di Aceh dapat diselesaikan. Dalam melawan penjajah, rakyat Aceh selalu melibatkan “agama di depan”. Tujuan yang hendak dicapai oleh agama adalah syahid.[30] Dan jika sudah syahid maka syurga adalah impian terakhir. Akibatnya, para syuhada di Aceh sangat banyak sekali. Ringkasnya, dengan ideologi jihad, kedatangan penjajah Belanda, menurut Azyumardi Azra, menjadi semacam “ rahmat terselubung”, bagi kelompok-kelompok etnis Muslim di kawasan ini.[31]

Pada saat yang sama, persoalan di Aceh juga selalu melibatkan agama. Misalnya, Gerakan Di/TII yang dipelopori oleh Daud Beureueh dalam Manifesto Pemberontak Aceh juga mengatasnamakan agama sebagai alasan gerakan tersebut. Untuk lebih lengkapnya mengenai teks manifesto tersebut, kami sebutkan di bawah ini:

“Atas nama Allah kami rakyat Aceh sudah membuat sejarah baru di atas persada tanah tumpah darah, kami berkehendak membentuk suatu Negara Islam.
Kami telah jemu melihat perkembangan-perkembangan atas dasar Negara Republik Indonesia, betapa tidak, sejak dahulu kami berharap, bercita-bercita negara berkisar atas dasar Islam, akan tetapi jangankan terujud apa yang kami idam-idamkan, malahan sebaliknya semakin hari tampak pada kami ada di antara pemuka-pemuka Indonesia mencoba membelok ke arah yang sesat.
… Jika pidana Tuhan tidak berlaku, itu berarti menyimpang dari Ketuhanan Yang Maha Esa.
Andaikan Undang-Undang Dasar R.I. sudah memberi jaminan kemerdekaan beragama c.q. Islam, sudah lama pula dapat berjalan hukum-hukum agama di tanah Aceh, yang rakyatnya 100 persen beragama Islam.
Malahan oleh Kejaksaan Agung sendiri pernah mencoba-coba mengeluarkan berkhotbah di mesjid atau di tempat-tempat lain yang katanya tempat agama, yang berisi politik, padahal bagi kami politik ialah sebagian dari agama yang kami anut, kalau boleh kami mengatakan bahwa Kejaksaan Agung ialah instansi resmi yang mula-mula mencoba menghalangi-halangi kami beragama, yang harus diminta pertanggung jawaban di hadapan Undang-Undang Dasar Negara dan di depan Tuhan, jika orang dari Kejaksaan Agung juga beragama Islam dan beriman kepada Tuhan.
…. Rasa sedih dan kesal ini memupuk keinginan kami untuk membentuk suatu Negara Islam. Andaikata orang menyalahkan kami, maka kesalahan itu harus mula-mulanya ditimpakan kepada pundak Sukarno sendiri.
Andaikata orang mengatakan pembentukan Negara Islam di Aceh berlawanan dengan hukum dan mengakibatkan kekacauan, kami akan mengatakan bahwa tindakan kami ini disebabkan oleh hukum yang kacau atau karena kekacauan hukum; tentu tidak heran; kekacauan akibat (karena) kekacauan hukum, tentu orang tidak dapat memperbaiki akibat sebelum ia sendiri memperbaiki asal pokok musababnya….”[32]

Jadi, di Aceh agama dijadikan standar dalam segala sisi kehidupannya. Jika sesuatu hal yang tidak bertentangan dengan agama, maka hal tersebut tidak akan dipermasalahkan. Begitu juga sebaliknya, jika ada masalah bertentangan dengan agama, maka nyawa sebagai taruhannya. Untuk itu, sejarah telah membuktikannya.

Pantulan Sejarah Terhadap Persoalan Aceh Sekarang

Dari uraian sejarah di atas, tampaknya gejolak di Aceh tidak lepas dari konteks sejarah. Karenanya, untuk menganalisa masalah Aceh, berikut ini akan diketengahkah beberapa titik balik sejarah Aceh yang sedikit banyak mengalami paradoks.

a) Setelah melihat kekuatan politik Aceh tempoe doeloe, maka hal yang pertama yang terjadi di Aceh adalah merosotnya kekuataan politik di Aceh, baik itu di kalangan rakyat baik di dalam maupun di luar Aceh. Dahulu, persatuan kerajaan Islam Aceh telah menyebabkan daerah ini mampu menguasai sampai ke Semenanjung Malaka. Sekarang setelah tidak adanya persatuan politik tentang kesadaran akan sebagai rakyat Aceh, persoalan yang terjadi tidak pernah terselesaikan. Indikasi yang menunjukkan ke arah tersebut nyata di depan mata. Dulu, rakyat Aceh mendapat bantuan dari berbagai kerajaan (negara) Islam. Sekarang setelah kekuatan politik lemah, tidak ada satu negara pun yang membantu Aceh.

Selain indikasi di atas, rakyat Aceh tidak pernah bersatu dalam satu ikatan. Dalam konteks ini, istilah lain adalah pengkhianat. Hampir seluruh perjuangan bangsa Aceh kandas di tangan pengkhianat. Para syuhada, kecuali gugur secara wajar, banyak juga yang wafat karena ulah pengkhianat. Watak ini sampai sekarang masih membekas. Para pengkhianat ini selalu melintasi sejarah Aceh.[33] Mereka terkadang secara terang-terangan menjual Aceh kepada penjajah atau juga dengan cara diam-diam. Adanya pengkhianat ini telah mengkandaskan perjuangan bangsa Aceh sejak zaman Belanda. Sejauh pengetahuan penulis, Teuku Chik Di Tiro meninggal setelah diracuni oleh seorang janda. Cut Nyak Dhien ditawan oleh Belanda karena diberitahu oleh salah seorang kawannya. Masih banyak bentuk pengkhianatan lain yang sampai sekarang membekas dalam benak rakyat Aceh.

Selain pengkhianatan, di Aceh juga terjadi “dendam sejarah” yang sampai sekarang masih api dalam sekam. Akibat dari “dendam sejarah”, tidak heran jika ada segolongan rakyat Aceh tidak punya keinginan menyelesaikan kasus Aceh. “Dendam sejarah” tersebut adalah “Peristiwa Cumbok”. Peristiwa ini, menurut Taufik Abdullah, “revolusi sosial” di Aceh. Inti dari “revolusi” tersebut banyak uleebalang yang menemui ajalnya, dan banyak pula harta mereka yang dirampas.[34] Efek dari peristiwa tersebut telah menyebabkan rasa persatuan di kalangan rakyat Aceh melentur sehingga sangat mudah dimasuki oleh “penjajah” model baru. “Penjajah” ini sangat paham akan kekuatan rakyat Aceh, sehingga yang pertama kali dikikis habis adalah rasa “memiliki” Aceh.

Orang Aceh Utara mengatakan bahwa dirinya adalah orang “paling” Aceh, sebab kawasan ini banyak industri vital. Begitu juga Aceh Pidie juga menyebutkan bahwa dirinya orang “paling” Aceh, karena dari daerahnya banyak muncul tokoh-tokoh penting dalam sejarah Aceh. Pada saat yang sama, orang Gayo yang tidak ingin disebut orang Aceh. Karenanya, mereka selalu menyebut dirinya “orang Gayo”.[35] Padahal dalam sejarah bangsa Aceh, persaingan tingkat inter-etnis lokal tidak pernah ada. Dahulu para pahlawan dalam bergerilya hampir menyisir seluruh bagian Aceh. Kenapa sekarang, ketika sudah merdeka kita membuat “kapling ideologi”. Sesungguhnya, hal tersebut tidak pernah terjadi dalam sejarah Aceh.

Kenyataan ini, adalah potensi yang menciptakan perpecahan di Aceh. Potensi tersebut dapat dibaca oleh “musuh” baik itu dari dalam maupun dari luar. Karenanya tidak heran jika sekarang peta pergerakan perjuangan di Aceh sangat beragam. Di tingkat lapangan ditemui GAM dengan rakyat. Di tingkat menengah dijumpai para mahasiswa dan aktivis LSM yang mempunyai beragam orientasi tentang persoalan Aceh. Di tingkat atas, para elit politik yang “bermain” di Jakarta, Aceh dan luar negeri.

GAM cenderung mendekati rakyat dengan pendekatan sejarah. Belum lagi persoalan GAM Cantoi[36] yang memeras rakyat. Di sini membuktikan rakyat Aceh belum matang dalam mempelajari politik. Memang jika semua kita membenarkan gerakan kita atas nama sejarah, maka sejarah yang mana yang kita harapkan dari masyarakat. Mengapa sejarah tersebut tidak dijadikan sebagai pusat kesadaran kolektif masyarakat. Maksudnya, jika menurut sejarah, bangsa Aceh berhasil mengapa keberhasilan tersebut tidak kita contoh. Apakah sejarah hanya untuk membangkitkan semangat tanpa program dan target yang nyata.

Hal yang sama juga terjadi pada para mahasiswa penggagas Referendum, yang menurut hemat penulis telah tidak bertanggung jawab dalam menggulirkan isu tersebut. Awalnya, isu tersebut bisa menjadi pendidikan politik masyarakat Aceh. Sayangnya istilah tersebut diartikan dengan merdeka. Kekeliruan ini tentunya dimanfaatkan oleh kalangan yang menginginkan Aceh tetap kacau. Secara istilah, referendum adalah penyerahan suatu masalah kepada orang banyak supaya mereka menentukan (jadi, tidak diputuskan oleh rapat atau oleh parlemen); penyerahan suatu persoalan supaya diputuskan dengan pemungutan suara umum (semua anggota suatu perkumpulan atau segenap rakyat). Dalam hal ini, referendum ada dua yaitu referendum fakultatif tidak wajib meminta pendapat secara langsung (bergantung pada putusan penguasa), misal penetapan undang-undang; referendum obligator kewajiban meminta pendapat rakyat secara langsung dalam mengubah sesuatu, misal perubahan konstitusional.[37] Dalam konteks tersebut, nampaknya sosialisasi referendum di Aceh telah mengalami kegagalan sehingga yang ditengarai oleh Jeda Kemanusiaan yang secara hukum tidak mengakhiri proses pembantaian di Aceh. Sekali lagi, kalangan yang mensosialisasikan referendum telah terjebak ke dalam makna “merdeka” sehingga rakyat mengharapkan referendum yang oleh mahasiswa sampai saat ini belum bisa direalisasikan. Namun demikian, usaha ke arah tersebut patut dihargai meskipun dengan beberapa catatan di atas.
Adapun para elit politik dapat dibagi ke dalam empat golongan.

