CV – Hal Penting untuk Menembus Industri di Timur Tengah & Eropa

CV – Awal Keberadaan kita di Qatar

Sebelum calon bos merekrut kita, tentunya informasi pertama yang mereka tau tentang kita adalah apa-apa yang tergambar dari CV yang kita buat. Banyak orang yang skill dan pengalamannya bagus dan bekerja di perusahaan besar dan bonafit di Indonesia tetapi CV yang mereka kirim tidak pernah terjawab. Namun juga tidak sedikit orang yang lebih rendah kualifikasinya tetapi CV nya bisa membuat calon bos penasaran untuk kemudian memprosesnya.

Artikel tentang CV banyak kita temukan. Entah berupa buku, koran ataupun dalam bentuk tulisan ringan yang bertebaran di dunia maya. Menurut pemikiran abang, ada satu hal yang terlupa saat seseorang membuat CV, yaitu untuk siapa CV itu dibuat atau dengan kata lain “siapa sih yang bakal membaca CV tersebut ?”, sehingga aplikan tau apa sih maunya calon bos. Sebagaimana kalo kita ingin menang bermain sepak bola, kita harus tau dulu siapa calon musuh kita. Setelah itu baru kita bisa menentukan strategi mana yang tepat untuk menghadapinya. Bertahan lalu menyerang balik atau dari awal sudah melakukan penekanan ke daerah pertahanan lawan. Lain musuh lain strategi, itu mungkin poin nya.

Sekarang pertanyaannya adalah siapa calon bos kita? Bagaimana umumnya karakter mereka ?.

Jawabannya, baca terus…..

Di Qatar dan umumnya gulf country, jika diurut dari jumlah orang yang menduduki posisi pentingnya adalah Arabian, trus bule, trus India. Biasanya yang menjadi pengambil keputusan akhirnya adalah Arabian yang biasa disebut dengan mudir.

Secara umum mereka memberi respon yang positif terhadap orang Indo. Jika dibandingkan dengan orang Indo, mereka kurang suka yang namanya inovasi, namun lebih suka dengan hal yang ringkas dan mudah Ga heran kalo mereka berangkat kerja cuman pake sandal selempang dan baju gamis. Itulah mungkin sebabnya mengapa kebanyakan mereka mencari anak buah yang berasal dari perusahaan sejenis dengan anggapan anak buahnya bisa langsung kerja, ga mau repot dengan banyaknya training.

Pada posisi yang sama bahkan terjadi juga pada posisi yang lebih tinggi, kemampuan dan pengalaman kerja mereka masih jauh dibawah kita, sehingga terkadang mereka tidak tau dengan pasti sampai dimana sih kinerja maksimal kita. Ini dipicu oleh sederhananya pemikiran dan pengalaman mereka. Kelemahan mereka ini jelas memberi manfaat bagi kita sehingga kita sudah menang 1-0 dalam hal ini. Buntut pelarian dari semua ini adalah sebagian dari mereka menjadi lebih tertarik dengan perilaku, penampilan dan tutur kata dari pada segudang pengalaman dan skill yang kita miliki.

Sedangkan karakter bule, kita semua sudah maklum adanya. Mereka biasanya lebih professional dan lebih mementingkan “isi” daripada “kulit”. Adapun India…ehm… sebisa mungkin mereka akan menolak orang lain kalo beda passport dengan mereka. Satu sikap yang harus di contoh orang Indo baik yang di luar maupun dalam negeri.

Jadi kuncinya adalah kita pegang mudirnya, khalas….selesai urusan.

Serangan secara terus-menerus adalah strateginya. Kalo tidak peluang2 ini akan diambil bangsa lain, khususnya India dan Pakistan yang sudah tau benar watak orang Arab dan lebih dulu mengambil peluang yang ada.

Strateginya :

1. Teliti persyaratan kualifikasi yang diminta.
2. Jawab semua persyaratan tersebut melalui CV, berarti lain lowongan lain CV.
3. Buat CV yang ringkas dan gampang difahami, namun langsung ke sasaran yang mereka mau.
4. Masukan hanya hal2 yang ada hubungannya dengan kepentingan bisnis mereka.
5. Nyatakan bahwa kita menguasai semua lingkup kerja kita. Ingat, lingkup kerja di Qatar sangat sedikit dan sempit., sangat berbeda dengan di Indonesia.
6. Cari lebih banyak lagi info tentang calon bos sehingga kita bisa membuat strategi bermain yang lebih baik.

Sebagai pelengkap, sang pelamar harus pintar2 membuat “sinyal” atau “:sentuhan” yang bisa membuat calon bos merespon CV nya. Apa dan bagaimana “sinyal dan sentuhan” itu. Tunggu di postingan berikutnya tentang “Cara Membuat CV”.

#######

How to make a sale value CV?
EVER FELT LIKE YOUR RESUME IS LETTING YOU DOWN?

