Musim Dingin Di Belanda

Pengalaman Musim Dingin di Groningen
Jan 6th, 2010
by pengalamanku.

Suatu hari di akhir musim panas lalu, pembimbing akademik saya mengatakan bahwa tidak selalu ada banyak salju di Groningen saat musim dingin.

Barangkali saya akan beruntung melihat banyak salju, tapi berkemungkinan pula tidak ada salju katanya. Namun ternyata musim dingin kali ini salju turun begitu tebalnya, bahkan sempat terjadi badai salju di pekan ketiga Desember lalu.

Sebagai pendatang dari negeri tropis, tentu saja saya harus memperlengkapi diri secara memadai menghadapi musim dingin pertama dalam hidup saya. Mengingat saya akan memakai pakaian berlapis-lapis, maka saya memilih jaket musim dingin yang sedikit lebih besar dari ukuran normal saya. Saya lebih memilih sarung tangan tebal yang berlapis kulit atau bahan yang kedap air karena udara yang terlalu dingin tidak akan menusuk ke tangan kita saat keluar rumah maupun saat bermain salju.

Karena salju bisa menjadi sangat licin, saya membeli sepatu boots yang bertapak gerigi agar tidak mudah tergelincir kala berjalan di atas salju.
Karena temperatur bisa berkisar dari 7 derajat hingga minus 15 derajat Celcius di musim dingin, saya lebih memperbanyak konsumsi buah, sayur, susu dan vitamin C dosis tinggi untuk menjaga daya tahan tubuh saya agar tidak mudah terserang penyakit-penyakit pandemik di musim dingin.

Karena sistem pengobatan penyakit di Belanda ini cenderung alami alias dokter tidak akan meresepkan obat kalau penyakit masih bisa diatasi oleh sistem imun kita, maka saya lebih memperhatikan asupan gizi saya di samping menjaga pola makan yang lebih teratur sekaligus mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak perlu.

Apa sih yang menarik dari tumpukan salju yang tebal? Saat melihat salju tebal pertama kalinya, saya baru menyadari bahwa pesona putih yang menutupi seluruh permukaan tanah sangatlah menggoda hasrat untuk bermain-main dengannya. Dari mulai berbaring di atas tumpukan salju yang empuk, membuat boneka salju yang lucu, bermain perang bola salju, hingga berseluncur dari atas landaian salju maupun di danau yang membeku.

Saya perhatikan bahwa masyarakat Belanda juga menikmati permainan-permainan ini. Mereka berkumpul di taman-taman kota, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa bermain salju di saat cuaca cerah. Meskipun namanya musim dingin, matahari juga bersinar sesekali.
Ternyata salju juga tidak menyenangkan loh! Karena salju pertama turun begitu tebalnya, transportasi umum di Groningen tidak beroperasi keesokan harinya. Terpaksalah saya harus berjalan kaki ke kampus karena hari itu kuliah terakhir di semester satu.

Mungkin karena terlalu lama bermain salju pada hari itu dan baru pertama kali bersentuhan dengan temperatur di bawah nol derajat Celcius, saya mengalami sesak di dada dan tubuh yang ngilu-ngilu selama dua hari. Untunglah setelah beristirahat di dalam rumah selama dua hari, sakit itu hilang dan tubuh mulai bisa bersentuhan dengan dingin yang menggigit asalkan selalu memakai perlengkapan yang memadai kala keluar rumah.

Dalam beberapa hari, salju yang mulanya begitu lembut dan dingin akan mengeras dan menjadi licin. Rupanya salju yang mulai berwarna bening itu sangatlah licin dan tidak dianjurkan berjalan atau bersepeda di atasnya. Saya sampai tergelincir dan terjatuh saat berjalan di atas salju tersebut. Untungnya saya tidak terluka.

Hal yang paling tidak mengasyikkan di musim dingin adalah badai salju. Saat badai, salju turun dengan derasnya disertai angin yang lumayan kencang. Bukan saja membahayakan jiwa saat berjalan atau bersepeda maupun berkendaraan di kala badai, badai juga membuat kita terperangkap di dalam rumah seharian. Bahkan segala jenis transportasi darat dan udara di Belanda sempat tidak bisa beroperasi saat badai salju melanda kawasan Eropa di pekan ketiga Desember lalu.

Meskipun salju memberi pengalaman yang menyenangkan sekaligus tidak mengenakkan buat saya, saya tetap menikmati sengatan dinginnya sebagaimana saya menikmati sengatan panas matahari di Indonesia.

Susanah Agus, Groningen Januari 2010

#####

Badai Salju dan Pengalaman Terburuk di Belanda
Jan 5th, 2010
by pengalamanku.

