Foto-Foto Keji Penaklukan Aceh dalam Ingatan Belanda

Diterbitkan : 7 Februari 2011 – 11:12am | Oleh Joss Wibisono (KIT)

Kolonialisme Belanda di Indonesia ternyata juga diabadikan dalam bentuk foto-foto keji. Ada serangkaian foto keji penaklukan Desa Kuta Reh di Aceh yang terus menimbulkan kontroversi, yaitu debat pro dan kontra di Belanda.

Pada salah satu foto itu terlihat mayat-mayat bergelimpangan di bagian bawah, sementara tentara kolonial KNIL tampak di bagian atas membanggakan “kemenangan” mereka. Kemudian juga terlihat bayi masih hidup di dekat kaki salah seorang tentara KNIL. Paulus Bijl melakukan kajian untuk memperoleh gelar doktor terhadap cara orang Belanda menyikapi foto-foto mengerikan itu dari zaman ke zaman.

Dicapai kemajuan
Pertama-tama Paulus Bijl bertutur bahwa disertasinya berkisar tentang bagaimana khalayak Belanda menengok kembali satu ekspedisi tertentu pada Perang Aceh. Pada ekspedisi itu dibuat foto-foto di beberapa desa Gayo dan Alas yang penduduknya dibantai habis. Yang paling terkenal adalah foto di Alas. Paulus mempelajari bagaimana khalayak Belanda menyikapi foto-foto itu dalam 100 tahun terakhir. Apa makna yang mereka berikan terhadap foto-foto itu. Itulah intisari disertasinya.

Foto-foto itu dibuat oleh tentara, dalam hal ini KNIL. Fotografnya adalah dokter tentara, namanya Henri Neeb. Foto-foto itu dibuat untuk menunjukkan telah dicapai kemajuan. Pada saat itu, sekitar awal Abad XX, kolonialisme Belanda sampai pada periode penaklukkan wilayah-wilayah lain, selain Jawa yang sudah dikuasai sepenuhnya. Namanya penaklukkan wilayah-wilayah seberang.

Itulah sebabnya dikobarkan Perang Aceh. Dalam perang ini ada apa yang disebut ekspedisi ke Gayo dan Alas. Foto-fotonya dibuat untuk menunjukkan bahwa makin banyak wilayah Aceh yang ditaklukkan. Itulah makna foto itu bagi KNIL, tentara kolonial Belanda.

Mengalami ketegangan
Menarik untuk mengetahui mengapa penaklukan wilayah-wilayah luar Jawa itu dilakukan. Masalahnya, awal Abad XX sudah masuk zaman Politik Etis yang bertujuan meningkatkan derajat pribumi. Menurut Bijl, kolonialisme Belanda waktu itu sedang mengalami ketegangan. Di satu pihak Belanda ingin memberi pendidikan dan pelayanan kesehatan, tapi di pihak lain mereka juga ingin benar-benar menguasai Hindia Belanda. Sebelum pendidikan dan pelayanan kesehatan bisa diberikan, orang harus dikuasai dulu. Karena itu tentara dikirim. Orang-orang setempat tentu saja tidak mau, karena itu mereka melawan.

Gagasannya adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk, baru sesudah itu dilaksanakan Politik Etis. Tapi keduanya memang bertabrakan. Karena itu ada yang berpendapat kolonialisme Belanda merupakan imperialisme etis, atau diberi alasan etis, atau kalau mau lebih tegas lagi, imperialisme itu disirami kuah etis. Itu cuma lapisan etis. Tapi tujuan utamanya adalah menguasai daerah-daerah itu.

Kenyataan bahwa Belanda merasa perlu menunjukkan kekuasaannya, menurut Paulus Bijl itu berkaitan dengan apa yang terjadi di Eropa pada waktu itu. Semua negara Eropa sedang sibuk-sibuknya menaklukkan wilayah-wilayah lain. Orang Prancis, orang Inggris, Jerman juga ikut bergabung. Kalau satu negara Eropa ingin punya kekuasaan, maka dia harus punya koloni.

Itu meningkatkan status. Dan, biasanya terjadi belakangan, juga alasan keuntungan ekonomis. Selain itu juga ada gagasan bisa menjadi bapak, ini punya peran besar di kalangan orang Belanda, ingin menjadi pelindung. Politik Etis itu diwarnai paternalisme. Makanya orang Belanda tertarik untuk melancarkan ekspedisi itu.