There are many reasons for writing a resume, but the most common one is to get a new job. More specifically, it is to get you the interview that gets you a new job. Why is it then, that so many resumes fail to achieve the desired result?

Let’s forget about analysing what doesn’t work and go straight to what does work? And there is nothing like an example, so see the link at the end of this document.

SO WHAT WORKS?

Have a look at your existing resume and ask yourself:
1. Does this document have simple structure and a clean layout?
2. Is it formatted properly and consistently throughout with standard fonts in 10pt or 11pt?
3. Does it make lots of use of bullet points?
4. Does it have a reasonable amount of white space?
5. Does it use a minimal amount of bolding?
6. Is it not too short and not too long?
7. Does it reveal the breadth and depth of my experience?
8. Is it relevant to the job for which I am applying?

Now compare it to the example… do you still think so?

Structure and Layout.
1. Eight out of ten resumes we see are poorly structured and that may well include yours. If you don’t know how to use Microsoft Word properly, pay someone to lay your resume out for you. It will be worth it.
2. You can use a template if you insist on doing it yourself and there are plenty of free ones on the web to choose from.

Length.
1. One page is not enough, but then you do not want to write a full on autobiography either.
2. Keep the body of your resume to three pages.
3. Use appendices to add relevant details.

Content
1. The first section of your resume is where you ‘sell’ yourself. This should be around three pages and should provide the reader with your contact details, your key selling points, tertiary qualifications and a synoptic chronology of your employment.
2. Always write in third person. The absence of ‘I’ makes the document read as being more authoritative and less egocentric.
3. Most importantly, write outcomes rather than actions. So you planned and drilled 5 multilaterals… big deal. But you did it in 3 weeks less than estimated, hit 4 pay zones, saved the company $2M and added a further 5Tj of gas… now that is a big deal! (When can you start?)
4. Make sure your synopsis of employment covers the ‘breadth’ of your experience. The ‘depth’ of your experience and other technical information should go in the Appendix. This is where you tell rather than sell.

Appendices
– These are great. In here go a few pages containing details of your Technical Experience, Professional Memberships, Training, Papers, Referees, etc.

A FEW DON’TS

1. Even if you have movie star looks, don’t put your photograph in your resume. You’ve heard the expression “If looks could kill…”, well they certainly can kill your chances of getting an interview. Your photograph will never get you the interview, but it sure can lose it for you… play safe and leave it out.
2. For the same reasons as leaving out your photograph, you should also leave out personal interests and other ‘non work’ related information. It will never get you the interview and only serves to distract the reader.
3. Don’t leave chronological gaps. If you took 12 months off to run a restaurant, say, “1999 – 2000 Pursued private business interests.” If you say you ran a restaurant, prospective employers may question your commitment to your profession. If you are suitably vague (as above) they will not draw any conclusion, thus giving you the chance to explain it at interview if needed.

IN CONCLUSION

A good resume demonstrates the way your mind works and displays your professionalism. Once you have finished it, get other people to critique it for you.

Don’t ask them if they like it. They will of course say “Yes” because they don’t want to hurt your feelings. Ask them, “Is this the best resume you have ever seen?” Then you will get some critical and useful feedback.

########

Interview dengan User
Setelah interview dengan HR, abang diantar ke plant yang lokasinya berada di Mesaieed sekitar 40 KM ke selatan Doha, yah kurang lebih Bogor-Cawang lah. Hanya saja hampir disepanjang jalan setelah keluar Doha, abang cuman bisa liat gurun pasir. Jalannya sangat lebar untuk jumlah mobil yang ada. Tiga ruas di tiap jalurnya sehingga membuat perjalanan begitu singkat. Di tengah perjalanan melewati pemukiman yang disebut Wakra. Ini adalah lokasi terdekat dengan Mesaieed. Setelah melewati Wakra abang mendapati rambu-rambu segi tiga merah yang didalamnya bergambar onta. Waktu abang Tanya, kata drivernya disini kadang-kadang onta bisa nyebrang jalan semaunya, jadi mesti hati-hati sama binatang khas arab ini. Oh….

Sebelum masuk ke plant, abang disyaratkan untuk membuat gate pass dulu. Wah, rame juga antrinya, karena memang itu satu-satunya tempat untuk membuat gate pass di kawasan industri di daerah mesaieed. Untungnya perusahaan tempat abang interview mempunyai counter sendiri, ditambah lagi yang ngatar itu Qatari, jadi ya…bisa cepat.

Di plant abang diantar ke perwakilan HR, trus di antar lagi ke bagian yang bakal merekrut abang. Disini abang langsung bertemu Head Section, big boss di area tersebut yang lagi meeting dengan senior staffnya (calon bos abang), keduanya adalah Qatari. “Ahlannn…” kata mereka berdua. Calon bos abang langsung mengajak salaman sambil berpelukan…aduh….jadi grogi dipeluk begitu…..Diawal percakapan beberapa kali dia memuji nama abang dan nama keluarga abang yag berbau Islam, :”Your name and your family’s name are very good” katanya. “eupp, thank you” kata abang. Padahal di Indonesia nama seperti itu biasa dan tidak pernah ada yang memuji seumur-umur ketika abang interview. Setelah itu giliran Big boss yang salaman dengan abang. Dia cuman nanya dua pertanyaan yang lebih singkat dari yang di HR. :”How was your trip?” dan “what is your opinion about Qatar?”. Ya abang jawab aja “very nice, Qatar is a good and beautiful country”. Dianya senyum aja, sambil bilang “khalas (= selesai) …..???$$$???.