Musim dingin di Belanda adalah pengalaman pertama saya melihat salju secara langsung. Menyaksikan butir-butir salju berjatuhan di balkon dan lanskap yang memutih sejauh mata memandang, semua sungguh tampak begitu indah.

Dua hari pertama salju turun, saya berusaha menikmati pemandangan di mana-mana. Saya ke Amsterdam, keliling pusat kota Utrecht, dan bersepeda di sekitar Zeist.
Akan tetapi, salju sebenarnya juga menyimpan cerita buruk. Dan saya juga telah benar-benar mengalaminya—di saat yang sungguh tepat!

Kejadian itu terjadi satu hari setelah badai salju yang melanda Belanda. Minggu, 20 Desember, salju turun sepanjang hari sehingga ketebalan salju di balkon saya hampir mencapai 30 cm! Menurut berita di situs Radio Nederland, Badai salju yang turun di beberapa negara Eropa ini memang telah memakan cukup banyak korban.

Saya juga menjadi korban keesokan harinya, saat saya hendak berangkat liburan ke Frankfurt dengan menggunakan bus Eurolines dari Utrecht CS. Menurut jadwal dan tiket yang saya pegang, bus Eurolines ke Frankfurt akan berangkat pukul 09.45 dari Utrecht CS. Jadi, pukul 8.30 saya sudah menuju Utrecht CS dan tiba di halte bus Eurolines di Jaarbeursplein pada pukul 09.00.

Halte bus Eurolines satu komplek dengan halte bus-bus antarkota lain di sisi barat Utrecht CS itu. Kabar buruknya: tak ada tempat duduk untuk orang-orang yang menunggu di ruang terbuka itu. Jalanan, pohon-pohon yang meranggas, sepeda yang diparkir cukup lama, semua memutih akibat badai salju kemarin. Putih dan tebal. Butir-butir salju di pepohonan itu sesekali tertiup angin dan jatuh ke bawah.

Saya berdiri saja di halte Eurolines bersama beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Tas punggung saya tak dilepas. Tak lama setelah saya di situ, 4 mahasiswa Indonesia dari Deventer juga tiba di halte tersebut. Mereka mau berlibur ke Paris dan juga menggunakan Eurolines.

Waktu berjalan melambat saat menunggu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 pas. Saya menunggu dengan agak cemas, karena udara dingin di situ seperti sudah sulit ditahan. Yang paling terasa adalah kaki dan tangan—agak kaku, seperti mau membeku. Karena itu, sesekali saya pindah ke tempat lain yang tak bersalju, agar sepatu tak bersentuhan langsung dengan salju tebal itu. Tapi tetap saja. Karena dingin telah menyebar ke mana-mana.

Saat pukul sebelas tampak ada bus Eurolines masuk ke area Jaarbeurs, saya berharap ini adalah bus ke Jerman. Ternyata itu bus ke Paris.
Jelang pukul 12, saya sudah tak tahan dengan dingin dan penantian yang serba tak jelas itu. Saya heran, mengapa tak ada kabar dari Eurolines. Saya sudah mencoba menelepon nomor kantor Eurolines di Amsterdam, tapi saya harus antre panjang di jalur telepon itu sehingga saya akhiri saja. Akhirnya saya pun masuk ke komplek Utrecht CS. Mungkin bisa sedikit menghangatkan badan, pikir saya, dan sekalian untuk ke toilet.

Setelah dari toilet, saya duduk-duduk di ruang tunggu Utrecht CS, tepatnya di dekat Blue Screen, papan jadwal kereta. Sambil menikmati segelas kopi, saya kembali mencoba menghubungi kantor Eurolines. Akhirnya, meski berada di antrean ketujuh belas, saya menunggu. Setelah menunggu sekitar 15 menit dengan agak gelisah karena khawatir pulsa terkuras habis, akhirnya saya tersambung dengan operator.

Dan ini dia kabar buruknya: setelah diperiksa, si petugas mengabarkan bahwa bus Eurolines ke Frankfurt baru saja meninggalkan Utrecht! Saya pun menerangkan bahwa saya telah menunggu di halte selama hampir 3 jam, dan tak ada kabar apa pun, sampai akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke Utrecht CS karena sudah tak kuat menahan udara dingin. Si petugas menjelaskan bahwa hari itu semua jadwal bus menjadi kacau karena badai salju.

Tapi saya tetap saja heran: apa gunanya saya memberi nomor telepon saya di formulir pemesanan tiket jika dalam situasi darurat seperti ini saya sama sekali tak mendapat kabar! Memang sih, tiket Eurolines itu hitungannya bisa relatif murah. Tapi kan itu bukan alasan untuk membuat penumpang terlantar kedinginan. Satu-satunya jalan keluar adalah menunggu bus berikutnya. Dan itu, paling cepat, pukul tiga sore. Saya harus bersabar dan bertahan di tengah cuaca dingin.

