Kincir Angin, Riwayatmu Dulu

Oleh Dian Kusumawati dan Meditya Wasesa

Di balik keindahannya, kincir angin memiliki peran dalam era kolonialisasi.

Pernah ke Kinderdijk atau Zaansche Schans? Dua tempat tersebut sangat populer untuk melihat kincir angin yang masih tersisa di Belanda. Jika dulu setiap dua ribu orang terdapat satu kincir angin, sekarang di Belanda hanya tersisa sekitar 100 kincir angin yang sengaja dilestarikan. Mari kita melihat sejarah kincir angin ini dan hubungannya dengan penjajahan di negara kita.

Kincir angin secara umum bisa dikategorikan berdasarkan tampilan dan fungsinya. Berdasarkan fungsinya, kincir angin dibagi tiga kategori: kincir angin penggiling jagung, kincir angin pengeringan air/lahan, dan kincir angin industri. Kincir angin yang terdapat di Kinderdijk adalah untuk pengeringan air/lahan, sedangkan yang di Zaanse Schans untuk keperluan industri.

Berdasarkan tampilan luarnya, kincir angin dibagi menjadi lima.

molen_standerdmolen

Pertama, Kincir Angin Standar (Standaardmolen/ Post Mill). Kincir angin jenis ini adalah jenis kincir angin tertua dan merupakan cikal bakal dari pengembangan kincir angin jenis lainnya. Kincir angin standar digunakan untuk pengeringan air/lahan. Saat ini terdapat tidak lebih dari 40 buah kincir angin standar di seluruh Belanda.

wipmolen

Kedua, Hollow Post Mill (Wipmolen). Ditemukan terutama di Belanda selatan dan Friesland, wipmolen hampir selalu digunakan untuk pengeringan air/lahan. Wipmolen merupakan pengembangan dari kincir angin standar. Kincir angin jenis ini biasanya dicat dengan warna yang sangat cerah sehingga terlihat mencolok, mengingat lokasi dari wipmolen yang biasa terdapat di dataran rendah. Pada awal abad ke-15, wipmolen berukuran kecil namun dalam perkembangannya wipmolen dibuat semakin besar. Pada umumnya, wipmolen ini juga dilengkapi dengan sarana tempat tinggal kecil di dalamnya.

poldermolen1

Ketiga, Kincir Angin Pengeringan Besar (Kloeke Poldermolen/Large Drainage or Polder Mill). Seiring dengan kebutuhan akan kincir angin berdaya besar, sekitar pertengahan abad ke-16, kincir angin pengeringan berdaya besar atau large polder mill dikembangkan di daerah perairan Belanda utara. Dibandingkan dengan wipmolen, bagian atas polder mill dibuat lebih kecil dan bagian badannya dibuat lebih besar sehingga dapat menghasilkan daya yang lebih besar. Sebagai konsekuensi dari modifikasi konstruksinya, ruangan yang tersedia untuk sarana tempat tinggal pun menjadi lebih besar.

poldermolen2

Keempat, Kincir Angin Bertingkat (Stellingmolen/ Tower Mill with a Stage). Kincir angin jenis ini adalah yang paling mudah dikenali dari ukuran dan tingginya. Jenis ini dikembangkan sekitar awal abad ke-17 dan digunakan untuk industri penggilingan jagung. Stellingmolen biasanya terdiri dari 6 atau 7 tingkat dan setiap tingkat digunakan untuk proses penggilingan jagung yang berbeda. Lantai pertama dan kedua biasanya digunakan untuk tempat tinggal.

molentingkat

Kelima, Paltrok Molen. Paltrokmolen dikembangkan di daerah Zaan yang dikenal sebagai tempat pembuatan rumah kayu dan kapal. Oleh karena itu, kincir angin ini umumnya digunakan untuk industri penggergajian kayu. Kincir angin serupa juga biasa digunakan untuk jenis industri lain, misalnya untuk industri kertas atau minyak. Biasanya perbedaan terletak pada konstruksi interiornya.

polen

Matinya Kincir Angin di Belanda

Kincir angin pertama mulai dikembangkan sekitar tahun 1200–khusus kincir angin untuk pengeringan air dikembangkan pertama kali tahun 1414. Tahun 1850, penggunaan kincir angin berada di puncak kejayaannya, jumlahnya mencapai 9000 buah saat itu. Setelah 1850, jumlah kincir angin semakin berkurang seiring dengan berkembangnya teknologi.