Kirain udah bebas, eh ternyata dan ternyata….. calon bos memanggil teman-teman dan bawahannya untuk melakukan panel interview. Tadinya abang santai aja karena juga pernah di tanya rame-rame begitu waktu sidang skripsi dulu, kalo ga salah dengan lima panelis. Tapi ini lain, kenapa? karena selain pakai bahasa inggris (yang ga semua panelis bagus pengucapan englishnya) juga ditanya oleh DELAPAN panelis, waduhhhh….

Untungnya abang sudah bawa tiga lembar copy CV, langsung aja abang serahkan ke mereka. Ajaib….semua panelis cuman nanya dari CV itu doang. Hebat kan ??? Belakangan baru abang tahu kenapa para panelis itu hanya bertanya dari sesuatu yang ada di CV itu saja. Mau tahu rahasianya??? (tunggu di postingan yang lain, insya Allah)

Satu jam di keroyok rame-rame akhirnya abang masih hidup juga (emang di apain coba ?), trus calon bos ngajak mutar-mutar di area kerjanya sambil memperkenalkan dengan semua yang ada di sana. Oh ya, dia kayanya senang banget sama orang Indonesia makanya banyak anak buahnya yang di rekrut dari Indonesia. Ternyata dia punya maksud lain saat mengajak mutar-mutar itu, selain mengenalkan sama orang-orang sekitar (duh, padahalkan belum lulus tesnya), dia juga menguji kemampuan dan pengetahuan kita di lapangan. Sering dia nanya tentang alat-alat di area kerja itu, apa fungsinya dan bagaimana cara kerjanya. Untungnya abang bisa jawab, walau dengan bahasa tarzan tapi dia mengerti maksud abang.

Setelah mutar-mutar dia bilang satu kalimat yang senang banget di dengarnya :”Insya Allah you will join here………” aduh jadi tambah GR aja nieh….Kemudian abang diantar lagi ke big boss nya dan si big boss bilang : “Let him ask to Indonesians till he knows about us”. Trus calon bos tadi mengatar abang lagi ke salah seorang Indonesia (bawahannya), biar abang banyak nanya seperti apa yang dimau big boss. Abang dikenalkan tentang aktivitas di area kerja itu oleh teman Indonesia tadi, sampai dia menjelaskan mengenai salah satu peralatan disana, tiba-tiba big bossnya datang dan langsung bilang :”Yaa fulan, don’t tell him about this equipment, I am sure hundred percent he knows it, but tell him about Qatar, its season and cultures. And one more thing, tell him about how can he brings his family as soon as possible”. Cukuplah kalimat terakhir ini yang membuat hati abang jadi merasa gimanaaa gitu,…..

Interview selesai pas jam makan siang. Setelah pamit dengan big boss dan calon bos Abang diajak makan dikantin oleh teman indnesia tadi. Waktu itu abang duduk satu meja dengan orang Indonesia semua. Mungkin sekitar sepuluh orang lah. Kayanya akrab banget sesama Indonesia di negri orang. Mereka sangat welcome melihat abang interview disana. Thanks my friends.

Setelah makan siang selesai abang diatar pulang ke hotel. Acara resmi hari itu selesai, tinggal nunggu medical test besok pagi. Sorenya masih dijemput lagi oleh teman STM yang kemarin untuk jalan-jalan ke Khalifa Stadium dan Vilagio Mall. Satu yang menarik dari Mall ini adalah bagian atas gedungnya seperti laangit benaran seolah-lah kita berjalan diluar gedung. Hebat !.

Manfaat cerita ini:

1. Fahami benar isi CV kita, jangan lupa dibawa beberapa copynya saat interview karena itu akan mengarahkan pertanyaan panelis kesana.
2. Kalau lemah englishnya, pelajari kira-kira pertanyaannya apa (maka kita akan tahu jawabannya) kemudian jawaban itu di translate ke English, lalu hafalkan (pengalaman pribadi….:)).
3. PD sangat dibutuhkan saat interview dan yakinlah bahwa kemampuan dan pengalaman orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain, buktikan sendiri nanti.
4. Sebelum interview cari tahu orang Indonesia yang ada disana, tanya apa dan bagaimana tentang perusahaan dan calon bos kita. Insya Allah orang-orang Indonesia yang ada di Qatar akan membantu walau kita hanya kenal lewat email.

Source : http://abang-qatar.blogspot.com/search/label/CV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s