Becak Belanda Lebih Canggih dan Nyaman

Diterbitkan : 13 Oktober 2009 – 1:06pm | Oleh Eka Tanjung
Untuk memasarkan becak di Belanda, Martin Jeuken harus keluar modal besar. Becak yang diimpor dari Indonesia kwalitasnya belum memadai dan harus banyak dirombak.

Ketika menyaksikan becak seliweran di jalan-jalan Yogyakarta, Martin Jeuken langsung tertarik membawanya ke Belanda. Di negerinya belum ada becak di jalan yang mulus dan datar. Dia berfikir: “Betapa indahnya kalau menjadi orang pertama yang memasukkan becak ke Belanda.”

Hambatan
Ternyata impian itu tidak begitu saja bisa menjadi kenyataan. Setelah dijalani ia baru menyadari banyak hambatan yang harus dilewati.

Pabrik Becak?
Ia kesulitan menemukan pabrik becak. Walaupun di Indonesia ada ribuan becak menggelinding di jalanan, tetapi ternyata semuanya buatan rumahan. Tidak ada pabrik khusus membuat becak. Setelah mencari beberapa bulan dan tanya sana-sini, akhirnya ia menemukan satu home industry becak di Yogya.

Kwalitas
Ia kaget kwalitas becak di Indonesia sangat rendah. Besinya mudah karatan dan kayunya mudah pecah. Itu kurang memadai standar Belanda yang memiliki empat musim. Sambungan lasnya kasar. Lewat negosiasi panjang dengan pengrajin akhirnya disepakati menggunakan matrial yang lebih baik.

Untuk bisa menggelinding di Belanda harus memenuhi berbagai persyaratan. Martin harus melakukan perombakan. Ukuran bangkunya diperlebar 8 cm. Standar tempat duduk becak Indonesia 72 cm, menjadi 80 cm. “Supaya cukup untuk dua bokong Belanda yang relatif lebih besar dari rata-rata di Indonesia” kata Martin.

Demi keamanan dan kenyamanan, becak-becak itu harus menjalani kir dan modifikasi:

* Atapnya diperlebar dan dipertinggi, karena sang pembuat di Indonesia ‘lupa’ nambah 8 cm.
* Gir depannya diperkecil untuk meringankan gayuhan.
* Pakai sistem 3 versneleng, untuk kenyamanan.
* Sisa las sambungan diperhalus.
* Dua rantai di bawah jok untuk menjaga agar tidak nikung terlalu tajam.

Entrepreneur yang sebenarnya bisnis di keramik hiasan taman ini tidak habis pikir becak di Indonesia tidak pernah mengikuti perkembangan zaman. “Mengapa tidak terpikirkan untuk menjadikan alat angkut ‘unik’ itu lebih nyaman bagi pengengayuh dan penumpang?”

Tidak Maju
Untuk memodifikasi satu becak, dibutuhkan 10 jam-kerja seorang ahli sepeda. Dalam dua tahun Martin sudah mendatangkan 50 unit becak. Sebagian besar sudah terjual dengan harga 1300 euro, sekitar 18 juta rupiah sebuah. Terkesan mahal, tapi dikurangi ongkos produksi, transportasi, modifikasi, Martin tidak banyak meraup untung dari becak.
“Dan tarif reparasinnya cukup tinggi. Impor becak ini tidak memberikan keuntungan, hanya menghilangkan penasaran saja,” ungkap Martin Jeuken si importir.

Becak, bukan barang asing lagi di kawasan pantai Castricum Belanda Utara. Sejak dua tahun seorang Belanda -bule gitu- mengantar wisatawan menikmati keindahan alam dari atas roda tiga.
Peter Samuel 63 tahun ini awalnya hanya iseng saja mencari alat angkut tanpa motor untuk menyalurkan hobbynya. Ia ingin sesuatu yang ‘tidak biasa’.

Mangkal
Akhirnya dia bertemu Martin Jeuken importir becak yang tinggal di Someren Belanda Selatan. Sejak setahun setengah ia menawarkan trayek keliling bukit pasir pada wisatawan. Antara April sampai September ia mangkal di Restauran Johanna’s Hof di Castricum.

Dengan harga 17,50 euro perjam ia mengajak tamu mencicipi suasana Indonesia di Belanda. Walaupun sebenarnya ia belum pernah ke Indonesia dan melihat becak di jalanan Yogyakarta.

Antusias
Para penumpang sangat antusias dengan tour keliling. Peter dengan bangga memamerkan komentar dan pujian dari para pelanggan yang tertuang dalam buku tamu. Bahkan media nasional dan regional menyoroti kegiatan Peter ini. Penduduk setempat juga mengenal Peter sebagai tukang becak.

Peter yakin becak bisa diterima di setiap obyek wisata Belanda. Martin si improtir ikut gembira mendengar sambutan antusias tentang becak ‘nya’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s