Pertama, mendukung sepenuhnya dan secara lantang mensuarakan kehendak rakyat Aceh. Namun terkadang usaha mereka kandas di tengah jalan. Ada yang diculik, dibunuh dan dibantai. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah Aceh tidak pernah terselesaikan.
Kedua, mendukung tapi tidak memperlihatkan dukungannya. Biasanya dukungan tersebut muncul ketika menyimak berita tentang Aceh. Kelompok ini biasanya sangat dekat dengan orang Aceh, tapi tidak punya “kuasa” dalam pengambilan keputusan politik.

Ketiga, tidak mendukung sepenuhnya. Kalangan ini secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan pada rakyat Aceh. Mereka ada yang terdiri dari orang Aceh dan bukan orang Aceh. Orang Aceh yang dimaksud adalah mereka yang punya “dendam sejarah” dan telah menikmati hasil keringatnya yang tidak mau “diganggu”. Sedangkan orang luar Aceh merupakan orang-orang yang punya kepentingan di Aceh baik secara politik maupun ekonomi. Nampaknya faktor terakhir lebih dominan ketimbang faktor pertama.

Keempat, tidak mendukung penyelesaian kasus Aceh, namun tidak memperlihatkan ketidakinginannya. Mereka cenderung bermain di belakang layar. Tujuan yang hendak dicapai, adalah sama dengan kelompok ketiga, tapi mereka punya pilihan lain jika keinginan mereka tidak tercapai. Atau dengan kata lain, jika perjuangan rakyat Aceh berhasil, maka mereka akan ke pilihan lain.

b) Pendidikan Aceh telah merosot ke titik nadir. Dulu Aceh menjadi pusat studi di Asia Tenggara. Sekarang, malah sebaliknya, kita orang Aceh “hengkang” dari Aceh ke luar Aceh dan mutu pendidikannya sangat rendah. Di tambah lagi mutu SDM kita sangat rendah. Akibatnya, dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang tinggi tidak didukung oleh SDM yang memadai yang akhirnya hasil-hasil bumi Aceh banyak dinikmati oleh non-bangsa Aceh.

Hemat penulis, kekuatan pendidikan di Aceh, sekarang ini banyak dikikis habis. Bukti konkret adalah pembakaran sekolah-sekolah dan sibuknya mahasiswa Aceh dalam gejolak di Aceh. Sehingga dapat dibayangkan, satu generasi Aceh akan bodoh total. Ramalan ini bukan mengada-ada. Jika usia 7 tahun (2000) tidak sekolah atau tidak ada keamanan, maka umur 25 tahun (2018) sebagai usia produktif akan berkurang mutu pendidikan di Aceh. Bisa dibayangkan bagaimana sejarah masa depan Aceh nantinya. Semua aspek kehidupan sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan rakyat. Andai sejarah masa depan menjadikan bangsa Aceh merdeka, satu pertanyaan yang mungkin muncul yaitu bagaimana mutu pendidikan bangsa Aceh. Kita tentunya tidak ingin seperti Timor Timur. Begitu juga jika diberlakukan otonomi khusus, apakah bangsa Aceh siap mengelola hasil-hasil buminya.

Keraguan ini bukan tanpa alasan mengingat seluruh lapisan masyarakat Aceh telah melupakan pendidikan. Hampir semua bangsa Aceh melupakan faktor pendidikan, khususnya bagi generasi muda. Begitu juga, jika semua pemuda Aceh memanggul senjata atau demontrasi maka dapat dibayangkan pada tahun 2015, posisi Aceh dalam percaturan ilmu pengetahuan akan mundur ke belakang. Untuk itu, perlu dikembangkan lagi wajib belajar bagi mereka dan mau kembali membangun Aceh.

Kenyataan bahwa di Aceh terjadi pembodohan besar-besaran adalah bukan hal yang mesti dipungkiri. Sebab, cara pembodohan tersebut di Aceh sangat sistematis dan ini harus disadari oleh kita. Cara-cara tersebut adalah dengan membakar sekolah-sekolah, membantai para ulama,[38] dan membuat ketegangan di tengah-tengah masyarakat Aceh. Menurut sejarah, hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh Belanda ketika menjajah Aceh. Misalnya, dayah dibakar berikut kitab-kitabnya, ulama dibantai, masyarakat dibuat resah. Dengan demikian, dibutuhkan kesiagaan penuh untuk membangkitkan kembali pendidikan di Aceh.

Jika hal di atas, tidak menjadi perhatian kita, maka perjuangan bangsa Aceh akan sia-sia. Sebab, di era globalisasi yang akan berperan adalah teknologi dan ekonomi, di samping juga agama akan memegang peran yang signifikan.[39] Artinya, apabila bangsa Aceh ingin membuat sejarah lagi, maka tiga hal tersebut harus menjadi titik tekan dalam segala bentuk perjuangannya.
c) Agama tidak lagi menjadi perhatian dalam kehidupan di Aceh. Fenomena ini tidak sepenuhnya benar, namun arah kesana sudah nampak. Agama tidak lagi menjadi pertimbangan di Aceh. Nyawa, harta, wanita adalah hal yang biasa. Seorang yang membenci orang lain, nyawa adalah taruhannya. Hal ini memang telah terjadi sejak zaman penjajahan di Aceh. Dari waktu ke waktu, setiap nyawa pasti melayang di bumi ini. Bagi yang berjuang, nyawa adalah taruhan yang sangat cocok untuk mencapai kesyahidan. Dalam ini, agama adalah landasan. Tapi, bagi para “penjajah” nyawa adalah salah satu dari bentuk ”komando” yang harus dipatuhi.

Memang di Aceh akan berlakukan otonomi khusus yang diterjemahkan dengan semua urusan kecuali tiga urusan, yaitu hubungan luar negeri, pertahanan (keluar) dan moneter, diserahkan kepada Daerah (selanjutnya disebut Nanggrau Aceh Darussalam – NAD). Atau dalam bahasa Dzulkarnain Amin, Aceh memperoleh “kemerdekaan ke dalam”.[40]

Dengan demikian, peran agama akan sangat menentukan tentang bagaimana aplikasi dari otonomi khusus. Untuk itu, ulama, umara dan rakyat Aceh sejatinya menjadikan agama sebagai landasan dalam pelaksanaan otonomi tersebut. Namun kendala muncul lagi yaitu bagaimana menerapkan agama dalam masyarakat yang sudah terkena “sindrom militerisme”. Istilah ini sengaja kami angkat guna memperlihatkan bahwa di Aceh sekarang gejala militerisme banyak ditemukan. Maraknya penghilangan nyawa secara paksa dan penyebaran fitnah adalah salah satu fenomena yang banyak ditemui di Aceh. Akhirnya, posisi agama akan sangat dilematis yang pada gilirannya penerapan agama ( baca: hukum) di Aceh akan menemui jalan buntu. Sebab, untuk melaksanakan hal tersebut dibutuhkan undang-undang yang konon berita yang diterima RUU No.44 tahun 1999 belum disahkan sampai tulisan ini disampaikan.[41]

Jika RUU tersebut disahkan, maka perjuangan bangsa Aceh akan berhasil, namun jika tidak, perjuangan bangsa Aceh akan menebarkan sebanyak mungkin kehilangan nyawa dan fitnah. Dengan perkataan lain, “jalan buntu” di atas harus dicari “jalan alternatif” yaitu kemauan politik (political will) dari lima komponen perjuangan bangsa Aceh di atas (GAM, rakyat, mahasiswa, LSM, dan elit politik Aceh). Kelima komponen tersebut, sejatinya duduk dalam “satu meja” bermusyawarah bukan malah menciptakan konflik yang sama sekali merugikan masing-masing pihak.

Manakala hal tersebut terjadi, memori sejarah perjuangan bangsa Aceh tentang keserasian antara ulama, umara dan rakyat di Aceh akan terulang kembali. Kita mungkin masih ingat ketika perjuangan bangsa Aceh melawan Belanda dimana cara Belanda dalam menaklukan Aceh adalah dengan cara memecah belah bangsa Aceh, gambaran ini dapat diringkas sebagai berikut:
“Dalam usaha mereka untuk menguasai Aceh, Belanda mencoba untuk memisahkan kekuatan-kekuatan tradisional –sultan, uleebalang, dan ulama- dengan menawarkan “pemerintahan sendiri” (“self governing”) bagi para uleebalang dengan cara korteverklaring (deklarasi singkat) pada tahun 1874. Cara ini menghasilkan hubungan yang tidak harmonis antara uleebalang dan ulama, yang akhirnya terjadi konflik berdarah di antara mereka selang beberapa waktu setelah Indonesia merdeka pada 1945. Pada dasarnya, perselisihan ini merupakan hasil rekayasa Belanda yang dianjurkan oleh Snouck Hurgronje pada akhir abad ini.”[42]

Akhirnya,

“Dengan cara-cara di atas, Belanda berhasil memecah belah persatuan rakyat Aceh, yang pada gilirannya menyebabkan adanya konflik yang berkelanjutan antara kelompok yang pro-sultan dan pro-uleebalang. Di antara para uleebalang, ada yang sudah mempersiapkan untuk merebut korteverklaring, dan ada juga beberapa yang masih setia pada sultan. Kendatipun demikian, sultan memperoleh dukungan yang sangat kuat dari ulama, hal mana sangat anti terhadap Belanda. Dengan begitu, mereka memimpin perlawanan terhadap mereka. Bersama dengan para aristokrat yang masih mendukung sultan, para ulama ikut perang yang dilandaskan pada ajaran agama. Dengan menggunakan strategi perang gerilya, mereka terus-menerus berjuang dalam beberapa tahun untuk menghalangi Belanda yang membawa agama dalam kontrol mereka selama sepuluh tahun setelah sultan ditawan. Dengan demikian, Belanda tidak berhasil memerintah di Aceh sampai akhir tahun 1918, selama 45 tahun setelah meletus berperang.”[43]

Demikianlah yang dilakukan oleh Belanda dan nampaknya apa yang terjadi sekarang di Aceh tidak jauh berbeda dengan ilustrasi di atas. Teori Snouck dipraktekkan secara sistematis namun agak sedikit kejam, khususnya dalam bidang agama. Bukan maksud untuk membangkitkan rasa kemarahan, tragedi penerapan DOM di Aceh adalah bukti sejarah hitam dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dalam hal ini, korban nyawa, harta, “perawan” (baca: pemerkosaan) adalah catatan pelanggaran HAM yang sampai sekarang belum ada satu pun disidangkan menurut hukum negara Indonesia atau hukum Islam.