Tidak bisa berbuat lain
Foto-foto penaklukan Gayo dan Alas langsung diumumkan oleh kalangan militer, dimuat dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1905. Foto-foto itu juga dipamerkan di Batavia. Publik Belanda bereaksi penuh keraguan. Langsung muncul debat ramai. Juga karena kolonialisme mengalami ketegangan.

Di satu pihak orang ingin membawa perbaikan, maklum Belanda merasa punya missi di Hindia Belanda. Cita-cita ini tentu saja dihancurkan oleh foto-foto yang kejam itu. Foto-foto ini memperlihatkan bukannya perbaikan yang dibawa ke Hindia melainkan kekejaman yang keji dan mengerikan.

Tapi banyak juga kalangan yang membela foto itu. Mereka di satu pihak memang mengakui bahwa foto-foto itu tidak baik, tetapi Belanda tidak bisa berbuat lain. Apa yang disebut ekspedisi militer itu tetap harus dilakukan. Tentu saja ada juga sejumlah kecil kalangan yang bersikap kritis. Mereka tidak setuju melihat orang-orang yang ditembak langsung.

Yang juga harus ditegaskan adalah bahwa di Belanda siapapun setuju dengan kolonialisme.Mereka setuju mengirim pasukan ke luar Jawa untuk mengendalikan keadaan. Tetapi ribut-ribut muncul dalam soal caranya. Haruskah dengan pendekatan militer atau justru bisa melalui perundingan dan lebih banyak kesabaran? Gagasannya tetap Belanda sebagai pelindung, gagasan yang paternalistis itu dianut dengan jelas oleh siapa saja.

Lebih baik dari Inggris
Yang terlihat adalah para pembela, pengkritik dan khalayak umum dihinggapi perasaan tidak enak. Muncul pertanyaan seperti apa sebenarnya kolonialisme Belanda? Apa yang dikerjakan Belanda di Hindia? Dan negara apa sebenarnya Belanda itu. Di balik itu orang Belanda menganggap dirinya lebih baik dari Inggris dan Prancis. Belanda harus memperlakukan warga koloninya dengan lebih baik. Dan foto-foto ini jelas memberikan gambaran yang lain.

Jadi tidaklah bisa dikatakan foto-foto penaklukan Aceh itu ikut memperkuat status Belanda sebagai negara Eropa dengan koloni terbesar. Yang jelas, di wilayah jajahan peningkatan status itu memang terjadi, karena dengan kekerasan yang keji orang-orang itu dilibas. “Dari dulu dan saya yakin sampai sekarang,” demikian Paulus Bijl, “Belanda selalu membanggakan diri sebagai negara yang beda dari negara-negara lain.” Negara-negara besar main politik kotor. Belanda tidak, Belanda main politik jenis lain. Menteri-menteri waktu itu mengatakan kita bukan imperialis. Kita hanya membawa yang baik-baik.

Tapi di balik perasaan tidak enak itu, Belanda tetap merasa statusnya meningkat. Yang jelas, dalam proyek menaklukkan wilayah-wilayah luar Jawa, dan itu termasuk ekspedisi ke Gayo serta Alas, wilayah-wilayah itu memang berhasil ditundukkan masuk kekuasaan Belanda.

10 tahun kemudian muncullah gerakan nasionalisme di Hindia Belanda. Sebelum itu sudah terbentuk perlawanan terhadap Belanda. Pada saat yang sama Belanda juga membangun negara kolonial. Penaklukan luar Jawa itu berlangsung serempak dengan pembentukan negara kolonial. Dan negara kolonial ini tegak sampai pendudukan Jepang. Jelas sampai saat itu dibangun kekuasaan kolonial.

Terutama foto-foto penaklukan desa Kuta Reh terlihat mengerikan sekali, banyak orang mati terbantai. Bisakah dikatakan inilah rangkaian foto pertama hasil embeded journalism. Tapi Paulus Bijl buru-buru menambahkan, kita harus tahu pembuat fotonya adalah seorang dokter tentara, ia jelas merupakan bagian tentara. Yang jelas-jelas wartawan embeded adalah harian Deli Courant yang mengirim wartawannya ke beberapa desa itu dan mengirim laporan. Jadi memang ada wartawan, tapi foto-fotonya dibuat oleh seorang dokter tentara yang sekaligus memang fotograf tentara.

Rasisme garis pemisah
Sulit dimengerti bagaimana Henri Neeb yang dokter itu, bisa mengabadikan banjir darah yang begitu tidak manusiawi. Bukankah sebagai dokter ia harus menolong mereka yang cedera? Pertama-tama, demikian Paulus Bijl, Henri Neeb bekerja hanya untuk KNIL, tentara kolonial. Di dalamnya juga banyak orang Maluku dan Menado. Kalau prajurit-prajurit itu yang cedera maka dia akan turun tangan. Tapi, Paulus mengakui memang ini ada sesuatu yang aneh. Dokter yang berada di tengah kematian mengerikan seperti ini, dia membiarkannya, bahkan kemudian memotretnya. Ini berkaitan dengan rasisme.

