Menikmati Nasi Rames Rasa Rotterdam

Selasa, 09 Desember 2008 | 10:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Subuh berkabut, dingin mencekam tubuh. Angin musim gugur Oktober lalu meliuk-liukkan pepohonan. Dari Berlin, Jerman, bus EuroLine yang saya tumpangi terus melaju menuju pemberhentian terakhir: Stasiun Sentral Rotterdam. Di sejumlah kota yang dilintasi bus ini, sebagian penumpang turun. Satu-dua orang turun di Hannover, Jerman. Sebagian turun di Utrecht, Belanda. Paling banyak di Amsterdam, ibu kota Belanda. Sebagian yang lain turun di Den Haag.

Seorang perempuan Eropa berusia sekitar 40 tahun naik dari Den Haag.

Setelah 10 jam perjalanan darat yang cukup membikin penat itu, bus melewati bulevar. Huruf R besar menghadang mata di tengah jalan lebar nan rapi ini. Inilah Rotterdam, kota di Negeri Belanda, pelabuhan besar Eropa.

Di dalam bus tinggal bersisa tiga penumpang, dua penumpang orang Indonesia, saya dan teman sesama wartawan dari Jakarta. Satu lagi penumpang perempuan yang naik dari Den Haag. Pengemudi, orang Polandia, berbincang dengan pengemudi pengganti, sesama orang Polandia, dalam bahasa mereka.

Setelah melintasi jalan kota, bus berhenti. Karena belum pernah ke kota ini, kami berusaha yakin bahwa bus ini telah berhenti di Stasiun Sentral Rotterdam. Kami tidak bertanya kepada sopir Polandia itu karena mereka hanya bercakap bahasa ibu, Jerman dan Belanda. Kami tidak menguasai bahasa mereka. Pilihan untuk bertanya jatuh kepada perempuan kulit putih tersebut.

“Apakah benar bus telah berhenti di Stasiun Sentral,” tanya saya dalam bahasa Inggris. Jawaban dia, sungguh elok, dalam bahasa Indonesia. “Saya kira begitu,” katanya.

Kami pun segera berterima kasih dan meninggalkannya. Setelah bus hilang dari pengamatan, kami berdua terbahak-bahak sembari geleng kepala. “Tanya serius pakai bahasa Inggris, jawabnya bahasa Indonesia,” kata teman saya, nyengir. Rupanya perempuan bule itu mencuri dengar saat kami mengobrol dalam bahasa Indonesia.

***

Di gereja tua Pilgrime Mary, di hadapan altar bermahkota lukisan dinding Bunda Maria, belasan orang menunduk takzim. Mereka membisikkan kidung suci, memuja Tuhan yang agung. Rapatnya dinding gereja di kawasan Delfshaven, Rotterdam, itu dan pancaran hangat panel pemanas menghalau bekunya angin musim gugur Oktober lalu.

Suara dari dalam gereja itu seperti membangkitkan kenangan orang pada 400 tahun lalu. Saat itu, pada 1620, gereja ini menjadi tempat penahbisan banyak orang Eropa sebagai perantau yang akan berangkat ke Benua Amerika, untuk mencari penghidupan baru. Hijrah suci itu bernama Ekspedisi Mayflower Pilgrimage–yang dikenal juga dengan sebutan XPDC.

Kini rumah doa ini sekaligus menjadi museum dengan sebutan Pelgrimskerk. Banyak orang dari Amerika Serikat berkunjung ke sini untuk menyaksikan tempat para bapak pendahulu mereka memulai perjalanan ke benua sarat asa itu.

Gedung tersebut berderet dengan bangunan 1960-an lain yang masih terawat baik. Simbol burung dan tahun perjalanan para peziarah itu menempel di dinding luar. Sepuluh meter di depan gereja, jembatan petekan buka-tutup buatan 1700-an masih kukuh. Titian bercat hijau tua ini berkerangka baja dan berfondasi tatanan bata merah.

Masih di Delfshaven, di ujung jalan, setengah kilometer dari gereja ini, persis di pojok dua kanal bertemu bibir laut, berdiri rumah kincir angin buatan 1727, bernama Windkorenmolen De Distilleeketel. Dulu tempat ini merupakan salah satu dermaga untuk kapal-kapal barang dan penumpang. Sekarang daerah ini menjadi kawasan wisata penting, yang menyediakan kapal untuk pelesir.