Setidaknya, menurut laporan catatan berbagai sumber, catatan pelanggaran HAM di Aceh sebagai berikut: Versi FP HAM 25 Kasus Tersadis. 1) Tak boleh tutup aurat saat shalat; 2) digorok dan rumah korban dibakar; 3) rumah terbakar, tak diganti rugi; 4) diikat, ditarik ramai-ramai, lalu didor; 5) diganduli batu, lalu dibenam ke sungai; 6) ajimat dicabut dan disiksa; 7) ditembak, kemudian kuburnya dibongkar; 8) digebuk, dicampak ke mobil, lalu dikubur massal; 9) ditembak di depan umum; 10) diciduk di masjid, dibantai di lapangan; 11) dijadikan tameng saat bertempur lawan GPK; 12) tangan dibedah, ditetesi air asam; 13) disiksa hingga mata kiri tak berfungsi; 14) diculik serempak lalu dibunuh massal; 15) santri diculik, lalu dibantai; 16) kepala dikuliti depan anak; 17) ditembak dalam sumur; 18) ditaruh pemberat besi; 19) disiksa sembilan malam, dilapari; 20) suami dibuang, istri disentrum: 21) semua gigi dirontokkan; 22) cacat karena dipukul dengan balok; 23) tulang rusuk dipatahkan; 24) digantung, kepala ke bawah; 25) diperkosa, hamil, ditinggal.[44]

Menurut versi AGAM, ada dua belas cara penganiayaan yang terjadi di Aceh terhadap tahanan selama DOM sebagai berikut: 1) disepak dan diterjang di bagian yang lemah dengan tujuan mencederakan; 2) pelir tahanan dijepit hancur dengan menggunakan tang; 3) Kaki kursi diletakkan ke atas anak jari kaki tahanan itu, kemudian para tentara duduk di atasnya untuk menambahkan tekanan atas anak kaki mereka sampai remuk–redam hancur berdarah; 4) telapak tangan dan kaki tahanan dipaku seperti orang yang disalin, hanya tiang salibnya saja yang tidak digunakan; 5) tahanan-tahanan direbus dengan air panas; 6) tahanan direndamkan berhari-hari atau berminggu-minggu dalam kolam air najis; 7) tahanan digantung kepala ke bawah dan kaki ke atas; 8) tubuh tahanan ditonjok dengan puntung rokok dan besi panas; 9) tahanan dipukuli dengan batang besi atau tangkai-tangkai yang keras berlapiskan papan tipis (triplek) di antara senjata tajam dengan tubuhnya supaya bila dipukuli tinggal bekas tetapi rusak di dalam badan tersebut semakin parah, sehingga mereka muntah darah; 10) kawat besi yang tajam dimasukkan ke dalam saluran kencing kemaluan kemudian diputar-putar kawat itu sehingga mengakibatkan sakit yang tidak terhingga; 11) tahanan-tahanan diikat ke sebuah balok es 1,5 meter, yang berjam-jam lamanya baru cair. Begitu mencair es batu tersebut, tahanan tersebut menjadi dan sudah tidak sadarkan diri; 12) ada di antaranya yang dicungkil matanya.[45]

Adapun pelanggaran HAM terhadap perempuan adalah menarik untuk mengutip versi Al-Chaidar (Aceh Bersimbah Darah), dkk. ada 12 cara yaitu 1) wanita Aceh diperkosa tiga tentara; 2) pelecehan seksual terhadap kaum wanita; 3) diperkosa, hamil, lalu ditinggal begitu saja; 4) gadis korban perkosaan melahirkan anak pemerkosa; 5) diperkosa sambil berdiri; 6) diperkosa, disetrum dan dicambuk dengan kabel; 7) ditelanjangi massal; 8) gadis cacat diperkosa oleh tentara yang sedang mabuk; 9)suami diculik, istri dilecehkan; 10) diambil paksa dan diperkosa; 11) diarak telanjang, lalu didor; 12) digagahi di depan anaknya.[46]

Data-data di atas adalah bukti nyata bahwa agama tidak lagi disegani oleh para pelanggar HAM. Ini membuktikan bahwa sebutan Serambi Mekkah tidak tepat lagi. Sebab jika yang namanya Mekkah, maka setiap darah di atas tempat tersebut adalah haram hukumnya kecuali murtad. Karena itu, sebutan “Serambi Mekkah” harus didefinisikan kembali dalam konteks ke-Aceh-an baru.

Paparan di atas merupakan pengingkaran sejarah bangsa Aceh terhadap apa yang sudah dibangun oleh para pendahulu ternyata disia-siakan. Dalam hal ini, ada pendapat yang menyebutkan mereka (para indatu kita) telah berjuang dan berkarya dengan baik sesuai dengan masanya. Kita tidak boleh bertepuk tangan atas kejayaan mereka, kita justru dituntut untuk berkarya sendiri.[47] Oleh karenanya tuntutan tersebut harus menjadi agenda kita semua sebagai generasi baru Aceh.

Dari paparan di atas ada beberapa hal yang dapat digarisbawahi. Pertama, bahwa perjuangan bangsa Aceh merupakan tugas kita semua rakyat Aceh, tanpa kecuali. Oleh karena itu, skat-skat perbedaan antara kita seharusnya mulai di kikis. Dengan cara demikian, kajian sejarah di atas, merupakan salah satu pedoman dalam melakukan perjuangan.

Kedua, bentuk perjuangan dengan kesadaran sejarah adalah perjuangan yang menyeluruh. Maksudnya, perjuangan bangsa Aceh harus dilaksanakan secara kolektif tanpa ada pengembosan atau pengkhianat. Jika sejarah, membuktikan bahwa bangsa Aceh mampu mengusir penjajah, mengapa kita di era modern tidak mampu berbuat demikian. Dengan perkataan lain, perjuangan bangsa Aceh harus didefinisikan ulang yaitu perjuangan bangsa Aceh untuk golongan, kalangan atau demi tanah Rencong. Jika demi kalangan dan golongan, maka sampai kapanpun perjuangan bangsa Aceh akan tetap mengalami kegagalan. Namun jika perjuangan demi tanah pertiwi Aceh, maka Insya Allah bantuan akan datang seperti para indatu kita dulu berjuang.

Ketiga, khusus bagi generasi muda adalah bagaimana mempersiapkan Aceh di masa depan bukan malah terjebak pada permasalahan politik yang tidak jelas. Oleh karenanya, pendidikan merupakan salah satu persiapan untuk arah ke sana. Sebab untuk mengharapkan generasi sekarang berjuang demi Aceh adalah harapan yang berlebihan. Karena, perjuangan selalu membutuh waktu dan ruang. Mereka tentu telah berjasa dan pada saat yang sama Aceh juga masih menunggu jasa-jasa kita.

Akhirnya, saran saya kepada kita adalah mari kita membuat sejarah yang akan dibaca oleh cucu kita sebagaimana kita membaca sejarah nenek moyang kita. Sebab walau bagaimanapun sejarah adalah cermin suatu bangsa.