Penemuan mesin uap oleh James Watt memicu punahnya kincir angin di Belanda. Stasiun pompa (pumping station) bertenaga mesin uap pertama di Belanda terdapat di tahun 1825, yang digunakan untuk pengeringan Zuidplaspolder. Meski masyarakat Belanda awalnya ragu akan keamanan penggunaan stasiun pemompa air bermesin uap sebagai pengganti kincir angin pengeringan (poldermolen), kebutuhan untuk mengeringkan dan mereklamasi danau besar Harleem tidak memberikan pilihan lain. Menggunakan tiga buah mesin uap, Danau Harleem berhasil dikeringkan dalam jangka waktu empat tahun (1848-1852).

Seiring berjalannya waktu, popularitas mesin uap meningkat. Lambat laun masyarakat mulai merasa ketinggalan zaman jika tidak menggunakan mesin uap. Akhirnya penggunaan stasiun pemompa air bertenaga mesin uap berhasil menggantikan penggunaan kincir angin tradisional. Hal serupa terjadi juga pada kincir angin industri. Banyak pabrik bertenaga mesin uap didirikan sehingga penggunaan kincir angin semakin ditinggalkan, bahkan beberapa kincir angin industri juga dialih fungsikan menjadi pabrik bermesin uap. Akibat dari kondisi ini, pada akhir abad ke-19 hanya tersisa tidak lebih dari 2500 kincir angin di Belanda.

woudapumping

D.F Wouda Pumping Station di Lemmer, provinsi Friesland, dengan cerobong uapnya, yang didirikan tahun 1920 dan merupakan pumping station bermesin uap terbesar dan masih beroperasi hingga sekarang.

Penemuan motor listrik pada awal abad ke-20 semakin mematikan keberadaan kincir angin, baik kincir angin pengeringan maupun industri. Dataran rendah yang belum menggunakan mesin uap (pumping station) menggantikan fungsi kincir angin pengeringan dengan stasiun pemompa bertenaga listrik. Misalnya, proyek pengeringan Hazerswoude (1913) menggunakan tiga stasiun pemompa bertenaga listrik dan mematikan 15 kincir angin di kompleks tersebut. Tahun 1927, sebanyak 50 kincir angin pengeringan yang digunakan di Schelmerpolder dihancurkan dan diganti dengan metode pengeringan mekanis.

Semakin lama semakin banyak kincir angin yang tidak lagi berfungsi, bahkan dihancurkan. Hal ini menginisiasi berdirinya asosiasi preservasi kincir angin, pergerakan Dutch Windmill Society atau De Hollandsche molen, Vereeniging tot Behoud van Molens in Nederland, di tahun 1923 oleh warga Belanda yang peduli akan kelestarian kincir angina. Asosiasi inilah yang memperjuangkan kelestarian kincir angin sehingga saat ini kita masih bisa menyaksikan beberapa kincir angin sebagai peninggalan sejarah.

Kincir angin bisa dianggap sebagai monumen simbol peperangan negara Belanda terhadap musuh utamanya, yaitu air. Jika 1000 tahun sebelum Masehi Belanda tidak bisa ditinggali karena terbatasnya daratan kering, maka atas perkembangan kincir angin pada tahun 1400, Belanda mulai berhasil dalam usahanya mereklamasi lahan. Seiring dengan waktu, kincir angin pun ikut berevolusi meyesuaikan diri dengan tuntutan zamannya.

Hingga puncak kejayaannya sekitar pertengahan abad ke-19, kincir angin memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan industri, termasuk industri-industri pengolah bahan bahan mentah hasil pendudukan negara-negara jajahan Belanda. Namun dengan berkembangnya waktu dan teknologi, penggunaan kincir angin pun menyurut karena tidak lagi mampu memenuhi tuntutan kebutuhan warga Belanda yang semakin berkembang. ***

Dian Kusumawati dan Meditya Wasesa, redaksi Jong Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s