MAKANAN DI BELANDA

Seleraku…Tetap Selera Indonesia
Mar 17th, 2010
by pengalamanku.

Pepatah “Think globally, act locally” sepertinya cocok sekali dengan saya. Meskipun katanya sudah “go international” dalam hal pendidikan, tapi selera saya tetap saja selera lokal alias tidak nyaman perut kalau belum makan nasi. Hahaha.

Dua hari pertama tiba di Groningen, saya hanya makan roti saja karena belum punya beras dan penanak nasi. Duh rasanya perut ini tidak nyaman sama sekali, lapar terus bawaannya tapi selera makan langsung turun kalau lihat roti.” Alamak! Roti lagi roti lagi” gumam saya dalam hati. Di pelupuk mata terbayanglah makanan-makanan yg biasa saya sajikan buat suami dan anak tercinta. Duh… terpaksa mengganjal rasa lapar dengan minum susu.

Bolehlah saya ini dianggap ndeso alias kampungan. Tapi memang saya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa saya tidak nyaman mengkonsumsi makanan ala Eropa seperti sandwich, croissant, spaghetti maupun aneka salad. Jadi betapa bahagianya hati ketika senior di fakultas saya menawarkan makan nasi di kamarnya. Aha! tawaran yang tidak akan ditolak.

Mengetahui selera saya yang tidak bisa lepas dari makanan Indonesia, senior saya memperkenalkan saya pada toko Orientals dan toko Melati yang menjual rempah-rempah dari Indonesia maupun Cina di Groningen. Cukup banyak bumbu-bumbu asli Indonesia bisa ditemukan di toko Orientals maupun toko Melati, baik yang segar maupun yang sudah dikeringkan. Sangking senangya langsung tersusun rencana di benak saya tentang akan masak apa selama di Groningen. Aha!

Menurut artikel “Food Guide” yang ditulis mbak Cinthya Sopa di milis PPI Groningen, selain kedua toko tersebut, bumbu-bumbu Indonesia juga bisa dibeli di vishmarkt, toko Weuro, de Kruidenier, Le Souk, dan Kruiden en Keramiek.

Begitu beragamnya rempah-rempah Indonesia disini sehingga ada pameo “Belanda itu gudangnya rempah-rempah dari Indonesia. Bila kamu tidak mendapatkan suatu jenis rempah Indonesia dijual di Belanda, berkemungkinan besar kamu tidak akan menemukannya di Negara Eropa lainnya.” Meskipun belum membuktikan sendiri, tapi saya cenderung percaya karena cukup mudahnya mendapatkan bumbu Indonesia di sini.

Untuk yang tidak suka memasak, bisa juga membeli makanan ala Indonesia di beberapa restoran di Belanda. Untuk kota Groningen, makanan Indonesia bisa dibeli di Toko Semarang, Warung Djawa dan restoran Pakarena. Meskipun akan sedikit lebih murah kalau masak sendiri, restoran tersebut bisa jadi alternatif gampang menikmati makanan Indonesia tanpa repot-repot di dapur.

Cara lain untuk mendapatkan beberapa makanan Indonesia dengan harga minim yakni bikin acara kumpul dan makan bareng mahasiswa Indonesia lainnya. Biasanya setiap mahasiswa sumbangan makanan buatan mereka. Dengan cara ini, kita cukup menyiapkan satu jenis makanan saja tapi nantinya bisa menikmati berbagai makanan lain.

Meskipun komunitas muslim merupakan golongan minoritas di Belanda, bukan berarti sulit mendapatkan daging halal di sini. Ada beberapa penjagalan hewan yang menjual aneka daging merah dan daging ayam halal seperti Nazar, Al-Fysal dan Islamitichse Slagerij Halal. Meskipun tidak selengkap Al-Fysal, saya biasa berbelanja di Nazar karena lebih dekat dengan tempat tinggal saya. Harga dagingnya relatif murah menurut ukuran Eropa.. tapi tetap saja terasa mahal kalau dikonversi ke Rupiah (Duh kebiasaan jelek yang sulit dilepaskan; membandingkan harga barang dengan harga di Indonesia)

Berbagai kebutuhan pokok bisa dibeli di swalayan-swalayan Albert Heijn, Aldi, Lidl, maupun Jumbo. Sembako tersedia lengkap di swalayan-swalayan tersebut. Tapi mesti pintar membandingkan harga dari setiap swalayan sehingga bisa dapat harga yang lebih murah. Setiap swalayan memberikan harga berbeda pada setiap produk sejenis yang dijual. Kalau saya pribadi, cenderung belanja pada produk bermerek “Euroshopper” karena harganya lebih murah. Maklum saja, anggaran mahasiswa cukup terbatas sementara keinginan sangat banyak. Jadinya menyiasati dengan berhemat di makanan. Hehehehe.