[1]H.M. Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara, (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961).
[2]Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987); idem, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, (Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. 1999).
[3]Lee Kam Hing, The Sultanate of Aceh: Relations with the British 1760-1824, (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1995).
[4]C. Snouck Hurgronje, Aceh: Rakyat dan adat Istiadatnya, 2 Jilid (Jakarta: INIS, 1997).
[5]Sejauh ini, meskipun bukan peneliti sejarah, penulis telah mengumpulkan beberapa literatur sejarah tentang Aceh yang ditulis oleh berbagai pihak. Untuk lebih mendalami dan mengerti sejarah Aceh, maka penulis menganjurkan untuk membaca beberapa karya berikut: Luthfi Auni, ”The Decline of The Islamic Empire of Aceh,” Tesis M.A. McGill University, (1993); Amirul Hadi, ”Aceh and The Portuguese: A Study of the Struggle of Islam in Southeast Asia 1500-1579,” Tesis M.A. McGill University, (1992); M. Hasbi Amiruddin, ”The Response of The Ulama Dayah to the Modernization of Islamic Law in Aceh,” Tesis M.A. McGill University, (1994); Hamdiah Latif, ”Persatuan Ulama Aceh (PUSA): Its Contribution to Educational Reforms in Aceh,” Tesis M.A, McGill University, (1992); Amran Zamzami, Jihad Akbar di Medan Area, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990). Namun dewasa ini, sejak pergolakan Aceh, sejarah Aceh juga masih ditulis. Baca misalnya, Al-Chaidar, dkk., Aceh Bersimbah Darah: Mengungkap Penerapan Status Daerah Operasi Militer (DOM) Di Aceh 1989-1998, (Jakarta: Pustaka AL-Kautsar, 1999); Yusra Habib Abdul Ghani, Mengapa Sumatera Menggugat, (Biro Penerangan Acheh-Sumatera National Liberation Front, 2000); Fikar W. Eda dan S. Satya Dharma (peny.), Aceh Menggugat: Sepuluh Tahun Rakyat Aceh di Bawah Tekanan Militer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999); Kaoy Syah dan Lukman Hakiem, Keistimewaan Aceh dalam Lintasan Sejarah: Proses Pembentukan UU No.44/1999, (Jakarta: Pengurus Besar Al-Jami’iyatul Washliyah, 2000).
[6]Kasus kongkret adalah apa yang dialami oleh bangsa Indonesia, menurut Asvi Warman Adam, pada masa awal Orde Baru, strategi pengendalian sejarah mencakup dua hal: pertama, mereduksi peran Soekarno, dan kedua, membesar-besarkan jasa Soeharto. Lihat Asvi Warman Adam, ”Pengendalian Sejarah Sejak Orde Baru,” dalam Henri Chambert-loir dan Hasan Muarif Ambary (ed.), Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999), 572.
[7]Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1996), 161.
[8]Asvi Warman Adam, Pengendalian Sejarah, 576.
[9]Sejauh pengetahuan penulis, pendekatan sejarah sering digunakan oleh Gerakan Acheh Merdeka dalam mensosialisasikan program-programnya. Lihat misalnya Tengku Hasan di Tiro,”Perkara & Alasan Perdjuangan Angkatan Atjèh Sumatera Merdéka”, Tjeramah bigsmileimuka Scandinavian Association of Southeast Asian Social Studies Göteborg, Sweden, 23 Agustus, 1985. Untuk membuktikan asumsi ini, penulis mengutip sepenggal ceramah Hasan Di Tiro,” Lama sekali sebelum kedatangan pendjadjahan2 Eropa Barat ke Dunia Melaju (Asia Tenggara) Atjeh sudah mendjadi satu negara merdeka jang berdaulat jang diakui dunia internasional di Sumatera. Pada waktu itu negara merdeka itu lebih terkenal dengan nama Keradjaan Atjeh, tetapi kemudian mendjadi lebih terkenal dengan nama sebuah pelabuhannja jang sering dikundjungi oleh kapal-kapal Eropa, jaitu pelabuhan ‘Samudra’ di Atjeh Utara, jang dari padanja berasal nama Sumatera. Buku Larouse Grand Dictionnaire Universelle, menggambarkan Keradjaan Atjeh pada waktu itu sebagai “bangsa jang paling berkuasa di Dunia Melaju atau Hindia Timur, pada achir abad ke-16 dan sampai pertengahan abad ke-17. (“Vers la fin du XVIe siècle et jusqu’ à la moitië du XVIIe, les Achins etaient la nation dominante de l’archipel Indien.”) Vol.I, p.70, Paris, 1886. Sebuah sumber sedjarah jang besar jang lain, La Grand Encyclopedie, menulis sebagai berikut: “Pada tahun 1582, bansa Atjeh sudah meluaskan kekuasaannja atas pulau2 Sunda (Sumatera, Djawa, Borneo, dll), atas satu bagian dari semenandjung Tanah Melaju, dan mempunjai hubungan dengan segala bangsa jang melajari lautan Hindia, dari Djepang sampai ke Arab. Sedjarah peperangan jang lama sekali jang dilantjarkan oleh bangsa Atjeh terhadap bangsa Portugis jang menduduki Malaka sedjak permulaan abad ke-16, adalah halaman2 jang tidak kurang kemegahan dan kebesarannya dalam sedjarah bangsa Atjeh. Pada tahun 1586, seorang Sultan Atjeh menjerang Portugis di Malaka dengan sebuah armada yang tediri dari 500 buah kapal perang dan 60,000 tentera laut.” (“En 1582, ils avaint étandu leur Malacca depuis le commentcement du XVIe siècle n’est pas une des pages les moins prépondérance sur les iles de la Sonde, sur une partie de la Presque ‘ile de Malacca, ils étaient en relation avec tous les pays que baigne l’océan Indien depuis le Japan jusqu´ à glorieuse de l’ histoire des Atchinois. En 1586, un de leur Sultans attaque les Portugais avec une flotte d’ environ 500 voiles montée par 60,000 marins.” (Vol.IV,p.402, Paris,1874)”. Lihat juga “Pernjataan Atjeh Sumatera Merdeka Kembali,” oleh Tengku Hasan di Tiro, 4 Desember, 1976, dimuat dalam AGAM: Madjallah Angkatan Atjeh Meurdehka, No.40 (1991), 72-74; idem,”Nasionalisme Indonesia,” Suara Acheh Merdeka, edisi VI Desember (1995), 22-23. Tulisan ini kembali dimuat dalam Yusra Habib Abdul Ghani, Mengapa Sumatera Menggugat, 42-52. Lebih dari itu, Tengku Hasan Di Tiro, konon menurut kabar tersiar adalah Wali Negara Acheh Merdeka. Dia memilih dirinya sendiri sebagai wali negara. Berikut petikan salah satu tulisan Hasan Di Tiro, ”Saya telah menanda-tangani Surat Pernyataan Acheh/Sumatera Merdeka sebagai Negara Sambungan atas kelegalan Hak Successor State sebab pada waktu ini saya yang berhak (bertugas) sebagai Wali Negara Acheh sebagai Tengku Tjhik di Tiro menggantikan (cetak miring dari penulis) Yang Mulia Nenekanda Tengku Tjhik Mahyeddin dan Pamanda Tengku Tjhik Ma’at, yang gugur pada 3 Desember, 1991, dalam perang dengan Belanda.” Lihat Tengku Hasan Di Tiro,”Konsep-Konsep Ideologi Acheh Merdeka,” Suara Acheh Merdeka, (1995), 34. Untuk mengetahui latarbelakang mengapa Hasan di Tiro mendirikan organisasi Acheh Merdeka, baca Tengku Hasan di Tiro, The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro, (National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984).
[10]Penting dicatat bahwa pada saat kekuatan-kekuatan imperialis Barat telah mematahkan kekuatan sebagian besar negara-negara Islam, pada saat itulah, pada permulaan abad XVI, lahirlah “Lima Besar Islam” yang terikat dalam suatu kerjasama ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Lima Besar Islam yang dimaksud yaitu: 1. Kerajaan Turki Usmaniyah, yang berpusat di Istambul, 2. Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara, 3. Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah, 4. Kerajaan Akra di India, 5. Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara. Baca, Ali Hasjmy,”Banda Aceh Darussalam Pusat Kegiatan Ilmu dan Kebudayaan,” dalam Ismail Suni (ed.), Bunga Rampai Tentang Aceh, 208.
[11]Asal kata Peureulak menurut Ali Hasjmy adalah sebagai berikut: di satu daerah di wilayah Aceh Timur sekarang, banyak sekali tumbuh kayu besar, yang bernama “Kayei Peureulak” (Kayu Perlak), bahkan telah merupakan “Rimba Peureulak”. Kayei tersebut sangat baik untuk bahan pembuatan perahu, kapal, sehingga banyak dibeli oleh perusahaan-perusahaan kapal/perahu.… Kemudian para pengembara/pedagang sebelum “Zaman Islam” yang datang dari Cina, Arab, Persia, Hindi, Italia, Portugis dan lain-lainnya melalui Selat Melaka dan singgah di Pelabuhan daerah Kayei Peureulak, terus menyebut pelabuhan yang mereka singgahi itu dengan “Bandar Perlak”. Lihat A. Hasjmy, ”Adakah Kerajaan Islam Perlak Negara Islam Pertama di Asia Tengara,” dalam A. Hasymy (ed.), Sejarah Masuk, 152-53.
[12]Zainuddin, Tarich Atjeh, 94.
[13]Ibid.
[14]Lihat Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, ”Proses Islamisasi dan Munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh,” dalam A. Hasymy (ed.) Sejarah Masuk, 415-416.
[15]Zainuddin, Tarich Atjeh, 131.
[16]Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Proses Islamisasi, 417-418.
[17]Ibid., 421. Untuk mengetahui tentang raja-raja Pasai, lihat Russel Jones, Hikayat Raja Pasai, (Selangor: Petaling Jaya, 1987); Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, 9-19.
[18] Ibid., hlm.426.
[19]Nourouzzaman Shiddieqy, Jeram-Jeram Peradaban Muslim, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 306; Amirul Hadi, Aceh and The Potuguese, 11. Lihat juga, Daud Rasyid, ”Formulasi Syariat Islam di Serambi Mekah,” Republika, 13 November (1999), 6.
[20]Ross E. Dunn, Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), 388.
[21]Ibid., 388-9.
[22]Muhammad Ibrahim dan Rusdi Sufi, Proses Islamisasi, 433-4.
[23]Anas Machmud, ”Turun Naiknya Peranan Kerajaan Aceh Darussalam di Pesisir Timur Pulau Sumatera,” dalam dalam A. Hasymy (ed.) Sejarah Masuk, 286.
[24]Kata dayah, juga sering diucapkan deyah oleh masyarakat Aceh Besar, diambil dari bahasa Arab zawiyah. Istilah zawiyah, yang secara literal bermakna sebuah sudut, diyakini oleh masyarakat Aceh pertama kali digunakan sudut Masjid Madinah ketika Nabi Muhammad berdakwah pada masa awal Islam. Orang-orang ini, sahabat Nabi, kemudian menyebarkan Islam ke tempat-tempat lain. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf. Karena itu, didominasi hanya oleh ulama perantau, yang telah dibawa ke tengah-tengah masyarakat. Kadang-kadang lembaga ini dibangun menjadi sekolah agama dan pada saat tertentu juga zawiyah dijadikan sebagai pondok bagi pencari kehidupan spritual. Sangat mungkin bahwa Islam disebarkan ke Aceh oleh para pendakwah tradisional Arab dan sufi; ini mengindikasikan bagaimana zawiyah diperkenalkan di Aceh. Lebih lanjut, lihat M. Hasbi Amiruddin, The Response of The Ulama Dayah, 41.
[25]Ibid, 53.
[26]Baihaqi,”Ulama dan Madrasah Aceh,” dalam Taufik Abdullah, (ed.), Agama dan Perubahan Sosial, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), 132.
[27]Karya-karya ulama tersebut sudah banyak dikaji oleh para peneliti, untuk menyebut beberapa nama adalah sebagai berikut: Tudjimah, Asra al-Insan fi Ma’rifa al-Ruh Wa ‘l-Rahman, (Djakarta: Penerbitan Universitas, 1961); Ahmad Daudy, Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar-Raniry, (Jakarta: Rajawali Pres, 1983); idem, Syeikh Nuruddin Ar-Raniry (Sejarah, Karya dan Sanggahan Terhadap Wujudiyyah di Aceh), (Jakarta: Bulan Bintang, 1978); idem, ”Tinjauan Atas “Al-Fath al-Mubin ‘Ala al-Mulhidin” Karya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri,” dalam Ahmad Rifai’i Hasan (peny.), Warisan Intelektual Islam Indonesia: Telaah atas Karya-Karya Klasik, (Bandung: Mizan, 1987); Peunoh Daly, Hukum Islam Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-negara Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988); Omah Fathurahman, Tanbih Al-Masyi Menyoal Wahdatul Wujud: Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17, (Bandung: Mizan, 1999); Syed Muhammad Naquib Al-Attas, A Commentary on the Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, (Kuala Lumpur: Ministry of Culture, 1986); Abdollah Vakily, ”Sufism, Powers, and Reform: Al-Raniri’s Opposition to Hamzah al-Fansuri’s Teaching Reconsidere,” Studia Islamika, Vol.4, No.1 (1997), 113-34; A.H. Johns, ”The Qur’an in the Malay World: Reflections on ‘Abd al-Ra’uf of Singkel (1615-1693),” Journal of Islamic Studies, Vol.9, No.2 (1998), 120-45.
[28]Dari penjelajahan historis yang kami lakukan, nampak bahwa karya ulama Aceh adalah yang pertama di Nusantara. Misalnya, karya Nurdin Ar-Raniri, Sirat al-Mustaqim adalah kitab fiqh pertama di Indonesia. Di samping karya tersebut, kitab Nurdin Ar-Raniri yang lain yaitu Tibyan fi Ma’rifatu’l Adyan merupakan kitab perbandingan agama pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Lihat Karel A. Steenbrink, ”The Study of Comparative Religion By Indonesian Muslims,” NUMEN, Vol.XXXVII (1990), 144.
[29]Lihat misalnya, Amirul Hadi,”Beberapa Catatan Mengenai Hubungan Antara Negara dan Agama di Melaka dan Aceh,” Ar-Raniry, 74 (1999),53-64; M. B. Hooker, Undang-undang Islam di Asia Tenggara, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia, 1992), 18-19.
[30]Lihat misalnya, Amirul Hadi,”The Aceh War, 1873-1912: Some Notes,” dalam Yudian Wahyudi, dkk., The Dynamics of Islamic Civilization, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998), 251-264. Lihat juga Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, 173.
[31]Azyumardi Azra, ”Antara Kesetiaan dan Perbenturan: Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia dan Malaysia,” dalam Edy A. Effendy (ed.), Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat, (Jakarta: Zaman Wacana Mulya, 1999), 150; idem, Islam Reformis Dinamika Intelektual dan Gerakan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), 107.
[32]Teks lengkap manifesto tersebut dapat dibaca dalam Herbet Feith dan Lance Castles, (ed.), Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, (Jakarta: LP3ES, 1995), 208-211.
[33]Al-Chaidar, dkk., Aceh Bersimbah Darah, 203.
[34]Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, 180.
[35]Untuk mengetahui sejarah keberadaan Gayo di propinsi Aceh, baca A. J. Piekar,”Atjeh,” dalam H.A.R. Gibb, et.al., The Encyclopedia Islam New Edition, (Leide: E.J. Brill, 1960), I:740.
[36]Istilah Gam Cantoi adalah GAM gadungan alias yang sering memeras rakyat dengan alasan perjuangan GAM. Padahal, mereka adalah bukan GAM.
[37]Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), 826.
[38]Pembantaian Tgk. Bantaqiah dan Prof. Dr. Shafwan Idris dan penembakan terhadap tokoh masyarakat adalah contoh konkret.
[39]Lihat misalnya, Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, (London: Touchstone Books, 1998), 64 dan 95-101.
[40]Lihat Dzulkarnain Amin, ”Bentuk Pemerintahan Daerah Istimewa Aceh di Masa Depan (Tinjauan dari Aspek Ekonomi),” makalah untuk Rapat Kerja Khusus (Rekersus) Taman Iskandar Muda (TIM), Cipayung, 8 April 2000. Di muat kembali dalam Kaoy Syah dan Lukman Hakiem, Keistimewaan Aceh dalam Lintasan Sejarah, 215.
[41]Isi yang menjadi Undang-undang ini adalah pengaturan pelaksanaan keistimewaan Aceh dalam 4 (bidang), yaitu: a. Penyelenggaraan kehidupan beragama berdasarkan Syari’at Islam; b. penyelenggaraan kehidupan adat sesuai dengan Syariat Islam; c. penyelenggaraan pendidikan umum dan agama sesuai dengan aspirasi masyarakat Aceh yang Islami; d. peningkatan peran ulama dalam menetapkan segala kebijakan daerah. Lihat Kaoy Syah dan Lukman Hakiem, Keistimewaan Aceh dalam Lintasan Sejarah, 224-225.
[42]M. Hasbi Amiruddin, The Response of The Ulama Dayah, 66.
[43]Ibid., 66.
[44]Lihat Data Sementara Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Selama Operasi Militer di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Pidie, (Forum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM Daerah Istimewa Aceh, t.th.)
[45]AGAM: Madjallah Angkatan Atjeh Meurdehka, No.40 (1991), 70
[46]Baca kasus-kasus tersebut dalam Al-Chaidar, dkk., Aceh Bersimbah Darah, 182-91. Lihat juga hasil investigasi “Ketika Dom Digelar” ASASI, edisi September 1998, 1-4. Lihat pula “Aceh: Siapa Harus Minta Maaf Padamu,” Gatra, 8 Agustus (1998), 30-2.
[47]Lihat Ismail Thaib, ”Hindarilah Proses Kemerosotan,” ceramah Halal bi Halal Masyarakat Aceh Yogyakarta, 06 Februari (2000), 14.