Akhirnya, pukul empat kurang seperempat saya sudah berada di dalam bus Eurolines ke Frankfurt. Gara-gara badai salju, saya sudah terhukum kedinginan di Utrecht CS menunggu bus. Sungguh ini adalah pengalaman terburuk saya selama di Belanda.

M.Mushthafa
Zeist, 4 Januari 2010, 12.00

######

Salju??? Saljuuuu!!!!
Jan 5th, 2010
by pengalamanku.

Salju. Satu kata yang merupakan salah satu motivasiku belajar ke Belanda sini. Saat pertama turun, teriak-teriak manggil teman-teman, dan lari keluar housing, jingkrak-jingkrak.

Hahahaa, norak memang, tapi saat itu gak mikir lagi. Yang penting niat merasakan salju udah kesampaian. Lalu ke kamar, berganti pakaian dan bersiap-siap pergi karena memang ada rencana keluar. Sambil naik sepeda ke sentrum buat belanja logistik, senyum-senyum sendiri menyambut si putih yang turun (walau kalau mau jujur, saat itu mikir ini salju kok kayak ketombe sih, hehee..).

Begitu malam tiba, berdoa supaya besok salju masih turun, karena belum puas menikmati salju yang baru turun sedikit, walau hujan salju sempat lebat sebentar. Begitu bangun keesokan harinya, doa pun terkabul. Salju menumpuk tebal!

Pergi kuliah jalan kaki, karena tidak berani mengambil risiko tergelincir waktu naik sepeda. Rute yang biasanya ditempuh sekitar setengah jam berjalan kaki dari housing ke kampus, jadi satu setengah jam! Kenapa? Karena berjalan sambil mempertaruhkan nyawa (hahahaa, lebay!). Gara-garanya memakai sepatu Inuit (dulunya disebut Eskimo, red.) yang hangat dan murah meriah, bukan sepatu sneakers yang biasa dipakai. Pertimbangannya, sepatu sneakers tidak akan tahan menghadapi salju, kaki pasti kedinginan dengan segera.

Ternyata pertimbangan itu salah! Sepatu Inuit ini memberi kehangatan tapi tidak keselamatan saudara-saudara. Licinnya minta ampun! Akibatnya, beberapa kali tergelincir dan jatuh. Belum lagi melonjaknya persentase terpeleset di jalan.

Dengan berjalan pelan-pelan, nyampe juga ke halte bis. Setelah menunggu dengan manis selama 15 sampe 20 menit, ternyata bis tidak muncul-muncul juga. Akhirnya jalan kaki lagi bersama teman-teman ke stasiun, berharap menemukan bis. Setelah jalan setengah jam, halte bis kosong! Bis tidak jalan. Sambil menghela nafas, dan masih dengan euphoria menikmati salju, jalan kaki ke kampus tetap dinikmati walau cemas karena pasti terlambat masuk kelas. Foto-foto? Tidak dilupakan begitu saja. Ibarat sudah kecebur, ya mandi saja sekalian. Karena pasti telat dan berniat masuk pas paruh waktu kedua, ya sekalian lah meluangkan waktu untuk berfoto-foto. (meluangkan waktu? Haah!!).

Akhirnya nyampe juga ke kampus dengan selamat. Tingkat kegembiraan melonjak tinggi lagi, karena salju di kampus justru lebih tebal, dan ada pria berpakaian santa claus lewat. Langsung diajak foto tanpa malu-malu (sedikit mengabaikan fakta bahwa seharusnya kita segera masuk kelas, dan walau terlihat sepi, beberapa mahasiswa dan staf kampus ngeliatin kita dari dalam gedung dan diduga ketawa-ketawa ngeliatin tingkah norak kita, huehehehhee..).

Setelah puas dan selesai kuliah, kembali berjalan kaki. Tapi arah tujuan bukan balik ke housing, melainkan pasar. Walau hujan salju lumayan deras, kita benar-benar tidak melewatkan kesempatan menikmati salju seharian (sambil window shopping. Eh sebentar, “sambil”? Hahahaa..). Malamnya, langsung ngajak teman-temain main perang salju. Hasilnya? Basah kuyup karena main sampe tengah malam dan sangat gembira sampai-sampai rasa dingin pun tidak begitu dirasakan. Yang jelas, PUAS! Hehehee.. Tapi ini benar-benar pengalaman salju pertama yang jelas tidak akan bisa dilupakan dengan mudahnya (terutama bootsnya ;p).

Hesti Suarti
Groningen, 4 Januari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s