Karena rasisme orang bisa membuat garis pemisah dalam masyarakat kolonial antara orang-orang yang harus tetap hidup dan orang yang bisa mati. Orang-orang Aceh yang terlihat dalam foto ini jelas berada di sisi lain garis pemisah rasial itu. Mereka melawan pembangunan negara kolonial. Perlawanan mereka dihadapi dengan kekerasan yang luar biasa.

Dan dokternya bisa dilihat sebagai orang yang membantu negara kolonial. Dia lebih merupakan dokter negara kolonial katimbang dokter orang biasa. Semua yang memperkuat negara, termasuk juga para prajurit, harus disembuhkan. Kalau ada orang yang tidak membantu pembentukan negara kolonial, bahkan melawannya maka mereka patut dilibas.

Itu termasuk perempuan dan kanak-kanak, karena semua warga desa melakukan perlawanan. Pria, perempuan dan anak-anak. Paling sedikit kita hanya tahu soal ini dari laporan orang Belanda. Ini penting karena kita tidak tahu dari sumber lain. Itu memang bisa merupakan gambaran yang salah. Tapi di situ bisa dibaca bahwa segenap warga desa melawan agresi Belanda.

Prajurit versus perwira
Dan mereka hanya menggunakan senjata-senjata primitif, tongkat, batu, tidak ada yang istimewa. Juga senjata yang sudah ketinggalan zaman. Sedangkan orang Belanda membawa senjata otomatis, sehingga perang itu sangat tidak berimbang. Karena itu warga desa tidak mungkin bisa menang perang.

Salah satu foto memperlihatkan banyak prajurit yang berdiri di atas mayat-mayat para pemberontak. Dan terlihat betapa sebagian besar prajurit itu bukan orang kulit putih. Dari pelbagai arsip kita tahu bahwa prajurit-prajurit itu berasal dari Sulawesi, di wilayah sekitar Manado dan orang Maluku. Ambon sering disebut sebagai tempat asal orang-orang yang diterima dalam KNIL. Sedangkan semua perwira menengah dan tinggi semuanya orang Eropa.

Orang pribumi tidak boleh menjadi perwira. Itu juga pemisahan yang rasistis. Ada yang bisa menjadi anggota marsosé, tapi ada yang bisa menjadi perwira, cuma yang perwira itu harus orang Eropa.

Dari Aceh ke Afghanistan lewat Belanda
Diterbitkan : 27 Januari 2011 – 10:40am | Oleh Joss Wibisono (Ranesi)

Aceh dan Afghanistan: apa kaitannya? Kecuali sama-sama bermayoritas penduduk muslim, kaitan langsung antara keduanya rasanya terlalu dicari-cari. Siapa bilang?

Ternyata yang disebut kaitan itu adalah Belanda, khususnya Kementerian Pertahanan Belanda. Begini ceritanya.

Ketika mempersiapkan missi militer di Uruzgan, Belanda mempelajari lagi Perang Aceh, serta bagaimana Aceh waktu itu bisa ditaklukkan. Tentang makna kaitan Afghanistan Aceh dan Aceh sebagai sumber inspirasi bagi missi militer Belanda di Uruzgan, berikut bincang-bincang dengan Paulus Bijl yang baru saja memperoleh gelar doktor setelah menulis disertasi tentang kekejaman kolonial Belanda

Beban missi budaya
Sebelum melakukan missi ke Uruzgan di Afghanistan, pasukan Belanda memang kembali mempelajari situasi Aceh, terutama Perang Aceh yang berlangsung antara tahun 1873 sampai 1904. Ada beberapa alasan mengapa hal itu dilakukan. Salah satunya adalah gagasan counter insurgency, di sini Kementerian Pertahanan Belanda ingin mempelajari bagaimana Jenderal Van Heutsz bisa menaklukkan Aceh. Juga apa yang bisa dipelajari dari hal itu.

Di pihak lain, Perang Aceh itu berlangsung pada periode Politik Etis. Ini juga merupakan inspirasi untuk zaman sekarang. Ada seorang perwira tinggi Belanda yang bicara tentang Pendekatan Belanda, Dutch Approach. Menurutnya kita ke Uruzgan bukan untuk memerangi Taliban, tapi untuk membuat mereka tidak diperlukan lagi.