Sumber:
Islam Historis: Dinamika Studi Islam di Indonesia (2002), Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

Foto-Foto Keji Penaklukan Aceh dalam Ingatan Belanda

Diterbitkan : 7 Februari 2011 – 11:12am | Oleh Joss Wibisono (KIT)

Kolonialisme Belanda di Indonesia ternyata juga diabadikan dalam bentuk foto-foto keji. Ada serangkaian foto keji penaklukan Desa Kuta Reh di Aceh yang terus menimbulkan kontroversi, yaitu debat pro dan kontra di Belanda.

Pada salah satu foto itu terlihat mayat-mayat bergelimpangan di bagian bawah, sementara tentara kolonial KNIL tampak di bagian atas membanggakan “kemenangan” mereka. Kemudian juga terlihat bayi masih hidup di dekat kaki salah seorang tentara KNIL. Paulus Bijl melakukan kajian untuk memperoleh gelar doktor terhadap cara orang Belanda menyikapi foto-foto mengerikan itu dari zaman ke zaman.

Dicapai kemajuan
Pertama-tama Paulus Bijl bertutur bahwa disertasinya berkisar tentang bagaimana khalayak Belanda menengok kembali satu ekspedisi tertentu pada Perang Aceh. Pada ekspedisi itu dibuat foto-foto di beberapa desa Gayo dan Alas yang penduduknya dibantai habis. Yang paling terkenal adalah foto di Alas. Paulus mempelajari bagaimana khalayak Belanda menyikapi foto-foto itu dalam 100 tahun terakhir. Apa makna yang mereka berikan terhadap foto-foto itu. Itulah intisari disertasinya.

Foto-foto itu dibuat oleh tentara, dalam hal ini KNIL. Fotografnya adalah dokter tentara, namanya Henri Neeb. Foto-foto itu dibuat untuk menunjukkan telah dicapai kemajuan. Pada saat itu, sekitar awal Abad XX, kolonialisme Belanda sampai pada periode penaklukkan wilayah-wilayah lain, selain Jawa yang sudah dikuasai sepenuhnya. Namanya penaklukkan wilayah-wilayah seberang.

Itulah sebabnya dikobarkan Perang Aceh. Dalam perang ini ada apa yang disebut ekspedisi ke Gayo dan Alas. Foto-fotonya dibuat untuk menunjukkan bahwa makin banyak wilayah Aceh yang ditaklukkan. Itulah makna foto itu bagi KNIL, tentara kolonial Belanda.

Mengalami ketegangan
Menarik untuk mengetahui mengapa penaklukan wilayah-wilayah luar Jawa itu dilakukan. Masalahnya, awal Abad XX sudah masuk zaman Politik Etis yang bertujuan meningkatkan derajat pribumi. Menurut Bijl, kolonialisme Belanda waktu itu sedang mengalami ketegangan. Di satu pihak Belanda ingin memberi pendidikan dan pelayanan kesehatan, tapi di pihak lain mereka juga ingin benar-benar menguasai Hindia Belanda. Sebelum pendidikan dan pelayanan kesehatan bisa diberikan, orang harus dikuasai dulu. Karena itu tentara dikirim. Orang-orang setempat tentu saja tidak mau, karena itu mereka melawan.

Gagasannya adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk, baru sesudah itu dilaksanakan Politik Etis. Tapi keduanya memang bertabrakan. Karena itu ada yang berpendapat kolonialisme Belanda merupakan imperialisme etis, atau diberi alasan etis, atau kalau mau lebih tegas lagi, imperialisme itu disirami kuah etis. Itu cuma lapisan etis. Tapi tujuan utamanya adalah menguasai daerah-daerah itu.

Kenyataan bahwa Belanda merasa perlu menunjukkan kekuasaannya, menurut Paulus Bijl itu berkaitan dengan apa yang terjadi di Eropa pada waktu itu. Semua negara Eropa sedang sibuk-sibuknya menaklukkan wilayah-wilayah lain. Orang Prancis, orang Inggris, Jerman juga ikut bergabung. Kalau satu negara Eropa ingin punya kekuasaan, maka dia harus punya koloni.