Kincir tua ini jadi perlambang geliat kegiatan ekonomi pada abad itu, untuk melumatkan anggur, salah satu primadona pertanian. Selain itu, kincir ini bergerak untuk menggiling biji gandum, untuk menyokong tumbuhnya industri malt, sejenis minuman beralkohol ringan yang terbuat dari jelai atau beras Belanda yang dikecambahkan, lalu diolah dengan proses peragian.

Sekarang kincir angin ini menjadi museum dan kafe, melengkapi deretan kafe, bar, restoran, dan rumah tinggal di lorong tepi kanal. Kafe dalam bangunan kincir angin itu buka pada Rabu mulai pukul satu siang hingga lima sore. Pada hari Sabtu, tempat itu buka mulai pukul sepuluh pagi hingga empat sore.

Kami tiba menjelang kafe tutup. “Maaf, kami segera tutup,” kata lelaki bertubuh gempal, penjaga kincir angin.Spido, kapal motor untuk pesiar, membawa pelancong menyusuri Sungai Nieuw Maas dari dekat pusat Kota Rotterdam hingga ke muara. Nieuw Maas adalah anak sungai yang terbentuk di delta Sungai Rheine dan Sungai Meus, yang mengalir dari Jerman. Dari atas sungai, Rotterdam yang sesungguhnya bisa ditangkap. Sebuah kota dengan banyak kanal. Kota yang dibentuk dari empang yang mengering setelah laut dibendung. Kata “rotter” merujuk pada arti kolam dalam bahasa Indonesia dan “dam” adalah bendungan.

***

Kapal pelancong ini berongkos 9 euro per kepala. Lantai dasar kapal merupakan restoran berhawa hangat saat udara di luar dingin. Di anjungan, penumpang bisa menikmati leganya udara sembari memandang lepas sudut-sudut kota dari sisi sungai. Dekat Dermaga Spido, jembatan Erasmus atau Erasmusbrug sepanjang 808 meter melintang. Jembatan dengan rancangan kabel tarik ini salah satu ikon Rotterdam. Salah satu penggalan bisa dibuka untuk melintas kapal agar tidak menyundul badan jembatan.

Kapal terus bergerak. Rumah susun dan pertokoan bergaya arsitektur klasik menyimpan rahasia tua kota ini. Satu di antaranya mencolok mata, bertulisan “Dewi Sri”. Itulah restoran Indonesia yang cukup terkenal di Rotterdam. Di sisi kanan, di depan rumah bangunan itu, jalan raya memanjang rapi. Sisa hijau dedaunan masih terlihat, walau musim gugur telah tiba.

Siang itu, kapal memuat orang aneka bangsa. Tentu, penumpang orang Eropa paling banyak. Di antara mereka, wajah berbinar dua lelaki Asia Selatan dengan cambang lebat dan celana congklang. Seorang dari mereka menggandeng perempuan bercadar. Seperti penumpang lain, mereka tampak sungguh menikmati pesiar itu. Ahmed, seorang dari mereka, sibuk memotret dengan kamera telepon seluler. Giliran ingin nampang, ia berkata, “Pemandangan yang bagus, tolong jepretkan, ya.”

Sekumpulan angsa masih bisa bersenda-gurau. Burung-burung camar memilih hinggap di tanah kosong tepi dermaga. Sebagian di antaranya terbang ke angkasa, sembari sesekali mengumbar suara cuit.

Kapal kian menuju muara. Wajah kota bandar besar kian tegas. Peti kemas bertumpuk-tumpuk. Dermaga menjulur. Sebagian meliuk masuk ke bagian laut. Sebagian kapal berlabuh memuat barang, yang lain membongkar peti kemas. Hampir semua serba mesin. Sedikit orang berlalu-lalang dalam lautan peti kemas tersebut di pelabuhan yang oleh orang Belanda diklaim paling besar di dunia itu.