Di Groningen, maupun kota-kota lain di Belanda, juga ada restoran siap saji seperti McDonald’s dan KFC. Tapi harus diingat kalau restoran ini berbeda dengan yang ada di Indonesia. Jika di Indonesia kita bisa bebas mengambil saus tomat atau saus sambal, kalau disini untuk satu bungkus saus tomat ataupun mayonnaise kita mesti bayar 50 sen. Dan yang lebih menyedihkan rasa saus tomatnya sangat tidak enak, lagipula tidak ada saus sambal. Jadi jangan heran kalau mahasiswa Indonesia makan di restoran tersebut berbekal saus tomat atau saus sambal impor dari Indonesia. Hahaha.

Cerita Susanah Agus

http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2010/03/17/selerakutetap-selera-indonesia/#more-431

Tips menjamu orang lokal dan interlokal buat yang tidak bisa masak
Mar 19th, 2010
by pengalamanku.

Masak itu bukan nama tengah saya dan buat saya makanan itu cuma ada dua rasa: enak atau sangat enak. Saya baru belajar masak di Belanda gara-gara HARUS, kalau tidak saya bakal kelaparan atau tongpes karena makan diluar terus.

Awal-awal datang, lebih dari 4 tahun yang lalu, saya cuma masak yang super gampang: bawang putih pakai cabe pakai garam dan gula, dicampur sama berbagai jenis sayuran (saya vegetarian). Buat saya pada waktu itu uda bangga banget (sekarang masih bangga cuma berkurang sedikit), cerita-cerita ke mama, saya masak macam-macam disini, padahal mah…

Karena masakan Indonesia di perspektif saya itu persiapannya banyak (bayangkan, padahal cuma bawang putih), pasta jadi makanan harian gara-gara gampang, murah, enak, dan mengenyangkan. Tapi lama-lama bosen dan timbangan naik. Apalagi sejak mulai berteman dekat dengan banyak orang-orang internasional, saya jadi memaksa diri buat belajar masak masakan Indonesia. Alasannya karena kalau bikin makanan barat seperti pasta, biasanya teman-teman internasional saya itu jauh lebih jago dan enak hasilnya. Dan dengan tekanan mereka yang ingin mencicipi masakan Indonesia, saya mulai berkenalan dengan bumbu-bumbu selain bawang putih, garam, gula, dan bouillon (kaldu) vegetarian . Soalnya lama-lama malu juga kalau menyuguhkan masakan rasanya sama terus cuma sayurannya aja yang ganti-ganti. Tapi bumbu-bumbu baru yang saya kenali cuma lengkuas dan daun salam kok. Lumayanlah kombinasi ini bisa diterapkan di lebih banyak sayur lagi dan rasanya bisa beda dikit-dikit.

Dengan memakai alasan vegetarian, saya biasanya masak masakan yang gampang-gampang. Gado-gado, tahu tempe kecap, nasi goreng, bakmi goreng, sayur bening, balado terong, orak arik, fuyunghai sayur jadi menu populer. Yang penting kan kelihatannya OK dan mengundang, tidak penting susah atau gampang bikinnya. Lagipula menu-menu di atas itu jarang gagalnya.

Lama-lama, mulai malas masak tapi tetap suka ngundang-ngundang orang, saya beli aja deh semua di toko oriental. Saya memakai alasan karena darah saya aslinya tionghoa, jadi saya mengkombinasikan masakan Chinese dan Indonesia. Padahal mah gara-gara di toko oriental itu banyak bahan-bahan makanan sudah jadi yang tinggal digoreng atau dikukus kayak dumpling bayam, dumpling keju, dumpling jamur.

Pernah suatu kali saya mengundang 8 orang teman internasional. Karena waktu tidak memungkinkan buat motong-motong ga jelas, saya “masakin” mereka Indomie goreng, dumpling bayam, dan gado-gado yang bumbunya tinggal dikasih air panas, ditutup dengan es krim rasa durian. Hasilnya? Mereka minta lagi, dan bilang terus-terusan bahwa masakan saya adalah masakan Asia yang paling enak yang pernah mereka rasakan.

Cuma hal yang sama tidak bisa terulang sama teman-teman Indonesia. Yang ini triknya beda lagi. Kalau sama teman-teman bule kunci suksesnya adalah keunikan menu (menyuguhkan menu yang mereka tidak pernah tahu sama sekali), kalau sama teman-teman Indonesia, kunci suksesnya itu keju. Misalnya kalau masak pasta saus tomat, hasil sausnya nanti pasti bukan merah, tapi merah jambu. Karena proporsinya 1 botol saus tomat sudah jadi khusus untuk pasta, dicampur dengan 250 gram keju yang dicairkan. Kasih bawang-bawangan, kasih bouillon, merica hitam yang harus diparut (tenang, ada mesinnya langsung, ga usah marut sendiri), garam sedikit, dan voila! Tiba-tiba mereka tersenyum dan bilang, ini adalah pasta saus tomat yang paling enak yang pernah mereka rasakan. Saya tidak terkejut.

Cerita Tita Alissa Listyowardojo, Groningen
VN:F [1.6.5_908]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s