Itu meningkatkan status. Dan, biasanya terjadi belakangan, juga alasan keuntungan ekonomis. Selain itu juga ada gagasan bisa menjadi bapak, ini punya peran besar di kalangan orang Belanda, ingin menjadi pelindung. Politik Etis itu diwarnai paternalisme. Makanya orang Belanda tertarik untuk melancarkan ekspedisi itu.

Tidak bisa berbuat lain
Foto-foto penaklukan Gayo dan Alas langsung diumumkan oleh kalangan militer, dimuat dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1905. Foto-foto itu juga dipamerkan di Batavia. Publik Belanda bereaksi penuh keraguan. Langsung muncul debat ramai. Juga karena kolonialisme mengalami ketegangan.

Di satu pihak orang ingin membawa perbaikan, maklum Belanda merasa punya missi di Hindia Belanda. Cita-cita ini tentu saja dihancurkan oleh foto-foto yang kejam itu. Foto-foto ini memperlihatkan bukannya perbaikan yang dibawa ke Hindia melainkan kekejaman yang keji dan mengerikan.

Tapi banyak juga kalangan yang membela foto itu. Mereka di satu pihak memang mengakui bahwa foto-foto itu tidak baik, tetapi Belanda tidak bisa berbuat lain. Apa yang disebut ekspedisi militer itu tetap harus dilakukan. Tentu saja ada juga sejumlah kecil kalangan yang bersikap kritis. Mereka tidak setuju melihat orang-orang yang ditembak langsung.

Yang juga harus ditegaskan adalah bahwa di Belanda siapapun setuju dengan kolonialisme.Mereka setuju mengirim pasukan ke luar Jawa untuk mengendalikan keadaan. Tetapi ribut-ribut muncul dalam soal caranya. Haruskah dengan pendekatan militer atau justru bisa melalui perundingan dan lebih banyak kesabaran? Gagasannya tetap Belanda sebagai pelindung, gagasan yang paternalistis itu dianut dengan jelas oleh siapa saja.

Lebih baik dari Inggris
Yang terlihat adalah para pembela, pengkritik dan khalayak umum dihinggapi perasaan tidak enak. Muncul pertanyaan seperti apa sebenarnya kolonialisme Belanda? Apa yang dikerjakan Belanda di Hindia? Dan negara apa sebenarnya Belanda itu. Di balik itu orang Belanda menganggap dirinya lebih baik dari Inggris dan Prancis. Belanda harus memperlakukan warga koloninya dengan lebih baik. Dan foto-foto ini jelas memberikan gambaran yang lain.

Jadi tidaklah bisa dikatakan foto-foto penaklukan Aceh itu ikut memperkuat status Belanda sebagai negara Eropa dengan koloni terbesar. Yang jelas, di wilayah jajahan peningkatan status itu memang terjadi, karena dengan kekerasan yang keji orang-orang itu dilibas. “Dari dulu dan saya yakin sampai sekarang,” demikian Paulus Bijl, “Belanda selalu membanggakan diri sebagai negara yang beda dari negara-negara lain.” Negara-negara besar main politik kotor. Belanda tidak, Belanda main politik jenis lain. Menteri-menteri waktu itu mengatakan kita bukan imperialis. Kita hanya membawa yang baik-baik.

Tapi di balik perasaan tidak enak itu, Belanda tetap merasa statusnya meningkat. Yang jelas, dalam proyek menaklukkan wilayah-wilayah luar Jawa, dan itu termasuk ekspedisi ke Gayo serta Alas, wilayah-wilayah itu memang berhasil ditundukkan masuk kekuasaan Belanda.

10 tahun kemudian muncullah gerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Sebelum itu sudah terbentuk perlawanan terhadap Belanda. Pada saat yang sama Belanda juga membangun negara kolonial. Penaklukan luar Jawa itu berlangsung serempak dengan pembentukan negara kolonial. Dan negara kolonial ini tegak sampai pendudukan Jepang. Jelas sampai saat itu dibangun kekuasaan kolonial.

Terutama foto-foto penaklukan desa Kuta Reh terlihat mengerikan sekali, banyak orang mati terbantai. Bisakah dikatakan inilah rangkaian foto pertama hasil embeded journalism. Tapi Paulus Bijl buru-buru menambahkan, kita harus tahu pembuat fotonya adalah seorang dokter tentara, ia jelas merupakan bagian tentara. Yang jelas-jelas wartawan embeded adalah harian Deli Courant yang mengirim wartawannya ke beberapa desa itu dan mengirim laporan. Jadi memang ada wartawan, tapi foto-fotonya dibuat oleh seorang dokter tentara yang sekaligus memang fotograf tentara.

Rasisme garis pemisah
Sulit dimengerti bagaimana Henri Neeb yang dokter itu, bisa mengabadikan banjir darah yang begitu tidak manusiawi. Bukankah sebagai dokter ia harus menolong mereka yang cedera? Pertama-tama, demikian Paulus Bijl, Henri Neeb bekerja hanya untuk KNIL, tentara kolonial. Di dalamnya juga banyak orang Maluku dan Menado. Kalau prajurit-prajurit itu yang cedera maka dia akan turun tangan. Tapi, Paulus mengakui memang ini ada sesuatu yang aneh. Dokter yang berada di tengah kematian mengerikan seperti ini, dia membiarkannya, bahkan kemudian memotretnya. Ini berkaitan dengan rasisme.

Karena rasisme orang bisa membuat garis pemisah dalam masyarakat kolonial antara orang-orang yang harus tetap hidup dan orang yang bisa mati. Orang-orang Aceh yang terlihat dalam foto ini jelas berada di sisi lain garis pemisah rasial itu. Mereka melawan pembangunan negara kolonial. Perlawanan mereka dihadapi dengan kekerasan yang luar biasa.

Dan dokternya bisa dilihat sebagai orang yang membantu negara kolonial. Dia lebih merupakan dokter negara kolonial katimbang dokter orang biasa. Semua yang memperkuat negara, termasuk juga para prajurit, harus disembuhkan. Kalau ada orang yang tidak membantu pembentukan negara kolonial, bahkan melawannya maka mereka patut dilibas.

Itu termasuk perempuan dan kanak-kanak, karena semua warga desa melakukan perlawanan. Pria, perempuan dan anak-anak. Paling sedikit kita hanya tahu soal ini dari laporan orang Belanda. Ini penting karena kita tidak tahu dari sumber lain. Itu memang bisa merupakan gambaran yang salah. Tapi di situ bisa dibaca bahwa segenap warga desa melawan agresi Belanda.

Prajurit versus perwira
Dan mereka hanya menggunakan senjata-senjata primitif, tongkat, batu, tidak ada yang istimewa. Juga senjata yang sudah ketinggalan zaman. Sedangkan orang Belanda membawa senjata otomatis, sehingga perang itu sangat tidak berimbang. Karena itu warga desa tidak mungkin bisa menang perang.

Salah satu foto memperlihatkan banyak prajurit yang berdiri di atas mayat-mayat para pemberontak. Dan terlihat betapa sebagian besar prajurit itu bukan orang kulit putih. Dari pelbagai arsip kita tahu bahwa prajurit-prajurit itu berasal dari Sulawesi, di wilayah sekitar Manado dan orang Maluku. Ambon sering disebut sebagai tempat asal orang-orang yang diterima dalam KNIL. Sedangkan semua perwira menengah dan tinggi semuanya orang Eropa.

Orang pribumi tidak boleh menjadi perwira. Itu juga pemisahan yang rasistis. Ada yang bisa menjadi anggota marsosé, tapi ada yang bisa menjadi perwira, cuma yang perwira itu harus orang Eropa.

Dari Aceh ke Afghanistan lewat Belanda
Diterbitkan : 27 Januari 2011 – 10:40am | Oleh Joss Wibisono (Ranesi)

Aceh dan Afghanistan: apa kaitannya? Kecuali sama-sama bermayoritas penduduk muslim, kaitan langsung antara keduanya rasanya terlalu dicari-cari. Siapa bilang?

Ternyata yang disebut kaitan itu adalah Belanda, khususnya Kementerian Pertahanan Belanda. Begini ceritanya.

Ketika mempersiapkan missi militer di Uruzgan, Belanda mempelajari lagi Perang Aceh, serta bagaimana Aceh waktu itu bisa ditaklukkan. Tentang makna kaitan Afghanistan Aceh dan Aceh sebagai sumber inspirasi bagi missi militer Belanda di Uruzgan, berikut bincang-bincang dengan Paulus Bijl yang baru saja memperoleh gelar doktor setelah menulis disertasi tentang kekejaman kolonial Belanda

Beban missi budaya
Sebelum melakukan missi ke Uruzgan di Afghanistan, pasukan Belanda memang kembali mempelajari situasi Aceh, terutama Perang Aceh yang berlangsung antara tahun 1873 sampai 1904. Ada beberapa alasan mengapa hal itu dilakukan. Salah satunya adalah gagasan counter insurgency, di sini Kementerian Pertahanan Belanda ingin mempelajari bagaimana Jenderal Van Heutsz bisa menaklukkan Aceh. Juga apa yang bisa dipelajari dari hal itu.

Di pihak lain, Perang Aceh itu berlangsung pada periode Politik Etis. Ini juga merupakan inspirasi untuk zaman sekarang. Ada seorang perwira tinggi Belanda yang bicara tentang Pendekatan Belanda, Dutch Approach. Menurutnya kita ke Uruzgan bukan untuk memerangi Taliban, tapi untuk membuat mereka tidak diperlukan lagi.

Di sinilah unsur paternalismenya. Pemikiran seperti itu dilatarbelangi pendapat bahwa orang-orang di Uruzgan tidak bisa mengurus diri sendiri. Karena itu Belanda harus ke sana untuk membantu mereka. Gagasan seperti ini sudah ada sejak Indonesia menjadi jajahan Belanda. Penguasa kolonial sangat mencurigai penguasa lokal, mereka dituduh memperlakukan penduduk setempat dengan buruknya. Karena itu di Eropa muncul berbagai gagasan soal ini. Inggris misalnya datang dengan gagasan White Man’s Burden, Prancis punya gagasan Mission Civilisatrice, dan Belanda datang dengan Politik Etis.