Lelah berjalan malam, kami mencari halte, menghadang bus yang akan menuju Stasiun Sentral. Seperempat jam menunggu, bus pun tiba. Bersih, mirip bus Transjakarta saat masih baru dua tahun lalu. Bus melaju, masuk terowongan jalur searah sepanjang 200 meter. Mendadak, dari arah berlawanan dua sedan mencuri jalur pintas. Sedan yang di depan segera mundur cepat dan kembali ke ujung terowongan. Sedan yang satunya lagi nekat. Si sopir sedan memberi tanda agar bus mau berbagi jalan.

Memang, kalau dipaksakan dengan cara mepet dinding terowongan dan jalan perlahan, bus dan sedan bisa melintas berlawanan. Tapi sopir bus sepertinya tidak mau berkompromi. Matanya terus melotot sambil menarik napas panjang-panjang. Ia keukeuh tidak mau jalan bus diserobot. Sejumlah penumpang memaki dalam bahasa Belanda. Penumpang lain menyemangati sopir bus agar tidak mau mengalah. Yang lain senyum-senyum. Sopir sedan tak punya pilihan. Balik kucing, jika tidak, polisi pasti segera menahannya. “Kok, masih ada di Rotterdam orang nyelonong, kayak di Jakarta,” kata kawan sesama dari Indonesia itu.

Akhir pekan di Rotterdam, kami menikmati pasar kaget di pelataran luas dekat Stasiun Blaak. Suasananya mirip pasar kaget di Indonesia. Cuma buka pada akhir pekan, pasar kaget ini menyediakan aneka kebutuhan sehari-hari, seperti aneka sayur, bumbu dapur, mi instan, dan barang-barang Indonesia. Yang berjualan pun aneka ras dan aneka bangsa dunia. Seperti orang-orang Minang yang membuka pasar tenda di Jakarta, mereka juga giat bersaing berteriak mempromosikan barangnya. “Mumpung murah, mumpung ada. Ayo, siapa lagi….”

Di lorong yang berujung di pasar krempyeng itu, berjajar toko dan rumah makan. Ada dua warung makan Jawa Suriname, salah satunya warung Miroso. Sebagai sesama orang Jawa, saya penasaran ingin menikmati masakan saudara sebangsa tapi beda negara itu. Keramahan Jawa pun segera menyambut begitu kaki masih melangkah di pintu. “Halo Indonesia, piye kabare?”

Daftar menu menampilkan masakan yang benar-benar akrab untuk orang Jawa. Nasi pecel, nasi rames, nasi rawon, nasi goreng dan sejenisnya, plus minuman Jawa, misalnya es cendol. Kursi dan meja juga bersentuhan Jawa. Untuk mengingatkan suasana desa, salah satu sisi dinding berlukis jumbo perempuan berkebaya memanen padi, lengkap dengan pohon pisang dan bukit di latar belakangnya.

Saya memilih nasi rames. Bukan karena favorit, tapi melunasi rasa penasaran. Teman saya memilih nasi goreng, juga untuk membayar rasa ingin tahu. Seperempat jam kemudian, masakan terhidang. Nasi rames yang saya bayangkan tak seindah nasi rames Surabaya atau Solo. Rames Jawa Suriname campuran nasi goreng, pecel bumbu kacang, dan dua potong ayam goreng. Rasanya, kurang berani bumbu dan tidak se-“mirasa” masakan Jawa di Indonesia.

Sambil makan, tembang langgam Jawa menemani. Untuk menambah kehangatan perjumpaan sebagai sesama orang Jawa, pemilik warung mengenalkan diri. Ia bernama Sadrah. Ia menyebut namanya jenis nama kuli karena masih nama Jawa asli. Bapaknya bernama Damu, lelaki Jawa kelahiran Deli, Sumatera Utara, yang menikah dengan perempuan India. Orang tua Sadrah tinggal di Suriname. “Sepurane, Jawa-ku ngoko. Aku ora iso bahasa Indonesia. Aku wis tau lungo Sumatera, nyekar kuburane mbahku.”

Dasar lapar, makanan dalam piring porsi besar itu habis juga.

Sebelum kami pamitan, Sadrah bertanya, “Piye mangane, enak to?”

“Nggih!” jawab kami serempak.

Sunudyantoro,Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s