Di sinilah unsur paternalismenya. Pemikiran seperti itu dilatarbelangi pendapat bahwa orang-orang di Uruzgan tidak bisa mengurus diri sendiri. Karena itu Belanda harus ke sana untuk membantu mereka. Gagasan seperti ini sudah ada sejak Indonesia menjadi jajahan Belanda. Penguasa kolonial sangat mencurigai penguasa lokal, mereka dituduh memperlakukan penduduk setempat dengan buruknya. Karena itu di Eropa muncul berbagai gagasan soal ini. Inggris misalnya datang dengan gagasan White Man’s Burden, Prancis punya gagasan Mission Civilisatrice, dan Belanda datang dengan Politik Etis.

Gagasannya adalah Eropa punya cara yang lebih baik. Rakyat setempat tidak tahu dan tidak paham. Kalau pemimpin setempat itu bisa diusir, maka rakyat akan sadar bahwa hidup di bawah naungan bendera Eropa akan lebih nyaman. Jadi unsur paternalisme itu masih ada dengan kuatnya.

Dulu memang bisa dikatakan mereka paternalistis, apalagi waktu itu masih zaman kolonial. Kalau sikap seperti itu sekarang ternyata masih diteruskan, bisakah dikatakan Belanda tidak belajar dari masa lampaunya di Aceh?

Kolonialisme paternalisme
Belajar dari masa lampau selalu sangat rumit. Yang jelas sekarang sudah tidak ada wilayah koloni lagi. Kolonialisme seperti yang dikenal dulu sekarang sudah tidak ada lagi. Indonesia sudah merdeka dan Belanda sudah tidak menentukan lagi di Indonesia. Selain itu juga sudah ada pelbagai organisasi internasional yang berupaya menjaga dan meyebarkan demokrasi. Tetapi ternyata masih ada saja gagasan-gagasan kolonial, misalnya sikap paternalisme itu. Jadi ada yang sudah berubah tapi ada juga yang tetap seperti dulu.

Yang juga perlu diingat adalah lembaga-lembaga internasional yang dibangun bersama, seperti PBB, ternyata juga rentan terhadap pengaruh negara-negara besar. Di satu pihak harus terjadi banyak hal, misalnya karena IMF dan Bank Dunia tidak berperan baik di negara-negara yang tidak begitu maju. Politik hutang negara-negara miskin juga tidak menguntungkan mereka, jadi masih banyak yang harus diperbaiki.

Di pihak lain kita juga harus awas supaya hubungan-hubungan yang sudah ada tidak memburuk. Di situ masih banyak perimbangan yang rentan. Karena itu kita tidak bisa beranggapan bahwa semuanya akan tetap baik.

Pertanyaan terakhir, Politik Etis dulu akhirnya berdampak lain dari yang diharapkan Belanda, karena dari situ lahir pemuda-pemudi yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dengan politik di Afghanistan, apakah hasilnya juga akan lain dari yang diharapkan dunia Barat?

Bukan warga negara
Ini pertanyaan yang sangat sulit. Salah satu kesalahan fundamental Belanda di Indonesia adalah bahwa warga Hindia Belanda waktu itu tidak pernah diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka. Dengan kata lain, mereka tidak pernah menjadi warga negara. Pernah saat seperti itu nyaris akan terjadi, sering disebut tahun 1918, tetapi itu batal, sehingga Hindia Belanda tidak pernah merupakan warga wilayah koloni itu. Pendapat mereka tidak pernah didengar, mereka selalu diabaikan. Jelas mereka tidak mau.

Kalau akhirnya warga Afghanistan berhasil diyakinkan soal demokrasi dan demokrasi itu benar-benar dipraktekkan, maka missi militer ke Afghanistan akan bisa berhasil. Tapi orang-orang Afghanistan sendiri juga harus mau. Tidak bisa dipercaya bahwa sebuah sistem, seperti demokrasi, bisa ditanamkan dari luar. Kalau orang-orang di sana benar-benar mau punya masyarakat yang aman sentausa, maka itu akan bisa terlaksana. Kalau tidak maka keadaannya akan makin rumit. Karena jelas kita tidak bisa memaksakan sesuatu dari luar. Itu tidak pernah jalan di Hindia Belanda dan juga tidak akan jalan di Afghanistan.

Sekarang pemerintah Belanda berminat kembali mengirim satuan polisi ke Kunduz, Afghanistan, dengan tugas melatih polisi setempat. Pihak oposisi tidak setuju dan mereka tampaknya merupakan mayoritas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s