Gagasannya adalah Eropa punya cara yang lebih baik. Rakyat setempat tidak tahu dan tidak paham. Kalau pemimpin setempat itu bisa diusir, maka rakyat akan sadar bahwa hidup di bawah naungan bendera Eropa akan lebih nyaman. Jadi unsur paternalisme itu masih ada dengan kuatnya.

Dulu memang bisa dikatakan mereka paternalistis, apalagi waktu itu masih zaman kolonial. Kalau sikap seperti itu sekarang ternyata masih diteruskan, bisakah dikatakan Belanda tidak belajar dari masa lampaunya di Aceh?

Kolonialisme paternalisme
Belajar dari masa lampau selalu sangat rumit. Yang jelas sekarang sudah tidak ada wilayah koloni lagi. Kolonialisme seperti yang dikenal dulu sekarang sudah tidak ada lagi. Indonesia sudah merdeka dan Belanda sudah tidak menentukan lagi di Indonesia. Selain itu juga sudah ada pelbagai organisasi internasional yang berupaya menjaga dan meyebarkan demokrasi. Tetapi ternyata masih ada saja gagasan-gagasan kolonial, misalnya sikap paternalisme itu. Jadi ada yang sudah berubah tapi ada juga yang tetap seperti dulu.

Yang juga perlu diingat adalah lembaga-lembaga internasional yang dibangun bersama, seperti PBB, ternyata juga rentan terhadap pengaruh negara-negara besar. Di satu pihak harus terjadi banyak hal, misalnya karena IMF dan Bank Dunia tidak berperan baik di negara-negara yang tidak begitu maju. Politik hutang negara-negara miskin juga tidak menguntungkan mereka, jadi masih banyak yang harus diperbaiki.

Di pihak lain kita juga harus awas supaya hubungan-hubungan yang sudah ada tidak memburuk. Di situ masih banyak perimbangan yang rentan. Karena itu kita tidak bisa beranggapan bahwa semuanya akan tetap baik.

Pertanyaan terakhir, Politik Etis dulu akhirnya berdampak lain dari yang diharapkan Belanda, karena dari situ lahir pemuda-pemudi yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dengan politik di Afghanistan, apakah hasilnya juga akan lain dari yang diharapkan dunia Barat?

Bukan warga negara
Ini pertanyaan yang sangat sulit. Salah satu kesalahan fundamental Belanda di Indonesia adalah bahwa warga Hindia Belanda waktu itu tidak pernah diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka. Dengan kata lain, mereka tidak pernah menjadi warga negara. Pernah saat seperti itu nyaris akan terjadi, sering disebut tahun 1918, tetapi itu batal, sehingga Hindia Belanda tidak pernah merupakan warga wilayah koloni itu. Pendapat mereka tidak pernah didengar, mereka selalu diabaikan. Jelas mereka tidak mau.

Kalau akhirnya warga Afghanistan berhasil diyakinkan soal demokrasi dan demokrasi itu benar-benar dipraktekkan, maka missi militer ke Afghanistan akan bisa berhasil. Tapi orang-orang Afghanistan sendiri juga harus mau. Tidak bisa dipercaya bahwa sebuah sistem, seperti demokrasi, bisa ditanamkan dari luar. Kalau orang-orang di sana benar-benar mau punya masyarakat yang aman sentausa, maka itu akan bisa terlaksana. Kalau tidak maka keadaannya akan makin rumit. Karena jelas kita tidak bisa memaksakan sesuatu dari luar. Itu tidak pernah jalan di Hindia Belanda dan juga tidak akan jalan di Afghanistan.

Sekarang pemerintah Belanda berminat kembali mengirim satuan polisi ke Kunduz, Afghanistan, dengan tugas melatih polisi setempat. Pihak oposisi tidak setuju dan mereka tampaknya merupakan mayoritas.

Belanda-Indonesia, Seberapa Penting

Belanda-Indonesia, Seberapa Penting
Diterbitkan : 4 Oktober 2010 – 9:10pm |
Oleh Redaksi Indonesia (Foto: lukisan Hal Wichers, Maritiem Museum Rotterdam)
Konon Indonesia penting bagi Belanda, dan Belanda penting bagi Indonesia. Di bawah ini ada berbagai informasi yang dapat membantu anda untuk menilai sendiri, seberapa penting Belanda bagi Indonesia, atau sebaliknya.
Status Warga Indonesia
Kedudukan warga Indonesia menurut definisi dua lembaga resmi Belanda, Biro Pusat Statistik dan Dinas Imigrasi, ternyata berbeda.
Centraal Bureau voor de Statistiek, atau Biro Pusat Statistik Belanda, mengkategorikan warga Indonesia sebagai pendatang dari negara Barat. Termasuk dalam kategori ini orang yang berasal dari negeri Eropa lain dan Amerika Utara, serta Jepang.
Warga Indonesia, menurut BPS Belanda tidak termasuk pendatang asing bukan ‘Barat’. Lucunya, pendatang asal Turki, yang sebagian dari wilayahnya termasuk benua Eropa, dikategeorikan sebagai ‘Bukan Barat’.
Sementara itu, Immigratie- en Naturalisatiedienst (IND), atau Dinas Imigrasi dan Naturalisasi Belanda menerapkan ketentuan lain.
Untuk berkunjung ke Belanda, warga negeri Eropa, Amerika Utara atau Jepang, tidak perlu mengurus visa masuk. Dalam urusan ini, warga Indonesia, untuk bisa masuk harus memenuhi berbagai persyaratan dan terlebih dulu mengajukan permohonan visa. Sebagaimana halnya warga asal Bangladesh, Myanmar, Somalia atau Haiti.
Warga negara beberapa tetangga Indonesia, seperti misalnya Brunei Darussalam, Malaysia dan Singapura, boleh datang ke Belanda tanpa harus minta visa masuk.
Ekonomi
GDP Belanda tahun 2009 (dalam juta) 792.128 Dolar AS, penduduk total 16,4 juta jiwa dan luas cuma 41.526 km persegi. Indonesia, GDP 540.277 juta Dolar AS, jumlah penduduk 227,3 juta orang dan luas 1.904.569 km persegi.
Menurut data Bank Dunia, GDP Belanda berada pada ranking ke 16, sementara Indonesia ke 18. Tapi, jika menghitung pendapatan per kapita, Belanda berada pada peringkat 14, sementara Indonesia 144.
Nilai total expor dari Indonesia ke Belanda, selama periode Januari – Oktober 2009 mencapai 2,95 milyar USD.
Ekspor Indonesia ke Belanda (10 besar).
Komoditas: Nilai (juta USD)
Minyak kelapa sawit /CPO 276,46
Timah batangan 237,26
Peralatan transmisi radio 162,68
Furnitur 119,83
Produk besi dan baja 72,32
Kopra 147,95
Mesin pemroses data otomatis 134,88
Batubara 113,34
Mesin percetakan 62,38
Kayu untuk lantai dsb 58,21
Total 1,39 milyar USD (49,96%)
Investasi Belanda di Indonesia (2006 – 2009)

Tahun Proyek Nilai (juta USD)
2006 24 35,2
2007 36 147,2
2008 34 89,9
2009 32 1,198

Pada tahun 2009 nilai investasi PMA asal Belanda di Indonesia, berada pada peringkat ke dua, atau 11,1 persen dari jumlah total, di bawah Singapura. Catatan investasi PMA asal Singapura: 189 proyek, dengan nilai 4,341 juta USD, atau 40,1 persen dari jumlah total.
Pariwisata
Jumlah Arus Turis Asing ke Indonesia Tahun 2009

Negara Jumlah turis

01 Singapura 1.272.862
02 Malaysia 1.179.366
03 Australia 584.437
04 Jepang 475.766
05 Cina 395.013
06 Korea Selatan 256.522
07 Taiwan 203.239
08 Amerika Serikat 170.231
09 Britania Raya 169.271
10 Filipina 162.463
11 Prancis 159.924
12 Belanda 143.485
Kerja sama pembangunan
Selama ini Indonesia termasuk lima negara utama yang mendapat dana kerja sama pembangunan. Bagi berbagai organisasi donor di Belanda, Indonesia selalu jadi perhatian khusus. Sampai sekarang Indonesia merupakan negara yang paling banyak menerima bantuan kemanusiaan dari Belanda. Ini terutama terkait dengan bantuan dalam musibah tsunami Aceh.
Makanan
Indonesia tentu saja belum punya kemampuan menanam investasi raksasa di negeri Belanda. Walau begitu Indonesia sukses menanam “investasi” makanan. Jumlah restoran atau kantin khas Indonesia menduduki urutan ke empat rumah makan khas makanan asing, setelah Turki (Doner Kebab), Italia (Pizza) dan Cina.
Makanan Indonesia juga merupakan makanan favorit keluarga-keluarga Belanda.

Hadiah Nobel Fisika untuk Si Belanda Geim
Diterbitkan : 5 Oktober 2010 – 2:59pm | Oleh Johan Huizinga (rnw)
Andre Geim, pria Belanda keturunan Rusia bersama dengan sejawat Rusia-Inggris memenangkan hadiah Nobel Fisika. Hadiah itu diberikan karena penelitiannya mengenai grafin, yaitu materi ultra ringan.
Andre Geim menyukai lelucon. Ia mengamati kaki cicak dan kemudian menemukan plester tanpa lem.
Andre Kostantinovic Geim dilahirkan di kota Socchi, Rusia tahun 1958. Tahun 1982, ia meraih gelar Master of Science di Institut Teknik-Fisika di Moskow. Lima tahun kemudian, ia menggondol gelar doktor dari Institute of Solid State Physics di Chernogolovka.
Geim kemudian melanjutkan penelitiannya di Eropa Barat, pada Universitas Nottingham, Bath, serta Kopenhagen. Tahun 2001 ia menjadi profesor di Manchester dan kepala Pusat Teknologi Nano dan Ilmu Meso. Baru pada tahun 2010, ia mulai mengajar di Universitas Radboud di Nijmegen, Belanda.
Sementara, ia sudah menjadi warga negara Belanda.
Marmut
Tahun 2000, Geim juga menerima hadiah Nobel-lg, yaitu varian hadiah Nobel yang asli. Ia mendapatkan hadiah itu karena bisa menerbangkan seekor katak dengan bantuan magnet yang sangat kuat, dan ia mengklaim bahwa marmutnya turut berjasa dalam hal ini, bahkan menyebutnya sebagai sejawat penulis.
“Marmut saya lebih banyak berjasa dalam uji coba itu dibandingkan penulis-penulis lainnya. Jadi kenapa tak boleh disebut?”
Fenomena materi ultra ringan adalah benang merah dalam karirnya. Karena hadiah Nobel itu dianugerahkan kepadanya sehubungan penelitiannya mengenai grafin, materi karbon setebal atom. Geim berhasil mengembangkan lembar-lembar grafin. Pada saat ini grafin digunakan pada layar LCD.
Sesudah diolah dengan elektroda superkonduktor, para peneliti di Delft bisa membuat lembar-lembar grafin menjadi superkonduktor. Dengan demikian di masa mendatang grafin akan bisa digunakan dalam elektronika yang sangat kecil dan tahan panas.
Namun saat ini, pencapaian Geim serta sejawatanya Novosleov yang membuat mereka dianugerahi hadiah, itu murni mengenai penelitian ilmu pengetahuan dasar.
Andre Geim adalah orang Belanda ke sepuluh yang pernah memenangkan hadiah Nobel Fisika. Tidak ada hadiah Nobel yang dianugerahkan kepada orang Belanda sebanyak hadiah Nobel fisika ini. Berikut ini penerima Nobel Fisika Belanda:
1902: Hendrik Lorentz dan Pieter Zeeman; Lorentz menemukan teori bahwa sebuah atom mengandung elektron. Sedangkan Zeeman karena berhasil membuktikan hal itu.
1910: Johannes Diderik van der Waals bagi teorinya mengenai kekuatan tarik menarik antara molekul.
1913: Heike Kamerlingh-Onnes; karena berhasil mendinginkan helium sampai -270BOC sehingga menjadi cair.
1953: Frits Zernike; karena penemuannya mengengai mikroskop fase kontras
1981: Nicolaas Bloembergen; karena sumbangannya bagi pengembangan laserspectroscopie; menerima hadiah bersama Arthur Schawlow en Kai M. Siegbahn.
1984: Simon van der Meer; karena rancangan uji cobanya yang berhasil menemukan partikel W dan Z. Berbagi hadiah bersama Carlo Rubbia.
1999: Martinus Veltman dan Gerard ‘t Hooft; mengembangkan teori untuk mengukur tingkah laku partikel-partikel elementer.

Blang Padang, milik TNI atau Pemerintah Aceh…?

SENGKETA tanah Blang Padang kembali mencuat. Kasus ini bergemuruh setelah Kodam Iskandar Muda memasang papan nama, bahwa lahan public seluas delapan hektar lebih ini sebagai miliknya. Di pihak lain, DPR Aceh mendesak pemerintah Aceh untuk mengurus sertifikat tanah ke Badan Pertanahan Negara ( BPN). Opini dan iklan dukungan bermunculan di media massa hingga mengalir deras ke jejaring sosial. Pertanyaannya, siapakah sebenarnya pemilik lapangan ini?

Hampir seminggu saya mengotak atik dan menelusuri asbabul nuzul Desah Arafah alias Blang Padang. Akhirnya saya menemukan tulisan Karel Frederik Hendrik (KFH) Van Langen, pegawai pemerintah Belanda yang pernah ditugaskan di Kalimantan dan Sumatra Barat. Pada tahun 1879, dia diperbantukan pada kantor Gubernur Aceh dan daerah taklukannya, Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Besar. Dia pula yang membiayai percetakan buku monumental karya Snouck Horgronje “ Atheheers” (E Gobee dan C Adriaanse: 1990). Van Langen pernah dipercayakan empat kali sebagai pejabat sementara Gubernur Aceh ( dari 1898 sampai dengan 1895) hingga ia meninggal dunia pada 18 April 1915 di Kota Ede, Gelderland, Belanda.

Van Langen menulis beberapa pengalamannya selama di Aceh. Di antaranya “De Inrichting Van Het Atjehschee Staatbestur Onder Het Sultanaat” pada tahun 1888 yang kemudian diterjemahkan oleh Prof Abubakar Aceh dengan judul Susunan Pemerintahan Aceh semasa kesultanan. Dalam buku ini disebutkan bahwa Blang Padang dan Blang Punge adalah Umeung Musara (tanah wakaf) Mesjid Raya Baiturrahman yang tidak boleh diperjualbelikan atau dijadikan harta warisan dan tidak ada pihak yang dapat menggangu gugat status keberadaan hak miliknya.

Tanoh meusarah digunakan sebagai sumber penghasilan imeuem Mesjid Raya Baiturrahman. Jika penghasilan dari tanah wakaf masjid ini tidak cukup membiayai Masjid Raya, maka dibantu oleh zakat padi atau barang barang lainnya dari penduduk yang berkediaman di sekitar masjid raya. Hasil tanah wakaf ini khusus untuk pemeliharaan masjid, seperti keperluan muazin, bilal, khatib dan kebutuhan lainnya. Jika ada perbaikan berat maka diminta bantuan pada penduduk.

Alkisah, ketika genderang perang Aceh vs Belanda dimulai pada 26 Maret 1873, Belanda melakukan kesalahan besar dalam sejarah invasi kolonialnya dengan menduduki dan membakar Masjid Raya Baiturrahman dengan melempar 12 granat pada Kamis, 10 April 1873. Rakyat Aceh makin marah, akibatnya berselang empat hari kemudian Belanda harus membayar mahal dengan tewasnya Jenderal J.H.R. Kohlier di halaman Masjid Raya pada 14 April 1873. Serdadu Belanda kabur ke Batavia pada 17 April 1873 (Paul Van Vier: 1979).

Belanda kembali melakukan invasi kedua pada 9 Desember 1873 dan 24 Januari 1874. Istana kesultanan Aceh berhasil diduduki setelah Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874M) meninggalkannya dan mengungsi ke Lueng Bata. Maka saat itu Letnan Jenderal Van Swieten mengumumkan pada dunia Internasional bahwa “Kerajaan Aceh, sesuai dengan hukum-perang (humaniter ) menjadi hak-milik Kerajaan Belanda” (Talsya: 1982). Seluruh kekayaan pribadi dan aset istana dirampas dan dijadikan milik pemerintah Belanda sesuai dengan asas hukum perang Reght van Over Winning (H.C. Zentgraaff:1981 ). Bekas istana ini dan aset pribadi Sultan Aceh ini kemudian dikuasai oleh KNIL Jepang, seperti Kuta Alam, Neusu, Kraton dan sejumlah asset lain yang sudah dialih fungsi saat ini.

Namun Masjid Raya dan aset wakafnya, ternyata tidak dirampas oleh Belanda untuk dijadikan sebagai harta rampasan hak menang perang sebagaimana berlaku asas Reght van Over Winning. Karena menurut Belanda ini (perang Aceh dengan Belanda ) bukan perang agama (perang Suci ), sehingga Masjid Raya Baiturahman yang telah dibakar pada 10 April 1873 dibangun kembali oleh Belanda pada Tahun 1879 oleh Gubernur Aceh Jenderal K Van der Heijden. Van Langen menulis dalam bukunya, bahwa tanah tersebut sebagai tanah meusara Masjid Raya dan tidak bisa dipindahtangankan. (Van Langen: 1888).

Jadi, secara jelas dapat dikatakan bahwa serambi Masjid Raya Baiturrahman adalah Blang Padang yang sempat digunakan sebagai lapangan olahraga dan pada tahun 1981 berganti nama menjadi desah arafah dan tempat arena MTQ Nasional. Karenanya, tidak heran di Blang Padang dari dulu menjadi tempat salat hari raya idul fitri dan idul adha, tidak dilaksanakan di lapangan lain karena tanah itu adalah milik Masjid Raya Baiturrahman. Dan keberadaan Blang Padang merupakan denyut nadi kehidupan masjid Mesjid Raya Baiturrahman dan Belanda Belanda sangat menghormatinya.

Menindaklanjuti polemik saling klaim antara pemerintah Aceh dan Kodam Iskandar Muda, dan hampir setiap hari ada iklan dukungan dari pemerintah kabupaten/ kota agar pemerintah Aceh dapat mensertifikasi tanah Blang Padang atasnama pemerintah Aceh sedang pihak TNI mengklaim itu adalah miliknya.Maka yang perlu dilakukan agar kedua belah pihak ikhlas mengembalikan tanah Blang Padang sebagai aset wakaf dan menjadi musara Mesjid Raya Baiturrahman yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umum seperti yang dilakukan sebelumnya .

Sebenarnya, masih banyak tanah tanah wakaf di Aceh yang masih perlu dibenahi sehingga tidak beralih fungsi dan kepemilikannya. Sebagaimana tulisan saya sebelumnya (Serambi, 29 November dan 6 Desember 2009), agar pemerintah Aceh mampu dan mau meluruskan tanah tanah wakaf di Aceh yang sudah tidak jelas statusnya saat ini.

Pemerintah Aceh harus belajar terhadap hal yang dilakukan Baitul Asyi di Mekkah al Mukaramah Saudi Arabia. Mereka mampu mengelola tanah tanah wakaf Aceh sudah ratusan tahun, meskipun sudah sekian kali dinasti berkuasa berganti. Sampai sekarang hasilnya masih bisa diperoleh para jamaah asal Aceh yang menunaikan ibadah haji. Para jamaah Aceh diberikan ganti berupa uang pemondokan jamaah haji sesuai dengan amanah wakaf di waktu kerajaan Aceh dahulunya. Dan mudah-mudahan tulisan ini bisa menjinakkan “nafsu ingin menguasai” harta milik Allah itu, dan Blang Padang dapat dikembalikan sebagai aset mesjid Raya Baiturrahman kembali. Sebab penjajah Belanda saja sangat menghormatinya, kenapa kita tidak.

*M Adli Abdullah – Penulis adalah dosen pada Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.